Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Hilang ingatan atau Tidak Sama Saja


__ADS_3

“Mami bicara seperti itu ke kamu?” 


Raut sedih yang tergambar jelas dalam tatapan Maysha membuat Arlan ikut meradang. Laki-laki itu seketika bangkit dari posisi duduknya dengan menahan amarah. Sementara Maysha memilih diam, tak pula mengadukan perbuatan mami yang terlampau menyakiti hatinya. 


Bukan hanya melepas semua foto pernikahan yang ada di rumah, mami juga mengatakan hal menyakitkan kepada Maysha. Termasuk meminta Maysha menggugat cerai Arlan.


“Aku akan bicara dengan mami,” tambah Arlan. 


“Tidak usah, Mas!” tolak Maysha cepat. “Aku bisa mengerti kenapa mami tidak menyetujui pernikahan kita sejak awal dan itu bukan salahnya.” Sebisa mungkin Maysha menahan air mata agar tak jatuh membasahi pipi. 


Di titik ini Arlan semakin dipenuhi pertanyaan tentang alasan yang mendasari sehingga maminya tidak menyetujui pernikahan mereka. Andre pun pernah memberitahu perihal tersebut, namun tak menyebutkan alasan secara spesifik. Hingga menimbulkan banyak tanda tanya di pikiran Arlan. 


“Boleh aku tanya sesuatu?” 


Mendongakkan kepala, Maysha menatap suaminya yang kini kembali duduk di tepi tempat tidur. “Mau tanya soal apa?” 

__ADS_1


“Apa yang membuat mami menentang pernikahan kita? Pasti ada alasan kuat, kan?” 


Maysha seketika mengatupkan bibir rapat. Tampak enggan menjawab, lebih tepatnya tak sanggup. Dalam hitungan detik bola matanya yang sayu sudah tergenang cairan bening. 


Melihat reaksi istrinya, Arlan dapat menyimpulkan sendiri bahwa telah terjadi sesuatu di masa lalu yang cukup rumit. Ia pun tak ingin menambah beban pikiran istrinya itu. Apalagi saat ini kondisi fisik Maysha masih cukup lemah dan Arlan tidak ingin masalah ini menambah beban bagi Maysha. 


“Kalau belum mau cerita tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa.” Tangan lelaki itu terangkat dan membelai puncak kepala sang istri. “Sekarang istirahat, ya. Aku mau ke kamar sebelah, mau mandi dan ganti baju dulu.”


Arlan mengusap ujung mata Maysha yang tampak basah. Kemudian membantunya untuk berbaring dan memakaikan selimut. 


Setelah memastikan Maysha sedikit lebih tenang, ia segera keluar kamar. Hendak mencari Bik Wiwin untuk menanyakan perihal kedatangan mami dan juga ke mana mami membuang semua foto pernikahan mereka, sebab Arlan ingin memasang foto-foto itu kembali. 


Namun, saat melewati tangga, terlihat Bik Wiwin berjalan mendahului dua orang di belakangnya. Sudut mata Arlan nyaris berkerut menatap kedua orang itu. 


“Den, Dokter Mario sama Dokter Michella datang. Katanya mau besuk Non Maysha,” ucap Bik Wiwin. 

__ADS_1


“Istri saya sedang istirahat di kamar,” jawabnya sedikit menekan. 


Dari nada bicara Arlan, Mario dapat membaca bahwa Arlan tak begitu menyukai kedatangannya ke rumah itu. Apalagi untuk menemui Maysha.


“Aku datang bersama Dokter Michella untuk melihat keadaan Maysha.” Mario segera menyela. “Oh ya, mungkin kamu lupa, Michella ini adalah sahabatnya Maysha sejak kecil. Dia anak pemilik rumah sakit tempat kami bekerja. Michella mau periksa keadaan Maysha sekalian.” 


Arlan menatap wanita kira-kira seumuran Maysha itu. “Kalau Dokter Michella boleh. Tapi—” 


“Aku tahu,” potong Mario lagi. “Aku akan tunggu di sini. Chell, titip ini saja, ya.” Mario menyerahkan sebuah paper bag kepada dokter cantik itu. Tadi Mereka menyempatkan diri mampir ke sebuah toko dan membeli bingkisan untuk Maysha. 


Mario kemudian melirik Arlan yang berdiri kokoh tepat di hadapannya.


Manusia satu ini hilang ingatan atau tidak kadar posesifnya tetap sama!


Begitu tatapan Mario berbicara.

__ADS_1


...****...


__ADS_2