Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Tolong Percaya Padaku!


__ADS_3

Maysha mengerjapkan mata berulang-ulang. Bulu matanya yang lentik bergerak lucu. Sepertinya ia sama sekali belum menyadari apa yang terjadi dan sedang berada di mana saat ini. 


Wanita itu menarik selimut, membalikkan tubuhnya dan melanjutkan tidur. Tingkah yang terasa sangat menggemaskan di mata Arlan. 


Tak tahan, Arlan kembali memeluk dan menciumi pipi hingga Maysha merasa terganggu. Bola mata cokelatnya kembali terbuka. Kali ini diikuti gerakan tangannya yang mengucek mata. Seperti hendak memastikan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. 


“Aaa!” Maysha seketika menjerit saat kesadarannya kembali sepenuhnya. Tubuhnya yang semula rebahan kini terduduk sambil memeluk selimut. Masih ada tatapan terkejut sekaligus bingung di sana. “Kamu?” 


Arlan benar-benar ingin meledakkan tawa saking gemasnya. “Hai, Sayang,” ucapnya, diiringi seulas senyum. 


“Kamu sedang apa di sini, Mas?” Tatapan penuh tanya diarahkan Maysha kepada suaminya itu. Seingatnya ia selalu mengunci pintu sebelum tidur. “Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku?” 


“Aku bisa melakukan apa saja untuk bisa berduaan dengan kamu.” 


Kalimat frontal itu membuat Maysha melongo. Tak terpikir olehnya jika Arlan bisa menyelinap masuk ke kamar, sementara rumah orang tuanya saja dijaga ketat. Selain itu ayah dan adik-adiknya tidak mungkin semudah itu mengizinkan Arlan memasuki kamarnya.


Hingga pada saat terjadi guncangan kecil di kamar. Maysha histeris dan menjerit ketakutan, membuat Arlan segera memeluknya. Arlan tahu Maysha memiliki trauma terhadap guncangan seperti gempa bumi sejak kecil. Karena pernah ada pengalaman buruk semasa kecilnya.


“Apa yang tadi itu gempa?” tanyanya takut-takut sambil bersandar di dada suaminya. 


“Bukan, Sayang. Itu bukan gempa.” 


"Terus apa? Kamar ini tadi bergoyang."


Arlan mengatupkan bibir demi menahan tawa. Maysha benar-benar belum menyadari apapun. "Nanti kita buat gempanya berdua. Magnitudo-nya pasti lebih dahsyat!"


"Hah?"


Detik itu juga Maysha baru menyadari dirinya tidak sedang berada di kamarnya, melainkan di sebuah tempat asing. Sebuah kamar berukuran kecil namun dengan design yang sangat mewah. 


“Ini di mana?” tanyanya. 


“Di pesawat.” 


Maysha mendongak demi menatap sosok yang tengah memeluknya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Arlan untuk mengecup keningnya. 


Maysha yang masih antara percaya dan tidak percaya belum mampu mengatakan apapun. Ia masih ingat semalam masuk ke kamarnya sendiri untuk tidur. Lalu mengapa begitu terbangun bisa ada di dalam pesawat bersama Arlan? 

__ADS_1


“Tapi bagaimana aku bisa ada di sini?” 


“Aku culik kamu dari rumah ayah.” 


Maysha kembali terperangah. 


“Habis aku datang mau jemput kamu baik-baik tapi ayah dan adik-adik kamu menghalangi.” 


Perlahan Maysha melepas pelukan. Masih tampak terkejut dan bingung. Menatap ke sana-ke mari, lalu mengintip keluar jendela. Benar saja, mereka sedang berada di dalam sebuah pesawat jet pribadi. Pemandangan di bawah sana sangat memanjakan mata. 


“Ki-kita mau ke mana?” Ragu-ragu Maysha bertanya. 


“Ke kota impian kamu.” Arlan mengulas senyum. “Aku mau ajak kamu mengulang rencana yang tertunda tiga tahun lalu.” 


Entah mengapa bola mata Maysha mendadak tergenang cairan bening. Tiga tahun lalu berkeliling di Turki pernah menjadi rencana paling indah dalam hidupnya. Mengunjungi kota Cappadocia dan naik balon udara seperti mimpi yang tidak akan pernah terwujud ketika Arlan menghilang. 


“Bagiamana dengan Laura?” 


“Aku sudah selesai dengan Laura. Sekarang dia sedang mempertanggungjawabkan semua kejahatannya.” 


