
Tak ada kata yang dapat terucap dari bibir Laura. Selama beberapa menit ia berdiri mematung. Meraba punggung leher dengan gelisah, menggigiti bibir bawahnya, atau meremas ujung gaun yang dikenakannya. Masih beruntung wajahnya terbalut makeup tebal, jika tidak pasti sudah terlihat sangat pucat bak mayat hidup.
Melihat reaksi Laura dan Mami Gina yang tampak panik, Arlan menyeringai.
“Kamu tidak menyambut dia?” tanya Arlan kepada Laura. “Apa jangan-jangan kamu sudah lupa dengannya?”
Seketika Laura tertunduk dan tak berani lagi menatap Arlan ataupun laki-laki yang baru hadir di antara mereka. Ia hanya melirik Mami Gina yang sekarang sudah tidak berkutik.
“Mas, aku—” Ucapan Laura terpotong di udara. Suaranya terdengar gemetar.
“Kenapa tiba-tiba diam? Ke mana suaramu yang lantang tadi?”
Wanita itu hanya dapat menunduk dengan bola mata dipenuhi cairan bening.
“Bagaimana Riko bisa ada di sini? Apa jangan-jangan Mas Arlan keluar kota untuk menemui Riko? Tapi dari mana dia tahu tentang Riko?” Laura membatin.
Tamat sudah riwayatnya jika semua rahasia yang ia simpan terbongkar di hadapan Arlan.
“Siapa dia, Arlan?” Kali ini Mami Gina memberanikan diri membuka suara. Membuat Arlan mendecakkan lidah. Kemudian melirik Andre sambil memberi isyarat dengan anggukan kepala. Andre langsung memposisikan dirinya di depan proyektor yang sebelumnya sudah diminta Arlan untuk disediakan.
Mami Gina dan Laura saling lirik satu sama lain. Menunggu kejutan apa yang akan diberikan Arlan selanjutnya.
“Santai sedikit, jangan terlalu tegang.” Intonasi Arlan terdengar santai, namun terasa sangat menyeramkan di telinga Mami Gina dan juga Laura.
Reaksi terkejut tak dapat disembunyikan keduanya ketika layar proyektor menampilkan rekaman CCTV, di mana Arlan yang dalam keadaan tak sadarkan diri digotong oleh dua orang pria memasuki sebuah kamar penginapan. Sementara Laura baru terlihat menyusul masuk ke kamar itu menjelang pagi. Laura langsung gelagapan dan semakin panik.
“Kamu punya penjelasan apa untuk rekaman CCTV ini?” tanya Arlan.
Laura bungkam. Tak tahu harus berkata apa lagi. Rekaman CCTV ini sudah jelas membuktikan bahwa ia telah menjebak Arlan dan menuduh melecehkannya hingga hamil.
__ADS_1
Andre mendekat dan berdiri tepat di sebelah Arlan. "Apa perlu para tamu disuruh pulang semua?" bisiknya.
"Tidak usah! Biar semua orang tahu yang sebenarnya. Aku tidak mau Maysha tersudutkan lagi."
"Baik."
Andre memberi tatapan mengintimidasi kepada Laura. Ia tampak menarik napas panjang sebelum mulai berbicara.
"Waktu itu kamu menuduh Arlan menyeret kamu ke kamar penginapan dalam keadaan mabuk. Rekaman CCTV ini sudah menjadi bukti kebohongan kamu. Jadi besar kemungkinan bahwa Arlan bukan ayah biologis dari anak yang kamu kandung,” jelas Andre panjang lebar. "Lagipula, logikanya seorang laki-laki tidak mungkin bisa melecehkan wanita dalam keadaan tidak sadarkan diri."
Laura membeku di tempat.
“Kecuali kalau setelah malam itu kalian pernah menghabiskan malam bersama,” tambah Andre.
“Jangan sembarangan bicara, Ndre! Melihatnya saja aku sudah tidak berselera. Bagaimana mau buat anak dengannya.”
