IMAMKU ADALAH GURUKU

IMAMKU ADALAH GURUKU
Part 7


__ADS_3

"Mas-Mas, bangun! udah sampai." Colek Kila.


"Hah? udah sampai?" tanya Egi.


"Nya tos nepi Kang." Ucap supir truk.


Akhirnya, Egi dan Kila turun dari atas truk. Egi dan Kila berterima kasih pada pemilik mobil truk itu.


"Nuhun nya Kang rek bantu nepi ti Jakarta. Ieu jieun Akang!" ucap Egi memberi sedikit uang pada supir truk.


"Kedah Kang, kedah!" ucap supir truk menolaknya


"Teu naonan Kang rezeki jieun Akang, pamajikan, budak Akang jajan." Ucap Egi.


"Nuhun Kang, Nuhun nya Neng!" Ucap supir truk berterima kasih.


"Sami-sami Kang, nuhun oge nya!" ucap Kila.


"Mas, kita aneh gak sih, kita dari Bandung tapi aku manggil suami Mas." Ucap Kila.


"Gak masalah. Kamu mau panggil saya Akang, atau Mas. Asalkan satu, jangan pakai nama!" minta Egi.


"Iya Mas! sekarang kita naik apa?" tanya Kila.


"Angkutan umum." Ucap Egi.


"Astaghfirullah, Mas! benar-benar tega yah! masa kita mau naik angkutan umum? cari taxi kek, apa kek! gak lihat apa, kaki aku udah merah-merah gini, badan sakit!" ucap Kila.


"Dengarin saya! saya bukan orang kaya, saya bukan pekerja kantor! tolong, kalau nurut sama suami!" ucap Egi.


"Tahu ah! tersiksa tahu gak! udah bau kambing gini baju. Rasanya mau nangis." Ucap Kila.


"Kamu bisa sabar gak? cepatan naik!" minta Egi.


****


Akhirnya, Egi dan Kila sampai rumah. Kila kaget melihat rumah Egi yang rombeng dan kecil. Kila syok, sedih dan menangis.


"Ini rumah saya!" ucap Egi.


"Apa? ini Mas? ini rumah yang kamu beli untuk aku?" tanya Kila.


"Iya, kenapa emangnya? rumah saya jelek? rombeng? beda sama rumah kamu yang di kampung? hah?" tanya Egi.


"Bukan gitu Mas, kita tinggal di Jakarta. Masa kaya gini sih, ya Allah. Hiks-hiks-hiks...." ucap Kila menangis.


"Kamu nyesal? kalau nyesal kita pulang! saya balikin kamu ke orang tua kamu!" ucap Egi.


"Bukan gitu Mas, aku gak biasa aja rumah kaya gini!" ucap Kila.


"Saya bukan orang kaya, saya bukan pengusaha, keadaan saya begini. Kalau kamu mau hidup sama saya ayo kita jalanin sama-sama! kalau enggak, ya udah, aku balikin kamu ke kampung!" ucap Egi.

__ADS_1


"Tega kamu Mas, bilang kaya gitu! kamu mau nyakitin hati kedua orang tuaku dan Ibu kamu? hiks-hiks-hiks...." Kila menangis.


"Bukan maksud saya seperti itu Kila, aku gak mau kamu nyesal aja hidup sama saya seperti ini! saya mohon sama kamu, jalanin yah! sabar." Ucap Egi.


"Ya udah, mau gimana lagi. Aku udah terlanjur nikah sama kamu juga." Ucap Kila.


"Wah, Egi istrinya ya Gi?" tanya tetangga.


"Iya Bu, istri saya. Maaf nih, nikah gak bilang-bilang, karena emang nikah di kampung Bu." Ucap Egi.


"Gak apa-apa, Istrinya cantik, mungil lagi." Ucap Ibu tetangga.


"Makasih Bu." Ucap Kila tersenyum.


"Udah Gi, ajak masuk dong! masa di luar aja! he-he-he..." ucap Ibu tetangga.


"Iya Bu, ha-ha-ha... ayo!" ajak Egi.


Egi memberi tahu kamar mereka, dapur, ruang tamu, dan kamar mandi yang masih menggunakan timba kerek.


"Ini ruang tamu, ini kamar kita, kamu lihat dulu!" ucap Egi.


"Mas, ini kamar kita? kasurnya gak jebol Mas? sempit banget lagi, aku gak mau dengan kasur yang sempit ini kamu macam-macam sama aku. Bau lagi, kamu gak pernah cuci yah?" tanya Kila.


"Terus, kamu mau tidur di mana? di ruang tamu? udah tidur sama saya di sini! ya, kamu lah yang cuci, kamu kan istri saya!" ucap Egi.


