Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Selesaikan Urusan Negara


__ADS_3

Arlan bernapas lega setelah berhasil membongkar kejahatan Mami Gina dan juga Laura. Tak dapat dipungkiri hatinya masih dipenuhi amarah dan rasa sakit setelah menemukan fakta, bahwa Mami Gina adalah adalah orang yang paling bertanggung jawab atas kematian papi. Berikut rentetan kejadian nahas yang dialami Arlan selama ini.


Sebelum mengalami kecelakaan tiga tahun lalu, hubungan Arlan dan Mami Gina memang kurang begitu baik. Keduanya kerap berselisih paham. Tetapi, kala itu Arlan masih menaruh rasa hormat karena mengira Mami Gina adalah ibu yang melahirkannya. Dan, setelah penyelidikan panjang ia baru menemukan fakta sebenarnya. Bahwa Mami Gina tak lebih dari seorang penipu.


“Jangan terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang kebenarannya sudah terungkap.” Andre menepuk bahu temannya itu. Ia tahu saat ini Arlan masih dalam keadaan sangat marah. 


“Aku tidak apa-apa. Hanya tidak menyangka saja kalau dia adalah dalang dari semua kejadian ini.” 


“Ya, tidak ada yang akan menyangka. Karena selama ini dia benar-benar menjalankan perannya dengan baik.” 


Arlan bahkan sempat percaya dan termakan hasutannya. Dulu, awal mengenal Maysha, Arlan memiliki niat jahat untuk membuatnya menderita. Tetapi, siapa sangka jika niat balas dendam itu berubah menjadi cinta. Maysha mampu merebut seluruh hati Arlan tanpa menyisakan ruang sedikit pun.


“Sekarang kita harus ke kantor polisi untuk mengurus laporan,” ucap Andre.


“Nanti sajalah. Aku mau antar Maysha ke hotel dulu. Setelah itu baru ke kantor polisi.” 


Sudut mata Andre berkerut tipis. Tatapan penuh curiga ia arahkan kepada Arlan. "Sabar, Bos! Tidak usah buru-buru. Ini masih siang!"


Candaan Andre membuat Arlan geram. Ingin sekali ia membedah kepala Andre. Mengeluarkan otaknya dan mencucinya hingga terbebas dari pikiran kotor.

__ADS_1


"Otakmu itu perlu dibersihkan dengan klorin!" maki Arlan. "Memangnya ke hotel untuk itu saja? Ada banyak hal penting yang harus kami bicarakan berdua dan untuk itu butuh tempat yang tenang. Maysha mungkin berpikir selama ini aku sering tidur dengan Laura, dan aku harus menjernihkan semuanya."


"Oh, bilang dari tadi. Kalau begitu aku duluan saja ke kantor polisi. Tapi kamu harus segera menyusul, ya!"


"Hemm."


Arlan akan beranjak keluar rumah, sebab sudah cukup lama Maysha menunggu di mobil. Namun, tiba-tiba seorang pengawal datang menghampiri. Pria berbadan tinggi besar itu membungkuk hormat.


“Bos ....”


“Ada apa?” 


Informasi yang diberikan sang pengawal membuat Arlan cukup terkejut.


“Ayah datang?” 


“Iya, Bos.” 


Rasa frustrasi menyerang Arlan saat itu juga. Jika ayah mertuanya sampai turun tangan, sama saja dengan menyulitkannya. Terlebih sang mertua sudah menjatuhkan ultimatum sebelumnya. Bahwa ia akan mengambil Maysha kembali jika Arlan tak dapat mencari jalan terbaik untuk Maysha. 

__ADS_1


“Istri saya bilang apa? Dia tidak titip pesan?” 


“Tidak, Bos. Hanya bilang mau ikut dengan Dokter Allan.” 


Hela napas Arlan terasa berat. Tiba-tiba merasa otaknya buntu. Belum selesai urusan dengan Laura dan mami, ia harus berurusan dengan ayah mertuanya.


Arlan hendak melangkah, namun Andre menghalangi. "Mau ke mana?"


“Mau jemput Maysha dulu.” 


“Lebih baik ke kantor polisi dulu urus laporan. Nanti kamu bisa menemui Maysha setelah urusan di kantor polisi selesai.” Andre memberi saran.


“Urusan Maysha jauh lebih penting dibanding urusan negara, Ndre!” 


“Tapi kalau urusan negaramu tidak beres, bisa dipecat mertua kamu!” 


Arlan tampak berpikir sejenak. Ucapan Andre memang ada benarnya. Selesaikan dulu tugas negara, baru urusan rumah tangga. 


...****...

__ADS_1


__ADS_2