Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Jadi Imam?


__ADS_3

Permintaan bernada tantangan dari calon mertua benar-benar seperti sebuah shock therapy bagi Arlan. Bagaimana bisa menjadi imam shalat? Sementara surat-surat pendek saja Arlan sama sekali belum hafal satu pun.


Jika ini berlanjut, mungkin perjuangan untuk mendapat lampu hijau dari calon mertua akan berakhir sia-sia. Arlan benar-benar berharap akan ada dewa penolong yang datang menyelamatkannya.


“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Dokter Allan setelah melihat wajah pemuda di hadapannya tiba-tiba pucat dan berkeringat.


Sadar situasi genting yang ada, Andre langsung merangkul bahu Arlan. “Umur segini memang lagi rawan-rawannya, Om. Kalau tidak sakit kepala, sakit punggung, ya sakit jiwa.”


"Anak Om yang bikin dia sakit jiwa!" tambah Andre dalam hati.


Geram, Arlan menggerakkan ujung siku kanannya ke dada kiri Andre.


"Kalau begitu kamu saja yang jadi imam!" tawar Dokter Allan.


Spontan bola mata Andre membeliak. Sedikit menyesal mengapa harus menyelamatkan Arlan. Sekarang ia sendiri harus mencari alasan masuk akal.


"Sebenarnya saya juga lagi sakit, Om. Sariawan, bibir pecah-pecah dan susah buang air besar."


"Panas dalam?"


"Iya, Om. Makanya untuk kali ini sepertinya saya dan Arlan belum bisa jadi imam yang baik. Mungkin buka puasa berikutnya bisa."


Alasan yang diberikan Andre sepertinya cukup masuk akal. Dokter Allan hanya manggut-manggut sembari menatap mereka secara bergantian.


“Om, biar saya saja yang jadi imam.” Arlan dan Andre menoleh ke arah sumber suara. Di sana ada Rio yang sedang tersenyum ramah.


“Oh boleh, silahkan, Rio,” balas Dokter Allan. Ia sempat melirik Arlan sejenak, sebelum berdiri di antara jamaah lainnya.


Ketika Mario maju ke depan, Arlan menghela napas panjang. Lega. Meskipun sebenarnya ia dan Rio tidak pernah akur, namun kali ini Rio menyelamatkan kehormatannya di hadapan calon mertua.


Andre dan Arlan lalu merapatkan shaf. Suara Rio terdengar sangat merdu mengumandangkan iqamat. Arlan bahkan sempat merasa kalah jauh dari Rio dari segi pengetahuan agama.


*

__ADS_1


*


*


“Si Rio dekat juga sama keluarganya Maysha, ya?” bisik Arlan sesaat setelah menjalankan ibadah shalat maghrib berjamaah. Kini Rio terlihat masih duduk di atas sajadah sambil mengobrol dengan Dokter Allan.


“Kelihatannya sih gitu.” Andre balas berbisik. “Si Rio memang kriteria menantu ideal untuk Om Dokter.”


Kesal mendengar pujian Andre untuk Rio, Arlan menyikut perut temannya itu dengan keras, sehingga Andre harus meringis.


“Ngapain memuji dia segala?”


“Setidaknya tadi dia menyelamatkan kita. Lagian memang kenyataan kalau Rio calon mantu ideal. lah kamu, Alfatihah aja nggak hafal. Pikir deh, kira-kira Maysha mau nggak punya imam kayak kamu?”


“Ya harus mau.”


Andre kembali mencibir. "Kalau dia nggak mau gimana?"


Tawa kecil lolos begitu saja dari mulut Andre. Membuat Arlan segera beranjak dan memilih keluar dari mushola. Berkeliling di sekitar ruang tamu dan taman untuk mencari keberadaan Maysha. Namun, hingga beberapa menit gadis itu tak kunjung terlihat. Hanya ada beberapa petugas catering yang sedang membersihkan peralatan makan.


“Lihat, itu Maysha sama siapa?” Andre menunjuk ke satu arah, di mana Maysha terlihat mengobrol dengan seorang pria berkepala plontos. Hal itu membuat Arlan merasa tubuhnya seperti dilahap api.


"Itu kan Pak Fred si dosen killer!" kesal Arlan kepada seorang pria yang merupakan pengacara senior sekaligus dosen pembimbingnya.


"Jangan-jangan dia lagi deketin Maysha," tambah Andre.


"Masa ayahnya Maysha mau jodohin anaknya sama bujang lapuk?"


"Nggak ada yang nggak mungkin, Lan! Lagi pula kita belum pernah dengar kalau Pak Fred punya istri."


"Yakin?"


"Hu-um. Dia selangkah lebih maju dibanding kamu loh. Kalau begini kamu bisa keduluan sama dia."

__ADS_1


“Silahkan kalau mau ngerasain tidur di keranda.”


Arlan hendak menghampiri Maysha dan Pak Fred, namun Andre menghalangi.


“Tunggu dulu! Sabar!" Andre agak trauma jika Arlan sampai berhadapan dengan pria lain yang mendekati Maysha. Sebab beberapa minggu lalu, Rio sempat babak belur dihajar Arlan. Beruntung Rio memilih diam dan tidak mengadukan kejadian itu kepada siapapun.


"Apa lagi sih, Ndre?" pekik Arlan menahan amarah.


"Kamu mau ngapain?"


"Duel sama Pak Fred!"


"Jangan gila! Ini rumah orang! Kamu bisa ditendang Om Dokter!"


"Bodo amat!"


Andre menghembuskan napas panjang. Tak tahu lagi bagaimana cara menenangkan temannya itu.


Ketika Arlan mendekati Maysha dan Pak Fred dengan tingkah arogan, Andre hanya mengikuti di belakang.


"Dia siapa, Sha?" Arlan melirik pria tersebut dengan ujung matanya. Pak Fred memang memiliki usia jauh di atas mereka, tetapi dari segi penampilan tentu saja tidak kalah jauh dari anak muda. Ia terlihat modis dan keren meskipun tak lagi muda.


Maysha mengulas senyum tipis sambil melingkarkan tangan di lengan Pak Fred. "Kak Arlan, Kak Andre, kenalin, ini papaku."


Rahang Arlan terbuka lebar. Matanya membeliak.


"Papa?"


Andre yang berdiri di belakang Arlan hanya mengatupkan bibir rapat. Di titik ini ia menduga bahwa Pak Fred adalah ayah sambung Maysha.


Andre kembali berbisik, "Katanya mau ajak si dosen killer duel. Sono duel sama papanya Maysha!"


...****...

__ADS_1


__ADS_2