
Hampir seharian dihabiskan Arlan mengurus berkas laporannya di kantor polisi. Semuanya sempat terhambat karena Mami Gina dan Laura memberi keterangan berbelit-belit.
Beruntung Arlan memiliki bukti lengkap kejahatan mereka, sehingga memudahkan segalanya. Setelah semua urusan selesai ia meninggalkan kantor polisi.
Kini, Arlan sudah berada di depan rumah sang mertua dengan ditemani Andre.
“Yakin mau jemput Maysha sekarang?” tanya Andre, mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mungkin kedatangan mereka akan mengganggu penghuni rumah.
“Kenapa tidak? Aku suaminya dan aku memiliki hak mutlak atas Maysha.”
"Ya sudah, terserah kamu saja. Yang penting jangan buat keributan di rumah orang!"
Arlan terdiam sebentar sambil memandangi rumah di hadapannya. Masih segar dalam ingatan ketika pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu.
Jauh sebelum mengenal Maysha Hadikusuma, Arlan Alviano hanyalah pemuda pemberontak dan pembangkang. Kehidupannya tak jauh dari perkumpulan pemuda yang suka hura-hura. Ia juga gemar membuat onar. Siapapun yang mencari masalah dengannya akan dibuat sangat menyesal.
Namun, hidupnya seakan dijungkirbalikkan saat sosok Maysha hadir dalam hidupnya. Kala itu amarah meledak-ledak dalam jiwa Arlan ketika menemukan fakta, bahwa ibu kandung Maysha adalah penyebab kematian papi. Keinginan untuk membalas melalui Maysha membuatnya nekat mendekati gadis polos itu.
Pertemuan pertamanya dengan Maysha terjadi di sebuah masjid. Arlan sempat salah besar dengan mengira Maysha hanyalah gadis polos yang mudah ditaklukkan. Jauh di luar dugaan, Maysha ternyata sangat berbeda dengan gadis-gadis yang selama ini dekat dengannya.
Segala upaya pun dilakukan Arlan untuk mendapatkan simpati dari Maysha demi memuluskan balas dendamnya. Hingga akhirnya, Arlan terjebak dalam permainannya sendiri. Tanpa ia sadari kepolosan Maysha berhasil mencuri seluruh hatinya tanpa menyisakan ruang sedikitpun bagi yang lain.
Suatu hari Arlan nekat menyambangi kediaman orang tua gadis pujaannya. Kala itu ada buka puasa bersama di rumah. Konon katanya, untuk bisa mendapatkan hati Maysha harus bisa menghadapi ayahnya yang terkenal sangat posesif menjaga putri satu-satunya di keluarga mereka.
“Kamu yakin, Lan?” tanya Andre kala itu, sambil memperhatikan suasana rumah dari luar.
Hari itu akan ada buka puasa bersama. Tentu saja Arlan tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bisa bertemu sang pujaan hati.
“Apa salahnya dicoba, Ndre. Siapa tahu dapat lampu hijau dari mertua.”
“Mertua? Kamu masuk kriteria mantu aja belum tentu!” Andre mencibir.
Melihat kepribadian Arlan yang arogan dan pembangkang, tentu saja ia bukanlah calon menantu ideal untuk keluarga Hadikusuma, yang terkenal sangat agamis. Sedangkan Arlan lebih condong ke kafirun.
“Coba juga belum, udah pesimis kamu. Bagaimana negara mau berkembang kalau rakyatnya kayak kamu?”
“Iya-iya, calon pengacara kondang!” Andre menyerah. Apalagi kepercayaan diri Arlan lebih tinggi dibanding puncak gedung Burj Khalifa yang digadang-gadang merupakan gedung tertinggi di dunia.
__ADS_1
“Assalamu’alaikum, om,” sapa Arlan dengan sopan dan penuh hormat.
Andre sempat terpukau. Lebih tepatnya terkejut. Belasan tahun berteman dengan Arlan, ini adalah pertama kali ia mendengar temannya itu mengucapkan salam. Ajaib sekali. Andre bahkan khawatir lidah Arlan akan keseleo.
“Wa’alaikumsalam.” Dokter Allan menatap pemuda di hadapannya dengan senyum tipis. “Apa kabar, Nak Arlan, Nak Andre?” tanyanya ramah.
“Alhamdulillah, baik, Om.”
Kali ini Andre hampir jantungan. Mulut Arlan sangat manis saat berhadapan dengan Dokter Allan. Berbeda saat sedang bersama yang lain. Di mana Arlan selalu mengucapkan makian dan sumpah serapah.
"Puasa hari ini?"
Arlan mengangguk mantap. Membuat pria paruh baya itu kembali tersenyum.