"Aku yang cuci ini? ogah!" ucap Kila.


"Mau protes kamu? protes, saya bakal aduin sama Ayah!" ucap Egi.


"Nanti, aku yang bantu!" ucap Egi.


Ya Allah, kok aku hidup sengsara gini sih. Ayah tega, nikahin aku sama orang kaya gini.


"Mau bersih-bersih gak? ganti baju, mandi!" ucap Egi.


"Di mana kamar mandinya?" tanya Kila.


"Ini handuk pegang! ayo!" ajak Egi.


"Kok di luar?" tanya Egi.


"Iya di luar, ini kamar mandinya, terus kalau mau ambil air kamu timba." Ucap Egi.


"Astaghfirullah, ini kampung apa kota Mas? heran aku mah ih! kamar mandi gini banget sih, kalau ada yang intip gimana? terus cara timba air gimana? aku gak bisa! masih ada aja di kota yang tahan kaya gini! aaahhh... sebal!" ucap Kila.


"Udah ngocehnya? biarkan saya bicara! saya coba masuk kamar mandi. Terus, kamu coba lihat! kelihatan saya gak! cepat!" ucap Egi.


Enggak sih, he-he-he...


"Gimana? kelihatan gak?" tanya Egi.

__ADS_1


"Enggak." Ucap Kila.


"Ya udah, jadi kamu gak usah takut lagi! sekarang nimba! sini!" tarik Egi.


"Ngapain?" tanya Kila.


"Belajar nimba!" ucap Egi.


"Gak mau! seram. Kamu lihat tuh Mas, tinggi banget. Kalau aku nyemplung gimana?" tanya Kila.


"Ya enggak lah! mangkanya hati-hati! cepat sini!" perintah Egi.


"Takut!" ucap Kila.


"Enggak! sini! pegang tambang! biarin dia jalan sampai embernya nyemplung, nanti kamu timba deh!" ajari Egi.


"Coba Mas! tanggung jawab kalau aku mati!" ucap Kila.


"Ha-ha-ha.... enggaklah!" ucap Egi.


"Haduh-duh-duh, Mas! aku ngeri!" ucap Kila.


"Tahan! sampai airnya dapat. Terus kamu tarik pelan-pelan. Kuat gak!" ucap Egi tersenyum.


Kila, kamu yang sabar yah! sebenarnya, bukan rumah ini yang aku kasih ke kamu. Ini hanya rumah peninggalan Kakek saya. Ada rumah yang lebih bagus dari ini untuk kamu, saya berjanji sama Ayah kamu, untuk mengajari kamu hal sederhana dulu. Biar kamu bisa mandiri, gak manja. Gak bergantung pada orang lain. Ini semua suruhan Ayah kamu. Maafin saya belum bisa bilang dan jujur. Setelah kamu mandiri, berubah dan cinta sama saya, baru saya akan bilang sama kamu yang sebenarnya.


"Kok kamu melamun aja Mas? ini udah." Ucap Kila.


"Hah? iya. Pintar, udah bisa kan? ha-ha-ha-ha..... kamu lucu! Ha-ha-ha......lucu!" Egi tertawa terbahak-bahak.


"Idih-idih, kenapa sih? lucu kenapa? aku cubit nih!" ucap Kila.


"Sebentar, aku ambil kaca!" ucap Egi.


"Mau ngapain?" tanya Kila.


"Ini kamu lihat!" ucap Egi.


"Hah? iiiihhhh... kamu jahat Mas! kamu ngerjain aku yah! hah? kamu ngerjain!" ucap Kila menggelitiki Egi.


"Geli-geli! Kila! cukup-cukup!" ucap Egi terpeleset dan menarik Kila sampai akhirnya jatuh ke ubin kamar mandi. Kila langsung menahan senyum dan pura-pura marah.


"Lepasin! jangan cari-cari kesempatan deh Mas!" ucap Kila.


"Siapa yang cari kesempatan? orang saya terpeleset kena kamu! lagian kamu gelitikin saya! salah kamu sendiri!" ucap Egi tersenyum.


Bersambung...


Terima kasih atas dukungan kalian semua, readersku dan teman- teman udah setia ikutin cerita Imamku Adalah Guruku, semoga ceritanya bisa menghibur dan gak ngebosenin ya, di tunggu episode selanjutnya 🥰🥰🥰


Sambil menunggu up cerita Imamku Adalah Guruku, mampir yuk ke cerita romantis aku lainnya gak kalah seru dan romantis banget cekidot 🥰🥰🥰

__ADS_1


CINTA HAFISA



__ADS_2