Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Menebus Tiga Tahun Yang Terlewat


__ADS_3

Hay Gengs maafkan diriku baru up. Aku rinduuuu penghuni Noveltoon. Mari kita mengukir kisah bersama lagi. 😘


**


**


**


Keduanya saling beradu pandang selama beberapa saat dalam kebisuan.


Maysha benar-benar tak dapat menggerakkan tubuhnya karena Arlan menahan dengan ketat. Kedua tangan kekar laki-laki itu mencengkram pergelangan tangannya kuat-kuat. Sementara tubuh besarnya hampir menindih tubuh ramping Maysha secara keseluruhan. 


Manik hitamnya menghujam buas. Seperti hendak memangsa lawan. Posisi wajah yang hanya berjarak kurang dari satu jengkal membuat Maysha dapat merasakan hangatnya embusan napas laki-laki itu. 


“Aku harus apa supaya kamu percaya sama aku, Sha?” 


Maysha benar-benar ingin mempercayai suaminya itu. Namun, walau bagaimana pun juga Arlan tetaplah lelaki normal, rasanya sulit untuk menolak godaan wanita. Apalagi hampir setiap malam Laura mengenakan pakaian yang terbuka dan memancing sy@hwat. Laki-laki mana yang akan tahan? 


Maysha memejamkan mata. Menarik napas dalam-dalam. Arlan pun dapat melihat keraguan dalam mata istrinya itu. 


“Kalau tidak percaya kamu boleh tanya langsung sama Laura. Tidak pernah ada hubungan apapun di antara kami.” Arlan kembali menekan suara. Berusaha meyakinkan semampunya. “Bee ... kamu akan jadi wanitaku satu-satunya. Hanya kamu!” 

__ADS_1


Sebelah tangan Arlan terangkat mengelus pipi Maysha. Mendekatkan wajah hingga kedua bibir itu hampir menyatu. 


“Mas!” Maysha mendorong dada suaminya dengan kedua tangan. Bibirnya mengatup rapat, seolah tak memberi izin bagi Arlan untuk mengecapnya. 


“Ssttt!” Arlan meletakkan jari telunjuk di depan mulut. Membuat Maysha kembali terpaku. “Aku sangat merindukan kamu,” bisik lelaki itu mesra. 


Maysha terdiam. Kalimat barusan terasa lembut di telinga. Menghangatkan hatinya yang beku. Ia tahu Arlan sangat mudah untuk meluluhkan hatinya. Apalagi Arlan bukanlah tipe lelaki yang mudah mengucapkan kalimat rayuan, sehingga kalimat manis yang keluar dari mulutnya terdengar sangat manis.


“Aku benar-benar minta maaf, Sha. Seandainya waktu bisa diulang, aku tidak akan pergi meninggalkan kamu dan membuang waktuku selama 3 tahun dengan sia-sia. Seandainya saat itu aku tidak pergi, mungkin sekarang kita sudah bahagia dan memiliki anak yang lucu. Kamu tidak tahu seberapa menyesalnya aku.” 


Tak ada kata yang terucap dari bibir Maysha. Kalimat panjang yang terucap dari bibir Arlan berhasil merobohkan dinding kokoh yang ia bangun. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya meleleh. 


“Aku minta maaf, aku minta maaf.” Berulang-ulang Arlan berbisik ke telinga sang istri. 


Hingga saat tak ada lagi penolakan dari Maysha, Arlan kembali menatapnya. Masih dalam posisi memerangkap tubuh istrinya itu. Kerinduan yang menggebu mendorong Arlan untuk menyatukan kedua bibir mereka. 


Benar-benar tak ada penolakan dari Maysha seperti sebelumnya. Membiarkan Arlan mengabsen setiap jengkal wajahnya. Bibir kenyal lelaki itu turun menyapu sekitar leher. Kemudian naik lagi ke bibir. 


Awalnya lembut. Lama-kelamaan semakin dalam. Tak memberi celah bagi Maysha untuk meraup udara. Ia menggigit bibir bawah wanita itu dengan lembut, berkali-kali. Kemudian kembali melahapnya dengan sedikit lebih buas. 


Maysha merasakan sensasi hangat yang meledak. Ia takluk dan membalas pagutan suaminya. Arlan benar-benar berhasil membangkitkan apa yang pernah mati dalam dirinya. 

__ADS_1


Kala dua bibir itu saling memagut, satu tangan Arlan bergerak ke bawah. Melepas kancing piyama yang membalut tubuh istrinya. Ia sempat memainkan tangannya pada dua gundukan yang ada di sana. Menikmati rasa yang tercipta dari setiap sentuhan. 


Maysha hanya dapat terpejam. Sesekali mencengkeram punggung leher suaminya ketika tak dapat menahan sensasi yang ditimbulkan oleh permainan lelaki itu.


"Boleh kan, Sayang?"


Sepasang mata Maysha membulat penuh. Boleh apa? Hey, ini di pesawat. Haruskah mereka melakukannya di tempat ini?


Baru saja mulut Maysha akan terbuka untuk memberi jawaban, sudah dibungkam lebih dulu oleh Arlan dengan bibirnya. Lelaki itu semakin buas dan tak terkendali. Dalam hitungan detik benda berbentuk kacamata milik Maysha sudah berhasil ia tanggalkan dan dilemparnya ke sembarang arah.


Ketika Arlan semakin menggebu-gebu, tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang mengabarkan bahwa pesawat akan segera mendarat. Membuat dua manusia itu terlonjak dan saling tatap.


Maysha baru tersadar pakaiannya sudah setengah terbuka. Membuat wajahnya bersemu merah. 


Sedangkan Arlan sudah menunjukkan ekspresi datar dan terlihat murka.


“Sialan itu pilot!” 


**


**

__ADS_1


__ADS_2