Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Mendarat Dengan Sempurna


__ADS_3

Kedua tangan Maysha langsung mendorong dada sang suami yang masih memerangkap tubuhnya. Posisi Arlan kini bergeser ke samping. Ia terlihat frustrasi, mengacak rambutnya sambil menggerutu. Memaki pilot yang telah menghentikan kegiatan pentingnya di saat sedang panas-panasnya.


Tahu rasanya saat ingin bersin dan mendadak tidak jadi? Ya, seperti itulah. Sangat menyebalkan. Seperti ingin meledakkan dunia. 


Sedangkan Maysha yang masih panik membenarkan pakaiannya yang sudah terbuka. Matanya berotasi ke sekitar untuk mencari benda keramat miliknya yang tadi dihempas Arlan. Di bawah selimut, di bawah bantal dan di kolong tempat tidur pun tidak ada. Entah ke mana kain berbentuk kacamata itu. 


“Cari apa?” tanya Arlan ketika Maysha mencari-cari sesuatu. 


“Bra aku mana?” 


Kekesalan yang sempat memenuhi hati dan pikiran Arlan seketika lenyap hanya dengan mendengar pertanyaan polos itu. Apalagi setelah melihat ekspresi Maysha yang bingung bercampur panik. 


Arlan menyeringai nakal. “Kalau aku kasih tahu dapat apa?” 


“Nggak dapat apa-apa! Kan kamu yang umpetin!” Bibir Maysha mengerucut kesal. Bak ikan yang sedang mangap di permukaan air. 


“Ya udah, nggak usah aku kasih tahu.” Arlan bertingkah cuek. Ia bangkit dari tempat tidur dan memakai kembali kaus berwarna putihnya. 


“Mas,” rengek Maysha menarik lengan suaminya. 


“Apa sih?” 


“Mana? Cepat, pesawatnya mau mendarat!” 

__ADS_1


Arlan terkekeh. “Aku dapat apa dulu kalau ngasih tahu.” 


“Memang Mas Arlan maunya apa?” 


Hati Arlan semakin mengembang rasanya. Sebelah matanya berkedip genit. Hanya dengan isyarat itu saja, Maysha sudah dapat menebak keinginan suaminya. 


“Iya boleh,” ucap Maysha pada akhirnya. 


“Nggak lagi palang merah seperti waktu itu, kan?” tanyanya penuh harap. Teringat tiga tahun lalu ketika ia harus menelan kekecewaan di malam pertama pernikahan. 


“Nggak.” 


“Oke. Malam aku tagih, ya.” Ia menyeringai untuk ke sekian kali, kemudian menuju sudut ruangan dan memungut benda tersebut—yang ternyata teronggok di lantai. “Sekalian aja ganti baju, itu di koper ada pakaian kamu.” 


Maysha melirik sebuah koper kecil di samping tempat tidur. Ini benar-benar penculikan berencana. Bahkan Arlan sempat mengemasi pakaian sebelum menculik. Maysha tak dapat membayangkan bagaimana reaksi ayah dan adik-adiknya atas kelakuan suaminya itu. 


Sedangkan Arlan terlihat sangat santai. Malah langsung duduk bersedekap, lengkap dengan kacamata hitam yang membingkai matanya. 


"Pakai sabuk pengamannya!" Ia memasang sabuk pengaman ke tubuh sang istri.


Pesawat akhirnya mendarat dengan selamat. Sebelum turun dari pesawat, Arlan juga sempat memakaikan jaket tebal demi melindungi istrinya dari udara dingin. 


**

__ADS_1


** 


Tak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Maysha Hadikusuma bahwa mimpinya akan terwujud. Kehilangan sang suami tiga tahun lalu adalah ujian paling menyakitkan sepanjang hidupnya. Sekarang Arlan kembali hanya untuknya. Untuk mewujudkan semua mimpi yang pernah tertunda. 


Dan Turki adalah negara impian Maysha, tempatnya ingin menuliskan sejuta kenangan manis bersama sosok lelaki dalam hidupnya. 


Sekarang wanita itu sedang menatap bangunan mewah yang kental dengan nuansa Turki. Sebelum ke hotel, mereka menyempatkan diri mampir ke sebuah pusat perbelanjaan. Menyegarkan mata sekalian makan siang di sebuah restoran yang terdapat di pusat perbelanjaan tersebut.


"Makan yang banyak biar punya tenaga malam ini. Ingat, kamu punya hutang sama aku yang sudah tersimpan tiga tahun."


Maysha melirik suaminya sambil mengunyah makanan. Sejak turun dari pesawat Arlan terus membisikkan hal-hal berbau 21+.


"Yang menghilang kan kamu, kenapa aku yang berhutang."


“Sayang ... Maysha and the Bear,” bisik Arlan. 


Sudut mata Maysha memicing mendengar panggilan itu. Panggilan yang dulu kerap digunakan Arlan untuk menggodanya. Sekarang Maysha benar-benar yakin ingatan suaminya sudah kembali seratus persen. 


“Apa sih, Mas?” 


"Lihat di sebelah sana, deh!" Arlan menunjuk ke sebuah toko pakaian dalam khusus wanita. Pandangan Maysha mengikuti ke arah yang ditunjuk suaminya. Sebuah lingerie tipis berwarna hitam berenda terpajang sempurna. 


“Beli itu buat malam ini, ya! Kamu pasti makin cantik kalau pakai itu. Aku rela deh temenin kamu begadang sampai pagi.” 

__ADS_1


**


**


__ADS_2