
Arlan terkekeh mengenang kejadian yang berlangsung hampir 10 tahun lalu itu. Masa di mana ia melakukan hal-hal gila untuk mendapatkan hati seorang Maysha Hadikusuma. Bahkan ia tak pernah peduli meskipun mami terus menentang dan menjelek-jelekkan Maysha dan keluarganya.
Bertahun-tahun dihabiskan Arlan untuk meyakinkan Maysha bahwa dirinyalah pilihan terbaik. Nahas, tiga tahun terlewati begitu saja dengan melupakan ratu dalam kehidupannya itu.
"Mau ke mana?" tanya Andre saat Arlan hendak membuka pintu mobil.
"Mau jemput Maysha lah. Memang mau apa lagi?" Arlan melirik arloji yang melingkari pergelangan tangannya. Ia masih memiliki waktu beberapa jam lagi untuk berangkat.
Beberapa waktu lalu, sebelum ingatannya pulih sepenuhnya, Arlan sempat meminta bantuan Andre menyiapkan kejutan untuk Maysha. Berupa perjalanan bulan madu keluar negeri. Dengan tujuan, bahwa mungkin bepergian berdua tanpa gangguan siapapun akan mampu mengembalikan memorinya yang hilang.
Niat baik Arlan pun mendapat dukungan penuh dari Andre. Meskipun Andre harus mengeluarkan dana yang tidak sedikit, karena sang bos meminta disiapkan perjalanan eksklusif dengan menyewa sebuah privat jet untuk pulang pergi. Dan menurut jadwal seharusnya mereka akan berangkat malam ini.
"Tapi kamu harus tahan emosi! Bicara dengan keluarganya Maysha baik-baik."
"Iya-iya, aku tahu!"
Arlan langsung turun dari mobil. Andre yang tidak ingin temannya membuat keributan di rumah orang terpaksa harus ikut turun dari mobil. Minimal ia bisa meminimalisir kekacauan yang nanti akan merugikan Arlan sendiri.
Dari gerbang kokoh yang masih tertutup rapat, terlihat dua orang pria sedang duduk di pos penjaga.
“Pak Amir, Pak Joko!” panggil Arlan.
Pak Amir dan Pak Joko mendekat dan membuka gerbang. Ia sempat terkejut melihat laki-laki di hadapannya.
"Loh, Den Arlan?"
Arlan tersenyum ramah. "Apa kabar, Pak?"
"Baik, Den!" Pak Amir yang tampak masih terkejut memandangi Arlan dari ujung kaki ke ujung kepala.
"Saya bukan hantu, Pak!"
"Hehe, maaf, Den. Saya hanya terkejut melihat Den Arlan. Soalnya selama ini semua orang sempat mengira Den Arlan sudah …." Ucapan Pak Amir terpotong.
"Saya mengerti, Pak." Arlan menepuk bahu pria itu. "Oh ya, istri saya ada di dalam?"
"Non Maysha ada, Den! Tadi pulang sama si bos. Silahkan masuk dulu!"
Arlan masih tersenyum ramah, sebelum akhirnya beranjak menuju pintu utama.
*
*
__ADS_1
*
Arlan menatap ke empat adik laki-laki Maysha yang menyambut kedatangannya tanpa senyum. Bahkan mereka terkesan sangat tidak ramah.
Suasana tegang pun tercipta. Namun, Arlan dapat memahami bahwa berita yang beredar beberapa hari ini tentang pernikahannya dengan Laura membuat ke empat adik iparnya itu geram.
Terlebih, beberapa hari sebelum pernikahan, Maysha sempat jatuh sakit hingga memutuskan untuk pulang ke rumah karena tidak tahan dengan kelakuan Laura.
"Saya ke sini mau bicara dengan Maysha dan menjernihkan masalah di antara kami." Tanpa basa-basi Arlan langsung mengutarakan tujuannya mendatangi rumah itu.
Dewa, salah satu adik Maysha melempar lirikan tajam. "Kak Maysha ada di kamarnya, tapi sudah tidur."
Kalimat singkat itu seolah menegaskan bahwa untuk malam ini Arlan tidak diperkenankan untuk menemui istrinya.
Arlan lantas melirik tiga adik lainnya, Abie, Leon dan Arion yang juga bersikap sama. Ia masih ingat beberapa tahun lalu ketika mendekati Maysha, ke empat adiknya ini bak bodyguard yang selalu kompak menjaga kakaknya.
"Maaf, Kak. Lebih baik Kak Arlan datang besok saja. Kasihan Kak Maysha, dia baru bisa tidur dengan tenang. Sejak Kak Arlan memutuskan menikah lagi, dia terus menangis sendirian," tambah Arion.