“Maksudnya?” 


“Tapi dia sedang hamil.” 


“Itu bukan urusanku,” jawab Arlan santai. “Lagi pula dia hamil sama orang lain minta tanggungjawab sama orang lain.” 


Spontan bola mata Maysha kembali melotot. Mencoba mencerna setiap kalimat yang diucapkan Arlan. “Maksudnya?” 


“Laura hamil dengan laki-laki lain dan menjebakku. Dia dibayar Mami Gina untuk melakukan semua ini.” Arlan menceritakan semuanya. Mulai sejak ia perlahan mengingat masa lalu, hingga perjalanan keluar kota untuk menyelidiki semua. Maysha hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Semua terasa mustahil. 


“Apa artinya kamu sudah mengingat aku?” 


“Bukan hanya kamu, tapi semuanya. Aku sudah ingat siapa Arlan Alviano. Aku ingat semua hal gila yang pernah kulakukan untuk mendapatkan kamu. Aku pernah memukuli Rio. Aku juga ingat ayah kamu pernah tes aku ngaji tapi aku malah baca undang-undang.” 


Semakin deras saja air mata yang mengalir dari sepasang mata Maysha. Arlan menggenggam tangannya erat. 


“Maafkan aku, Bee. Seharusnya hari itu aku mendengarkan kamu untuk tidak pergi. Seharusnya aku di rumah saja menemani kamu. Tapi aku malah mengabaikan itu dan akhirnya kita terpisah.” 

__ADS_1


Maysha kehilangan kata. Perasaannya campur aduk, antara sedih dan bahagia. Bahagia karena Arlan sudah mengingat dirinya. Namun, sedih dan kecewa karena pada kenyataannya Arlan pernah bersentuhan dengan wanita lain. 


“Sayang, kamu mau kan memaafkan aku dan memulai semuanya dari awal lagi?” 


Bukannya menjawab, Maysha malah mendorong dada suaminya itu. Lalu meraih bantal dan menghujamkan ke tubuh Arlan bertubi-tubi. 


“Tapi sebelum itu aku akan menghukum kamu dulu! Berani-beraninya kamu tidur dengan wanita lain.” 


Aran terlonjak mendengar jeritan Maysha. Ia hanya berusaha menahan serangan Maysha dengan kedua tangannya. Saat ini Maysha lebih mirip singa betina yang sedang mengamuk. 


“Soal itu aku bisa jelaskan!” 


“Mau jelaskan apa? Bahwa kamu tidur dengan Laura? Kamu tahu bagaimana sakitnya hati aku melihat dia keluar dari kamar pakai lingerie?”


“Sya, aku berani bersumpah tidak pernah satu kali pun tidur dengan Laura. Di kamar itu aku tidur di kursi.” 


Namun, penjelasan Arlan tak langsung ditelan mentah-mentah oleh Maysha. Bagaimana pun juga Maysha hanyalah wanita biasa yang memiliki kecemburuan. Apalagi jika harus berbagi suami dengan wanita lain. 


“Tapi pagi itu kamu mandi bareng sama dia.” Maysha melemparkan apa saja yang dapat diraihnya ke arah Arlan. Dia yang biasanya bersikap sangat lembut terhadap Arlan kini terkesan galak.


“Yang mana?” 


“Hari ke dua kamu pulang ke rumah. Waktu itu aku ke kamar ajak kalian sarapan!” 


Ingatan Arlan langsung mengarah pada kejadian pagi itu. Ia masih dapat mengingat meskipun tersamar. 


“Ya ampun, sama kamu saja aku belum pernah mandi bareng apalagi sama orang lain.” 


“Tapi waktu itu—” 


“Aku mandi duluan, Sya! Bukan mandi bareng. Laura memang menyusul ke kamar mandi tapi aku langsung keluar.” 


Arlan meraih bantal yang digunakan Maysha untuk memukulinya. Lalu melemparnya ke sembarang arah. Kemudian mencengkram kedua lengan Maysha dan mendorongnya agar terbaring. Arlan langsung memposisikan dirinya di atas tubuh Maysha. Menguncinya ketat ketika ingin memberontak. 


“Please, percaya sama aku, Bee!” Arlan menatap mata Maysha dalam-dalam, lalu berbisik pelan, “Pithecanthropus Erectus cuma bisa bangun sama kamu.” 


**

__ADS_1


**


__ADS_2