Andre hampir menyemburkan tawa mendengar kalimat frontal itu. “Kalau begitu siapa ayah biologis dari anak yang dikandung Laura?”
Sementara Laura semakin gemetar. Sesekali melirik Riko yang masih berada di belakang Arlan.
"Jadi ini alasan kamu menghilang, Laura? Kamu mengakui anak di kandunganmu sebagai anak orang lain, padahal kamu tahu betul dia anak siapa." Riko membuka suara untuk pertama kali.
"Maafkan aku, Rik. Aku terpaksa melakukan semua ini."
"Sudah terlambat, Laura. Aku ke sini hanya untuk membuktikan ucapan mereka."
Nyali Laura semakin menciut. Hanya karena iming-iming harta sehingga ia mau melakukan semua tipuan ini.
“Dan kamu!” Kali ini Arlan melirik Mami gina. “Apa kamu pikir kejahatan kamu tidak akan pernah terbongkar?”
__ADS_1
Wanita paruh baya itu sudah tampak sangat ketakutan. Apalagi setelah melihat rekaman CCTV pada layar proyektor. Terlihat dengan jelas ketika dirinya berjalan menuju dapur dalam keadaan restoran masih sunyi dan keluar setelah beberapa menit di dalam.
“Arlan, hanya potongan pendek rekaman CCTV ini tidak membuktikan kalau mami yang membakar restoran, kan?”
“Masih berani membela diri rupanya. Jelaskan ke dia, Ndre!” pinta Arlan.
Andre melirik wanita itu. “Maaf, Bu. Semua bukti yang memberatkan Bu Gina sudah terkumpul dan sekarang sudah ada pada polisi. Bu Gina memanfaatkan keadaan dan menuduh ibunya Maysha sebagai pelaku pembakaran. Padahal dalang di balik kebakaran itu adalah Bu Gina sendiri."
"Kamu jangan sembarangan menuduh tanpa bukti! Saya bisa melaporkan kamu atas pencemaran nama baik!"
"Tapi semua bukti dan saksi kejahatan Ibu sudah kami kumpulkan. Termasuk orang-orang yang Ibu bayar untuk menyekap Arlan tiga tahun lalu setelah mengalami kecelakaan. Ibu juga memberikan obat dalam dosis tinggi dan berefek pada menurunnya daya ingatan Arlan sampai kehilangan sebagian memorinya,” jelas Andre. “Ah satu lagi, Bu Gina membayar Laura untuk menjebak Arlan, sampai akhirnya Arlan terpaksa menikahi Laura secara siri.”
“Semua tuduhan itu tidak benar! Saya tidak segila itu sampai berniat mencelakai anak saya sendiri!”
"Anak yang mana? Arlan bukan anak kandung Bu Gina, kan? Bu Gina menutupi semua fakta ini dari semua orang, termasuk dari Arlan. Maaf sekali, tapi kami sudah mengetahui semuanya."
Mami Gina diam seribu bahasa. Masih tidak menyangka kejahatan yang ia susun dengan rapi selama bertahun-tahun begitu mudahnya terbongkar di tangan Arlan dan Andre. Di titik ini ia menyimpulkan bahwa Arlan sudah mengingat semua masa lalunya.
“Sudahlah, tidak usah panjang lebar. Seret saja semua penipu ini ke kantor polisi!” perintah Arlan setelahnya.
Baik Laura maupun Mami Gina tak dapat mengucapkan apapun lagi. Mereka bahkan pasrah saat beberapa anak buah Arlan menggiring mereka.
“Sebentar, Laura!" panggil Arlan. "Aku belum memberikan kejutan terakhir untuk kamu.”
Sejenak laura menoleh dan memberanikan diri menatap laki-laki itu.
“Mulai detik ini kamu bukan lagi siapa-siapaku. Hubungan di antara kita selesai sampai di sini!”
...*...
__ADS_1
...*...
...*...