Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Hey, Arlan!


__ADS_3

Laura merasa kekesalan memenuhi kepalanya saat ini. Arlan tak kunjung datang ke butik sesuai dengan janjinya pagi tadi. Mencoba menghubungi puluhan kali, namun si pemilik nomor tak juga menjawab panggilannya. Sekarang Laura sedang berdiri di depan cermin. Memandangi dirinya melalui pantulan cermin. Kesal. Merasa Arlan mempermainkan dirinya. 


“Mas Arlan ke mana, sih?” Ia menarik napas dalam-dalam demi mengurai amarah, lantas melirik tiga karyawan butik yang berdiri tepat di belakang punggungnya. “Mbak, ambilkan sepatu saya, dong!” perintahnya tanpa basa-basi. 


Dan, bukan hanya Laura yang sedang kesal. Beberapa karyawan butik yang melayaninya pun sedang menahan kesal. Tingkah Laura tak ada bedanya dengan seorang nyonya besar. 


Setelah memakai sepatu, Laura kembali memandangi dirinya melalui pantulan cermin. Lalu melirik jas mahal yang telah dipilihnya yang akan dikenakan Arlan di hari pernikahan mereka. Namun, sang pemilik jas tak juga menampakkan batang hidungnya. 


Akhirnya, Laura pun harus rela pulang dengan memendam kekecewaan karena Arlan benar-benar tak menemuinya di butik. Setibanya di rumah, suasana sunyi menyambut. Baik Arlan maupun Maysha tak terlihat. Hanya ada Bik Wiwin di rumah. 


“Mas Arlan mana, Bik?” 


“Sepertinya belum pulang, Non.” 


"Mbak Maysha?"


"Non Maysha tadi sudah pulang. Tapi cuma ambil koper dan pergi lagi. Katanya mulai malam ini mau tinggal di rumah orang tuanya."


Informasi yang diberikan Bik Wiwin membuat hati Laura terasa mengembang sempurna. Senyum merekah di bibir merahnya.


"Mbak Maysha pulang ke rumah orang tuanya?"


"Iya, Non."


Ingin sekali Laura tertawa girang. Sekarang ia merasa sedang berada di atas awan. Tentu saja, sebab saingan terberatnya sudah tumbang.


Wanita itu lantas melirik Bik Wiwin yang masih berdiri di hadapannya. Masih terekam jelas di ingatan Laura, beberapa waktu lalu Bik Wiwin sempat berlaku tidak sopan kepadanya, dengan menantang untuk dipecat.


"Akhirnya terbukti siapa yang dipilih Mas Arlan. Habis ini siap-siap ya, Bik! Karena Bik Wiwin akan menjadi orang ke dua yang aku tendang dari rumah ini."

__ADS_1


Bik Wiwin memilih diam dan tak menanggapi ucapan Laura.


"Mbak Maysha pasti tidak tahan karena Mas Arlan memutuskan untuk menikahi aku. Aku harus ucapkan selamat tinggal untuk Mbak Maysha."


*


*



“Hapemu sudah puluhan kali berdering. Aku sampai bosan mendengarnya,” tegur Andre. 


“Biarkan saja!” Arlan memilih bersandar di kursi. Melipat tangan di depan dada dan memejamkan mata. 


Saat ini keduanya sedang berada dalam perjalanan keluar kota dengan menumpang kereta. Sebenarnya rasa takut sudah menghantui Arlan sejak pertama kali berada di tempat itu. Namun, Arlan tak memiliki jalan lain. Kereta adalah pilihan tercepat untuk bisa mencapai kota yang dituju saat ini. 


Ia hanya berusaha mengurai ketegangan dengan memejamkan mata. 


“Tidak.” 


Baru saja merubah posisi duduknya agar lebih nyaman, ponsel kembali berdering. 


“Itu pasti dari istri mudamu lagi,” celoteh Andre, namun Arlan masih diam dengan mata terpejam. "Sudah jawab saja dan bilang kamu sedang keluar kota. Kalau tidak lempar saja hapemu keluar jendela."


Sontak Arlan membuka mata. Menatap Andre kesal dan langsung mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya. Benar dugaan temannya itu, di layar ponsel tertera nama Laura. 


“Ya Laura,” ucap Arlan sesaat setelah panggilan terhubung. 


“Kamu di mana sih, Mas? Kenapa semalaman tidak pulang? Kamu juga tidak ke butik dan membuat aku menunggu berjam-jam,” omel Laura. 

__ADS_1


Sejenak Arlan terdiam sembari menghela napas. Terlihat malas. “Maaf, aku lupa mengabari. Aku tiba-tiba harus keluar kota dan tidak bisa ditunda.” 


“Keluar kota?” Suara Laura memekik. Membuat Arlan menjauhkan ponsel dari telinga. “Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?” 


“Tenang saja, aku akan pulang sebelum hari pernikahan.” 


“Kamu tidak sedang mempermainkan aku kan, Mas?” 


“Ya ampun Laura, aku keluar kota untuk urusan bisnis. Kamu dan mami siapkan saja pernikahan dan buat pesta semeriah mungkin!” 


“Benar ya, Mas?” 


“Iya-iya. Aku janji akan pulang sebelumnya,” ucapnya menahan kesal. “Sudah ya, aku sedang di jalan sekarang.” 


Arlan memutus panggilan dan langsung mengaktifkan mode pesawat pada ponsel. Jika tidak, gangguan dari Laura mungkin akan datang lagi. 


 Setelahnya membuka galeri ponsel dan memandangi foto Maysha yang diambilnya dari album foto beberapa waktu lalu. Arlan begitu betah memandangi wajah Maysha yang tampak polos dengan riasan seadanya. 


Tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi. Ketika badan kereta berguncang disusul dengan lampu yang padam. 


“Ada apa ini?” pekik Andre. 


Sontak saja keadaan itu menciptakan suasana tegang. Beberapa penumpang sempat berteriak ketakutan. Arlan mulai panik. Bayangan situasi mencekam mulai hadir memenuhi kepala. Membuat seluruh tubuhnya terasa lemas tak bertenaga. Untuk sekedar berteriak meminta tolong pun Arlan seolah tak sanggup. Lidahnya terasa kaku.


Ia hanya dapat membungkuk sambil memijat kepala yang semakin terasa berdenyut.


Hingga beberapa saat berlalu, laju kereta mulai kembali normal, lampu menyala dan suasana kembali tenang. Andre membuka mata perlahan. Namun, tiba-tiba sekujur tubuhnya kembali tegang. Arlan sudah terbaring di bawah dalam keadaan tak sadarkan diri. 


“Hey, Arlan!” 

__ADS_1


...*****...


__ADS_2