
“Dimatikan! Ini pasti kerjaan si Arlan!” gerutu Dokter Allan dengan tatapan mengarah pada layar ponsel.
“Dasar mantu durjana memang dia!” tambah Pak Fred.
Dokter Allan membuang napas kasar, lalu melirik ke arah sofa, di mana dua orang wanita sedang duduk bersama.
“Tatapannya horor banget, Mas!” protes Bunda Giany. Tatapan sang suami membuat tubuhnya terasa meremang.
“Ini semua karena kalian! Bisa-bisanya kalian berkerja sama mendukung Arlan menculik Maysha!”
Bunda Giany melirik wanita di sebelahnya, seolah sedang meminta pertolongan. “Mbak Ayra, gimana sekarang?”
“Sudah, jangan pedulikan mereka!” ucap wanita itu, sambil melirik dua pria di depannya raut wajah tak kalah galaknya. “Penculikan? Siapa yang menculik siapa? Arlan itu suaminya Maysha, wajar kalau dia mau bawa istrinya jalan-jalan keluar negeri.”
“Caranya itu yang tidak wajar!” sambar Pak Fred. “Bagaimana, Lan? Kita susul aja ke sana. Kemana tadi? Turki, Cappadocia, kan?”
“Jangan gila kalian! Mereka sedang berbulan madu, loh. Masa mau disusul? Mau jadi obat nyamuk kalian?” gerutu ibu kandung Maysha itu.
“Kita ke sana bukan untuk jadi obat nyamuk, tapi untuk menjaga Maysha. Jangan sampai dia disakiti lagi sama si cecunguk Arlan itu!” Ayah sambung satu ini bahkan lebih posesif dibanding ayah kandung. Sebagai anak perempuan satu-satunya di keluarga mereka, tentu saja Maysha diperlakukan layaknya seorang putri. Siapapun yang berani mengganggu, akan berhadapan dengan dua ayah posesif.
__ADS_1
“Nah itu, baru benar!” imbuh Dokter Allan.
“Lagian Bunda sama Ibu ngapain kerja sama dengan Bang Arlan bawa pergi Kak Maysha?” gerutu Leon, salah satu adik lelaki Maysha.
“Kamu jadi ikut-ikutan memojokkan kita?” protes sang ibu. “Kenapa sih kalian semua seegois ini dan tidak memikirkan kebahagiaan Maysha?”
“Benar, kalian lupa bagaimana menderitanya kakak kalian saat ditinggal suaminya selama tiga tahun ini?” tambah Bunda Giany. Mulai gemas dengan kelakukan suami dan anak-anaknya.
Enam pria dewasa yang ada di ruangan itu seketika bungkam. Wanita memang suku ras terkuat di Bumi. Tidak pernah salah dan tidak akan pernah mengaku bersalah.
“Leon, Abie, Dewa, Arion ...,” panggil sang dokter.
“Iya, Ayah ...,” jawab mereka bersamaan.
Sepertinya ide kali ini masuk akal. Terakhir kali dua keluarga itu liburan bersama adalah lima tahun lalu, saat merayakan kelulusan Maysha.
“Ide bagus,” potong Bu Ayra secepat kilat. Matanya berbinar bahagia sambil memikirkan ke negara mana mereka akan liburan. “Bagusnya ke mana, ya? Giany, kamu ada ide nggak?”
“Bagaimana kalau kita keliling Eropa, Mbak? Aku dengar Kota Venesia itu indah dan romantis. Kita bisa naik gondola di sana,” ucapnya penuh semangat.
__ADS_1
“Bagus! Kalian yang happy naik gondola, aku yang gondok!” potong Dokter Allan kesal.
Dewa tertawa kecil mendengar gerutuan ayahnya. “Tenang, Yah. Banyak jalan menuju Roma! Kalau naik gondola bikin gondok, naik kereta gantung aja biar nggak jantungan!”
Tawa Bunda Giany hampir meledak. Ia masih ingat kejadian masa lalu ketika sedang liburan di luar negeri. Suaminya itu sempat syok saat naik kereta gantung sampai membuatnya berkeringat di tengah udara dingin. Namun, sang dokter yang terkenal gengsian itu tidak ingin ketahuan kalau sedang ketakutan.
“Aku setuju dengan ide kamu, Giany. Kita bisa mampir ke Paris juga.” Bu Ayra berseru penuh semangat. Kali ini ia akan menghabiskan uang suaminya dengan berbelanja apa saja.
“Memang kata siapa kita akan ke Eropa?” ucap sang dokter sambil melipat tangan di depan dada.
“Memangnya Mas mau ajak kita liburan ke mana?” tanya Bunda Giany.
“Naik balon udara di Cappadocia!”
Sontak dua wanita itu terbelalak.
“Dasar modus!”
*
__ADS_1
*
*