Arlan terdiam sebentar. Tampak memikirkan sesuatu. Kalimat ampuh itu seolah mampu meruntuhkan egonya. Memang benar, sejak kembali setelah tiga tahun menghilang ia terlalu banyak menyakiti Maysha. Bahkan pernah membentaknya demi membela Laura. Dan Arlan sangat menyesal.
"Ya sudah, tidak apa-apa. Saya akan datang besok."
Rahang Andre terbuka lebar mendengar ucapan sang bos. Ini adalah pertama kali seorang Arlan Alviano mau mengalah, bahkan tanpa perlawanan. Andre sempat mengira bahwa Arlan sedang kesurupan.
"Tidak apa-apa. Kita bisa atur ulang jadwal."
Akhirnya, Arlan harus rela meninggalkan rumah itu dengan tangan hampa. Tanpa membawa Maysha bersamanya.
*
*
"Bagaimana sekarang? Kamu tidak diizinkan ketemu Maysha. Ratusan juta melayang begitu saja," ucap Andre.
Kini keduanya sedang dalam perjalanan. Andre mengemudi tanpa tujuan. Sejak meninggalkan rumah mertuanya, Arlan belum mengatakan akan ke mana. Entah pulang ke rumah pribadinya atau ke hotel.
Sekarang ia masih sibuk memainkan ponsel. Sesekali tampak menyandarkan kepala sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kamu punya nomor Chella, tidak?" tanya Arlan.
"Temannya Maysha? Dokter Michella?"
"Iya."
__ADS_1
"Ada di hp."
Arlan meraih ponsel milik Andre dan mencari nomor kontak Michella, sahabat Maysha yang juga berprofesi sebagai seorang dokter.
Andre sempat bertanya-tanya ada keperluan apa sampai Arlan terkesan memaksa untuk bertemu dengan dokter cantik itu. Beruntung saat ini Michella masih berada di rumah sakit, sehingga sangat memudahkan tujuan Arlan.
*
*
*
Andre hampir tak percaya melihat kelakuan temannya itu. Arlan yang sekarang ternyata tak berubah jauh dari Arlan yang dulu. Ia masih saja mampu melakukan hal-hal diluar nalar manusia normal untuk bisa dekat dengan Maysha.
Inilah yang membuat Andre tadi tidak percaya jika Arlan mengalah semudah itu kepada empat adik iparnya. Ternyata ia sedang menyiapkan rencana licik di dalam otaknya.
"Kamu pasti sudah gila. Aku tidak mau terlibat kali ini! Kita bisa digorok Dokter Allan sama Pak Fred!"
"Tenang saja, aku bisa melakukannya sendiri."
Andre menghembuskan napas kasar. Dengan terpaksa mengarahkan mobil lagi ke rumah Dokter Allan. Kali ini Arlan tidak akan masuk melalui pintu depan seperti tadi, melainkan dari pintu belakang. Andre memarkir mobil dari jarak yang aman.
"Kamu yakin ini aman?" Andre hendak memastikan sekali lagi.
"Aman, tenang saja. Aku sudah pernah masuk ke rumah ini lewat pintu belakang tanpa sepengetahuan penghuninya."
"Gila!"
Layaknya pencuri, Arlan masuk ke rumah dengan sangat hati-hati. Memanjat pagar tinggi dan mengendap-endap masuk melalui pintu belakang. Beruntung ia hafal benar seluk-beluk rumah itu, sehingga memudahkannya untuk menuju kamar Maysha. Arlan bahkan tahu di mana tempat penyimpanan kunci cadangan untuk semua ruangan di rumah itu.
Dan setahunya kamar Maysha berada di lantai satu. Berdekatan dengan kamar kedua orang tuanya.
"Ini dia!" Di kegelapan malam Arlan sedang memilih kunci kamar. Ia sempat celingukan untuk memastikan keadaan aman. Sepertinya seluruh penghuni rumah sudah lelap.
Hingga akhirnya pintu kamar terbuka. Arlan bernapas lega. Kemudian mendorong pintu kamar dengan sangat hati-hati agak tidak menimbulkan suara.
Dari tempatnya berdiri, Arlan dapat melihat gundukan selimut di tempat tidur. Sepertinya Maysha sangat lelap malam ini.
Pelan-pelan Arlan mendekat ke sisi tempat tidur. Menatap sosok yang tengah terbaring di sana. Pencahayaan kamar sangat terbatas karena hanya ada satu lampu tidur yang menyala. Arlan juga tidak berani menyalakan lampu kamar. Karena khawatir Maysha akan terkejut. Sehingga memilih menggunakan cahaya dari lampu ponselnya, yang kemudian ia arahkan ke wajah sosok yang sedang tertidur.
Namun, saat menatap wajah itu, Arlan harus terkejut luar biasa.
"Bunda? Gawat salah kamar!"
__ADS_1
...****...