Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Mempermalukan Maysha


__ADS_3

Apa yang diharapakan Laura benar-benar terkabul. Karena saat ini Maysha baru saja memarkir mobilnya di halaman rumah.


Sebenarnya hari ini Maysha benar-benar tidak ingin melihat suaminya bersanding di pelaminan dengan wanita lain. Ia tak akan sanggup. Tetapi, pesan yang dibisikkan Arlan sebelum keluar kota untuk tetap percaya kepadanya memberi Maysha sedikit kekuatan. Sehingga memutuskan untuk menghadiri pernikahan itu. Meskipun sebelumnya ayah, bunda dan adik-adiknya sudah mengingatkan untuk tidak datang.


Maysha memasuki rumah bersamaan dengan beberapa tamu lain. Terlihat Mami Gina tengah berjalan menuntun Laura menuju sebuah ruangan khusus yang telah disediakan untuk akad nikah. Keduanya terlihat sumringah.


Pandangan Maysha berkeliling ke setiap sudut rumah. Di antara kerumunan orang, Arlan tidak terlihat.


“Masih berani datang juga kamu ke rumah ini,” tegur Mami Gina saat Maysha menghampiri mereka.


“Saya ke sini untuk mendoakan dan memberi selamat kepada Mas Arlan atas pernikahannya.” Maysha tak menanggapi lidah pedas sang mertua. Ia memberikan sebuah paper bag bercorak batik berisi bingkisan hadiah pernikahan kepada Laura. "Selamat untuk kamu dan Mas Arlan."


“Terima kasih, Mbak Maysha. Tapi sebenarnya tidak perlu repot-repot. Aku tidak butuh hadiah lagi, karena hari ini adalah hadiah terbesar dalam hidupku.” Laura mengulas senyum penuh kemenangan. Ia lemparkan hadiah pemberian Maysha ke tumpukan hadiah lainnya.


“Oh ya, Maysha, kamu datang ke sini bukan untuk mengacaukan pernikahan anak saya, kan?”

__ADS_1


Maysha menatap sang mertua. “Maksud Mami apa berkata seperti itu?” 


"Tidak ada maksud apa-apa. Saya hanya mau mengingatkan kamu bahwa posisi Laura sekarang akan menjadi istri sah Arlan. Lagi pula sekarang Laura sedang mengandung pewaris keluarga kami."


"Mi, saya sama sekali tidak ada niat seperti itu."


“Alah, tidak usah sok polos kamu! Saya tahu perempuan seperti apa kamu dan juga ibu kandung kamu itu. Kalian berdua sama jahatnya!” Suara Mami Gina terdengar lantang. Membuat beberapa tamu yang sudah ada di ruangan itu memusatkan perhatian kepada mereka. Terutama kepada Maysha. Ruangan yang tadinya riuh oleh suara para tamu seketika hening. Sesekali hanya terdengar suara bisik-berbisik.


Mami Gina menatap penuh kebencian. Ini adalah moment yang tepat baginya untuk menghancurkan Maysha dengan mempermalukannya di depan umum. Apalagi ia tahu betul letak kelemahan Maysha.


"Mami, tolong tahan emosi. Setidaknya sampai acara selesai."


Semua orang yang ada di sana tampak terkejut. Tak ada yang mengeluarkan suara.


"Hari ini biar semua orang tahu siapa kamu yang sebenarnya. Arlan sudah melakukan kesalahan besar dengan menikahi anak seorang pembunuh." Mami Gina menunjuk Maysha penuh amarah. Kemudian melirik semua tamu yang memandang ke arah mereka. "Dengar semuanya, Maysha ini adalah anak Ayra Maeva. Wanita jahat yang sengaja membakar restoran kami dan papinya Arlan menjadi korban. Karena itulah saya tidak pernah merestui pernikahan mereka. Hanya saja perempuan ini terlalu pintar. Berlagak polos sampai Arlan terbutakan cinta dan menyerahkan semua hartanya untuk dia!” 

__ADS_1


Maysha menarik napas dalam. Hatinya serasa diremas mendengar barisan kalimat menyakitkan itu. Satu kelemahan Maysha yang membuatnya tak berkutik jika berhadapan dengan Mami Gina adalah kenyataan pahit bahwa ibu kandungnya sendiri melakukan kejahatan dengan membakar restoran, yang akhirnya menjadi penyebab kematian papi. 


"Kenapa kamu menangis? Kamu merasa bersalah? Atau malu karena kejahatan ibu kamu terbongkar di depan umum?" cecar Mami.


Laura yang berdiri di samping mami menahan senyum. Sudah lama ia menantikan saat seperti ini. Saat di mana ia dapat mengalahkan Maysha dan membuatnya malu di depan umum. "Sudah, Mi. Jangan buang-buang tenaga. Yang penting sekarang Mas Arlan sudah tahu semuanya."


"Kamu benar, Sayang. Selama ini Arlan sudah memilih perempuan yang salah. Syukurlah sekarang dia sudah menyadari mana yang lebih pantas dipertahankan."


Suasana kembali riuh oleh bisik-bisik para tamu. Sebagian bahkan memandang Maysha dengan remeh.


Sementara Maysha tak berani lagi untuk sekedar membela diri atau melawan. Hati kecilnya sempat berharap Arlan akan datang dan melindunginya dari mami seperti dulu. Sebelum kehilangan memorinya, Arlan sangat posesif dan menjaganya bak permata yang berharga. Arlan tidak akan memberi celah bagi mami atau siapapun untuk menyakitinya.


Namun, sekarang semua tinggal harapan kosong. Karena Arlan yang sekarang sudah melupakannya dan akan menikahi wanita lain.


"Tunggu apa lagi kamu! Sekarang keluar dari rumah ini. Ingat ya, setelah hari ini saya akan meminta Arlan untuk menceraikan kamu!"

__ADS_1


Hati Maysha luluh lantak. Ia menyerah. Pertahanan yang selama ini dibangunnya runtuh seketika. Ia masih terisak ketika tiba-tiba merasakan sosok tangan menarik tubuhnya dan mendekap sangat erat.


...****...


__ADS_2