Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Akan menikahimu Secara Resmi


__ADS_3

Arlan tak mampu lagi menjawab. Bayangan-bayangan itu terekam semakin jelas dalam ingatan. Ia beberapa kali mendesis kesakitan. 


“Ada apa, Rio? Aku dengar tadi ada keributan?” Suara Michella terdengar panik dan bingung. Ia baru saja keluar dari kamar Maysha saat mendengar keributan yang berasal dari lantai bawah. Beruntung Maysha tak sempat mendengar karena sudah lebih dulu ketiduran setelah Michella memberi obat. 


“Tidak apa-apa, Chell. Ini Arlan kesakitan,” jawab Mario sambil memberi pijatan ke punggung leher Arlan. 


Michella terdiam sejenak sambil memindai kedua laki-laki tersebut secara bergantian. keduanya tampak cukup berantakan dengan kemeja yang kusut. Selain itu ada lebam baru di sudut bibir Mario. Namun, wanita itu tak ingin bertanya lebih jauh dan memilih diam. 


“Aku tidak apa-apa,” ucap Arlan yang masih tampak memijat kepala. 


“Kamu yakin? Apa tidak sebaiknya kita periksa ke rumah sakit?” Sebagai dokter yang dipercaya oleh Maysha untuk menangani suaminya, Mario tak dapat mengabaikan tugasnya. Meskipun baru saja Arlan menghajarnya habis-habisan. 


“Tidak usah, terima kasih. Sakitnya sudah sedikit berkurang,” tolak Arlan. “Maaf, aku tadi lepas kendali.” 


“Tidak apa-apa. Aku mengerti. Sudah dari dulu kamu lepas kendali terus,” tambahnya dalam hati. Ingin memaki, namun ia tahan.


Mario baru menghentikan pijatan pada punggung leher Arlan setelah melihatnya lebih baik. 


“Rio, kita pulang, yuk! Sudah malam,” ajak Michella setelah melirik arah jarum jam pada pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. 


“Kebetulan aku juga masih ada janji dengan seseorang.” Mario lantas bangkit dari tempat duduknya. Sekilas melirik Arlan yang masih terduduk dengan kepala tertunduk. Entah sedang memikirkan apa. “Istirahat saja dulu, kamu masih rutin konsumsi obat yang aku resepkan waktu itu, kan?” 


Arlan mengangguk pelan. Meskipun sebenarnya sudah tiga hari ia tak mengonsumsi obat tersebut. Sebab, setiap kali habis minum obat itu, ia akan merasakan kepalanya berdenyut dan justru kesulitan mengingat sesuatu. Bahkan hal-hal yang baru berlangsung. Arlan bahkan sempat curiga jika Mario sengaja memberinya obat lain. Karena itulah ia menghentikan mengonsumsi obat tersebut tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Laura. 

__ADS_1


“Kalau begitu kita permisi dulu ya, Kak. Maysha tidak apa-apa. Dia hanya kecapean. Kalau bisa banyak istirahat saja dan jangan sampai banyak pikiran dulu,” ucap Michella. 


“Terima kasih, Chella,” ucap Arlan. 


Dua dokter itu akhirnya berlalu pergi. Meninggalkan Arlan seorang diri di ruang tamu. Selama beberapa detik Arlan terdiam. Satu hal yang baru ia sadari, setiap kali merasa cemburu terhadap sesuatu yang berhubungan dengan Maysha dan melakukan tindakan impulsif, entah mengapa ia akan ingat sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu. Termasuk ketika memaksa Maysha, dan saat memukuli Mario tadi. 


"Den Arlan kenapa? Sakit?" Suara Bik Wiwin menyapa. Arlan mendongak menatap wanita itu.


"Tidak apa-apa, Bik." Ia mendesahkan napas panjang. "Oh ya, Bik Wiwin bisa duduk sebentar? Saya mau tanya sesuatu."


Setahunya Bik Wiwin sudah cukup lama mengabdikan diri di keluarganya. Wanita itu sudah pasti mengetahui banyak hal tentang keluarganya. 


"Mau tanya apa, Den?"


"Sudah lama, Den."


"Berarti Bik Wiwin pasti tahu banyak. Saya mau tanya, apa mami itu ibu kandung saya?" Arlan dapat melihat Bik Wiwin cukup terkejut mendengar pertanyaan itu. “Jangan takut, jawab saja. Saya tidak akan beritahu siapapun kalau Bibi merasa tidak aman.” 


Wanita itu tampak ragu, namun kemudian memberanikan diri menjawab. “Setahu saya Ibu Gina itu ibu kandung Den Arlan. Memang kenapa, Den?” 


Arlan terdiam sejenak. Seperti sedang memikirkan sesuatu.


“Tidak apa-apa. Saya Cuma mau tahu itu. Bibi boleh istirahat.” 

__ADS_1


“Kalau begitu saya mau ke dapur dulu, Den,” ucap Bik Wiwin. Meskipun ada tanda tanya di benaknya mengapa tiba-tiba Arlan menanyakan perihal tersebut.


Setelah kepergian Bik Wiwin, Arlan merasa kepalanya lebih ringan. Ia segera beranjak menuju lantai atas. Saat melewati kamar Laura, sayup-sayup ia dapat mendengar suara Laura yang sedang mengobrol dengan seseorang. Entah siapa. 


Perlahan Arlan mendekat dan bersandar di dinding. Pintu yang menyisakan sedikit celah membuatnya dapat mendengar suara Laura yang sedang menelepon dengan seseorang. 


Arlan mencoba menajamkan pendengaran. Hingga beberapa saat berlalu, Laura menutup panggilan. Ia menunggu beberapa menit sebelum akhirnya memilih masuk ke kamar itu. Laura sedikit terkejut melihat Arlan memasuki kamarnya. 


“Ada apa, Mas?” tanyanya. 


Menarik napas dalam, Arlan tersenyum. Lantas menggenggam tangan wanita itu. 


“Aku minta maaf untuk sikap kasarku beberapa hari ini. Aku sudah memikirkan semuanya. Aku setuju menikahi kamu secara resmi seperti keinginan mami.” 


Laura hampir tak percaya mendengar ucapan lelaki itu. "Kamu serius, Mas?"


"Hem."


Tentu saja apa yang diucapkan Arlan membuat Laura tersenyum senang. Tanpa kata wanita itu langsung menabrakkan tubuhnya ke tubuh tegap laki-laki itu. 


"Akhirnya kamu sadar mana yang terbaik. Untung tadi mami datang."


Laura larut dalam rasa bahagia, sementara Arlan menyembunyikan seringai penuh makna.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2