“Oh ya, silahkan duduk dulu. Masih ada waktu beberapa menit sebelum buka puasa.”
“Terima kasih, Om.”
Arlan mengajak Andre untuk duduk bersama tamu-tamu lainnya. Ia sempat celingukan untuk mencari keberadaan Maysha. Hingga tak lama berselang, gadis itu muncul dengan dua temannya. Terlihat membantu menata beberapa hidangan yang tersedia di meja panjang.
Maysha terlihat sangat manis dan bercahaya dengan gamis berwarna abu-abu. Arlan bahkan sulit untuk mengalihkan pandangan.
“Udah batal dari siang!”
Andre membulatkan matanya. “Kok bisa?”
“Bangun tidur dengar suara adzan langsung makan, nggak tahunya masih ashar.”
Tawa pasti sudah menyembur dari mulut Andre jika saja saat ini mereka tidak berada di tengah keramaian.
“Gila!”
"Mau gimana lagi, Bik Riri masak rendang. Tadinya cuma mau coba malah habis sepiring sama nasi."
"Geblek calon mantu Dokter Allan."
"Sssttt! Ketahuan mertua gawat!"
__ADS_1
Acara buka puasa pun berlangsung. Semuanya berjalan dengan baik. Arlan sempat berkenalan dengan adik laki-laki Maysha yang juga sama menyebalkan dan posesifnya.
Sekedar informasi, Maysha memiliki empat adik laki-laki. Dua di antaranya saudara dari ayah dan dua lagi dari ibunya. Orang tua kandung Maysha berpisah saat Maysha masih berusia 2 tahun. Keduanya sama-sama membangun bahtera rumah tangga yang baru. Meskipun begitu hubungan kedua keluarga itu sangat dekat dan kompak. Bahkan kerap liburan bersama.
Selepas buka puasa bersama, dilanjutkan dengan shalat berjamaah di mushola, yang ada di rumah itu. Kebetulan mushola di rumah Maysha lumayan luas dan cukup untuk menampung beberapa puluh orang.
Arlan dan Andre saling dorong menuju tempat wudhu. Di sana keduanya memperhatikan beberapa orang yang sedang wudhu sambil berusaha menghafal urutannya.
“Doanya apa, Ndre?” Arlan tampak bingung saat melihat beberapa orang berdoa setelah menjalankan wudhu.
“Udah asal komat-kamit aja dulu. Yang penting kelihatan baca doa.”
Arlan mengangguk setuju. Keduanya berdiri di depan kran air. Saling memandang satu sama lain seolah sedang saling dorong untuk mensucikan diri lebih dulu.
Akhirnya Arlan membuka kran air dan mencuci kedua tangannya. Air yang membasahi kedua tangannya benar-benar terasa menyejukkan. Arlan masih ingat kelakuannya beberapa hari lalu, ketika sedang wudhu, ia sempat meneguk beberapa kali.
"Ndre, kalau lagi kumur-kumur terus airnya sengaja ditelan, puasa batal nggak?" tanyanya.
Pepatah sambil menyelam minum air sepertinya bermanfaat. Arlan pikir akan sering-sering menggunakan metode ini. Tidak terbiasa berpuasa sejak kecil membuatnya tak dapat menahan dahaga di siang hari. Sehingga kadang pura-pura tidak sengaja meneguk air wudhu dengan nikmat tanpa sepengetahuan siapapun.
“Kumur-kumur sambil minum airnya dengan sengaja bisa membatalkan puasa,” bisik Dokter Allan, yang kini berdiri tepat di belakang punggung Arlan.
Kelopak mata Arlan membulat seketika. Air yang baru saja akan melewati kerongkongannya menyembur keluar.
**
**
Setelah kejadian memalukan tadi, Arlan dan Andre menuju mushola. Sudah rapi dengan peci dan sarung pemberian Bunda Giany. Keduanya ikut bergabung dengan laki-laki lainnya. Dokter Allan tampak berdiri di depan. Sejenak melirik Arlan sambil memberi isyarat untuk mendekat.
“Sebaik-baik shaf bagi laki-laki adalah yang paling depan. Ayo, Nak Arlan. Kali ini biar kamu yang jadi imam shalat.”
Arlan tersentak. Mendadak ia merasakan seluruh bulu-bulu halus yang tumbuh di tubuhnya merinding. Jangankan menjadi imam dalam shalat, menjadi makmum saja ia belum tentu bisa.
Andre yang berdiri di belakang Arlan mencondongkan kepala dan berbisik pelan, “Dari pada nanggung malu mending sekarang kamu ke shaf paling depan aja! Baring tapi.”
Mata Arlan berkilat marah.
__ADS_1
...****...