Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Kamu, Aku dan Kita


__ADS_3

Arlan baru melepas pelukan setelah tangis sang istri terhenti. Kedua tangannya menangkup wajah dan menciumi kening. Sangat lembut. Hingga Maysha merasa seperti diterbangkan ke nirwana. 


Saat-saat seperti inilah yang begitu ia rindukan selama 3 tahun ini. Menghabiskan waktu bersama suaminya. Hanya berdua. 


“Mas, aku ke kamar mandi dulu, ya?” 


“Ngapain lagi ke kamar mandi sih, Maysha Hadikusuma binti Dokter Allan Hadikusuma?” tanya Arlan gemas sembari menyebutkan nama lengkap sang istri. 


Seharusnya sekarang mereka sudah memasuki acara paling inti. Namun, harus terhalang oleh kamar mandi menyebalkan itu. Andai saja bisa, akan ia kirim benda bernama kamar mandi itu ke Benua Antartika. 


Maysha terkekeh sambil membuka mukena. Ia lipat kain berwarna putih itu lalu meletakkan ke atas meja. 


“Cuma sebentar, Mas. Aku minta waktu 5 menit.” 


“Kalau lebih dari 5 menit kamu kena denda!” 


Lelaki bertubuh jangkung itu bangkit dan melipat sajadah, melepas peci dan menjatuhkan tubuhnya di tepi tempat tidur. Kemudian menatap ke sekeliling. Sambil menunggu Maysha, ia menyalakan beberapa lilin aromaterapi sebagai pelengkap ritual malam ini. 


Aroma mawar adalah kesukaan Maysha. Arlan masih ingat kebiasaannya yang selalu menggunakan aroma ini sebagai pewangi ruangan. 


Begitu semua lampu ia padamkan, suasana kamar tampak temaram. Disusul dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka. Arlan menatap bayangan hitam yang jatuh tepat di dinding, tetapi belum melihat sosok di belakang punggungnya. 


“Urusan kamu dengan kamar mandi sudah selesai?” tanyanya. 


“Sudah, Mas,” jawab Maysha. Suaranya terdengar lembut di telinga. 


“Kamu nggak ada urusan lagi dengan makhluk mana pun di Bumi ini, kan?” 


Ada tawa kecil terdengar dari belakang. Lalu, aroma parfum vanila yang disemprotkan Maysha ke lekukan leher menyeruak bercampur dengan aromaterapi. Arlan sempat terpejam menghirup aroma yang memanjakan indera penciumannya itu. 


Setelah meletakkan lilin terakhir di sudut kamar, ia berdiri dari posisi berjongkoknya, lalu membalikkan tubuhnya untuk menatap makhluk cantik di yang berdiri di sana. Spontan kelopak mata lelaki itu membulat penuh bahkan tak sanggup lagi berkedip. Jantungnya terpompa cepat dan tubuhnya menegang. 

__ADS_1


Bagaimana tidak, Maysha berdiri tepat di hadapannya dengan pakaian tipis nan menerawang, memamerkan lekukan tubuhnya yang sempurna. Kulitnya yang putih bersih tampak bercahaya di tengah pencahayaan temaram. Semakin sempurna dengan rambutnya yang hitam berkilau. Bak bidadari yang baru turun dari langit. 


“Kenapa, Mas? Kamu tidak suka?” Maysha menatap sang suami yang masih membeku di tempat. 


“Ya, tidak suka,” jawabnya tanpa berkedip. “Tidak suka lama-lama.” 


Bibir merah wanita itu melengkungkan senyum, membuat debaran jantung sang suami semakin tidak karuan. Tanpa menunggu, Arlan mengikis jarak di antara mereka. Melingkarkan tangannya pada pinggang ramping sang wanita. 


“Terima kasih, Bee. Kamu cantik sekali malam ini.” 


Maysha mendongakkan kepala dan menatap manik hitam sang suami. Tangannya yang halus melingkar di leher. Membuat Arlan tidak tahan untuk membenamkan kecupan di kening. Tak cukup rasanya, ia tambahkan di kelopak mata, kanan dan kiri secara bergantian, lalu berakhir di bibir manisnya. 


Semakin tak tahan, Arlan meraih tubuh itu dan membawanya ke tempat tidur. Kakinya yang panjang menendang selimut hingga benda tebal itu teronggok menyedihkan di lantai. 


