
Malam sudah larut ketika Arlan diam-diam masuk ke kamar Maysha. Wanita itu tampak sudah terlelap dengan selimut yang melorot ke bawah. Perlahan Arlan mendekat dan membenarkan selimut. Lantas meletakkan punggung tangannya di dahi Maysha. Ia dapat bernapas lega setelah merasakan suhu tubuh Maysha sudah normal.
Selama beberapa saat ia memandangi wajah istrinya itu. Lalu dengan gerakan yang sangat hati-hati membenamkan ciuman di kening. Maysha yang memang baru tertidur beberapa menit lalu itu perlahan membuka mata saat merasakan sentuhan lembut di keningnya.
"Mas Arlan?" lirihnya sedikit terkejut.
“Maaf aku membangunkanmu. Aku cuma mau lihat keadaanmu."
"Aku merasa lebih baik sekarang." Maysha menggeliat pelan dan membenarkan posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Kantuk yang menguasai perlahan menghilang. Ia melirik arah jarum jam di dinding. "Kenapa belum tidur dan malah ke sini?"
"Sebenarnya ada yang mau aku bicarakan dengan kamu."
"Soal apa?"
Arlan memilih duduk di tepi tempat tidur. Sebelah tangannya mengulur membelai pipi istrinya itu. Menatapnya dalam-dalam.
"Sha, aku ingin kamu tahu satu hal. Sekarang ini ingatanku memang belum pulih sepenuhnya. Tapi aku mohon, apapun yang kulakukan ke depannya percaya sama aku. Semua itu kulakukan untuk kita."
Maysha mendongak menatap suaminya itu. Dahinya berkerut tipis, mencoba menerka apa yang sedang ingin disampaikan oleh Arlan.
__ADS_1
*
*
*
Laura tengah merasa berada di atas awan saat ini. Keputusan Arlan untuk menikahinya secara resmi membuatnya terlalu bahagia. Semalam ia langsung menghubungi Mami Gina dan memberitahu perihal tersebut. Dan tentu saja berita itu membuat Mami Gina sangat bahagia.
Pagi-pagi sekali Laura sudah beranjak dari kamar. Pagi itu Maysha sudah berada di dapur untuk membuat sarapan bersama Bik Wiwin.
“Pagi Mbak Maysha. Sudah sehat, ya?” tanya Laura penuh semangat.
Laura tertawa kecil, lalu mendekat dan bersandar di kitchen set. “Oh ya, Mbak. Aku ada kejutan besar buat Mbak Maysha.”
Sekilas Maysha melirik wanita itu, lalu kembali fokus dengan masakannya.
“Mbak Maysha pasti bahagia mendengar kejutan aku ini. Makanya siapkan mental ya, Mbak. Takutnya Mbak Maysha pingsan saking bahagianya.”
“Memang kamu ada kejutan apa?”
__ADS_1
“Mas Arlan setuju untuk menikahi aku secara resmi minggu depan dan mungkin Mas Arlan akan menceraikan Mbak Maysha setelah itu.” Laura mengulas senyum setelahnya.
“Itu saja kejutannya?” tanya Maysha.
Membuat Laura terdiam detik itu juga. Ia sedikit terkejut melihat reaksi wanita itu. Jangankan marah atau sekedar bersedih, Maysha malah bersikap sangat santai. Seolah keputusan Arlan bukanlah sesuatu yang bisa membuatnya sedih.
“Laura, tidak ada berita yang lebih menyakitkan bagiku selain ketika mendengar kabar kematian Mas Arlan dalam kecelakaan tiga tahun lalu.” Maysha mengulas senyum tipis. “Satu hal lagi, aku tidak akan melarang kalau Mas Arlan memang mau menikahi kamu secara resmi."
“Dan bagaimana kalau Mas Arlan memutuskan untuk menceraikan Mbak Maysha?”
"Itu haknya dan aku tidak berhak menghalangi."
Laura kembali tertawa. "Berarti Mbak Maysha sudah siap ditendang dari rumah ini, karena aku akan jadi satu-satunya istri Mas Arlan."
Untuk sesaat Maysha menghentikan kegiatannya dan menatap Laura.
“Aku, Maysha Hadikusuma. Aku tidak perlu menjelaskan apa yang lebih dari diriku. Karena bukan aku yang akan rugi kalau Mas Arlan melepasku hanya demi wanita seperti kamu. Mengerti sekarang?”
...****...
__ADS_1