Maysha menunduk malu-malu ketika Arlan memuji kemolekan tubuhnya yang menggoda. Apalagi ketika lelaki itu mulai memainkan jemarinya pada tubuhnya. Tak dapat dipungkiri, setiap sentuhan yang ditinggalkan Arlan menciptakan rasa hangat di tubuhnya. Mengalirkan cinta yang begitu dahsyat di antara keduanya. 


“Kamu nggak mau ngasih aku sesuatu, Bee? Aku menunggu tiga tahun lebih untuk malam ini, loh!” bisik lelaki itu ke telinga. 


Maysha benar-benar merasa seperti hatinya melayang di udara. Bisikan penuh cinta dan juga banyak pujian yang diberikan Arlan malam ini meningkatkan rasa percaya dirinya. 


Arlan bahkan masih ingat betapa merahnya wajah Maysha saat ia memintanya membuka hijab untuk pertama kali. Di kamar hotel, di malam pertama pernikahan. 


“Sudah siap, kan?” Arlan berbisik sekali lagi. 


Maysha mengangguk tanpa kata. Membuat Arlan merebahkan tubuh mereka. Namun, baru akan memulai, Maysha sudah mendorong dadanya. 


“Mas, pakai selimut, ya. Kamu sudah belajar adab-adabnya, kan?” 


“Oh iya.” Arlan bangkit dan meraih selimut yang tadi ia tendang ke lantai, lalu membalut tubuh mereka. 


Di balik selimut tebal, Arlan menyatukan tubuh mereka dengan sebaris doa dan harapan. Mengalirkan semua cinta dan kasih sayang yang ia miliki untuk sang istri melalui setiap sentuhan. Tidak berlebihan, namun sangat menyenangkan. Menegaskan bahwa hubungan itu bukan hanya untuk mendapatkan kenikmatan dan memuaskan has-rat semata, tetapi juga bernilai ibadah. Mengubah syah-wat menjadi berpahala. 

__ADS_1


Keduanya terbuai, terlena, terhanyut dalam mengarungi indahnya malam penuh penantian  itu. Arlan mengakhiri segalanya dengan kecupan di kening. Membisikkan sebuah doa setelah melepaskan bibit kehidupan baru. Berharap akan segera tumbuh buah cintanya di rahim sang istri.


Beberapa menit berlalu, keduanya masih diam dan saling memeluk satu sama lain demi melepas lelah. Terlebih Maysha yang merasa tenaganya diserap seutuhnya oleh sang suami. 


“Capek?” tanya Arlan, sambil mengusap keringat yang membasahi kening. 


“Heem.” Maysha membenamkan wajahnya di dada sang suami. Matanya terpejam menyesap aroma parfum khas laki-laki yang menguar dari tubuh kekar itu. 


"Mau tidur? Apa jangan-jangan mau tambah?"


"Capek, Mas!"


Maysha masih menikmati hangatnya pelukan Arlan saat suara deringan ponsel berbunyi nyaring memenuhi kamar. 


“Astaghfirullah, siapa sih telepon jam segini nggak tahu diri banget?” gerutu Arlan memaki sosok yang menghubungi sang istri. 


“Maaf, Mas. Aku lupa matiin hape.” 


“Nggak apa-apa, Sayang. Bukan kamu yang salah, tapi orang ini!” Sambil menahan kesal, Arlan mengulurkan tangan meraih benda pipih itu. Awas saja kalau yang menghubungi sang istri bukan orang penting. Akan ia maki habis-habisan. Tetapi, nyalinya harus ciut saat melihat nama pemanggil yang tertera pada layar. 


“Siapa, Mas?” tanya Maysha ketika melihat suaminya terdiam. 


“Dokter Allan Hadikusuma is calling,” gumam Arlan dengan kerutan tipis di kedua alisnya.


“Hah, ayah?" Maysha panik seketika. "Jangan dijawab dulu, Mas!” Maysha memeluk selimut di dadanya. Tidak mungkin menjawab panggilan video dari sang ayah di saat keduanya hanya terbalut selimut. 


"Jawab aja, ah! Siapa tahu ayah kamu mau lihat live streaming!"


"Masss!" pekik Maysha sembari membenamkan cubitan di lengan suaminya.


***

__ADS_1


**


Selamat bermalam Minggu dari Arlan dan Maysha☺️☺️☺️


__ADS_2