Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Menikah Minggu Depan


__ADS_3

“Memangnya mami bicara apa tadi?” tanya Arlan sambil melepas pelukan Laura. 


“Banyak!” jawabnya girang. “Ternyata sejak awal mami tidak menyetujui pernikahan kamu dengan Mbak Maysha, karena ibunya Mbak Maysha itu adalah penyebab kematian papi. Pantas saja selama ini mami sangat membenci dia.” 


Spontan kelopak mata Arlan melebar mendengar ucapan Laura. "Mami bicara seperti itu?" 


"Mana mungkin aku berani bohong untuk hal serius seperti ini, Mas. Kalau tidak percaya kamu boleh tanya sendiri ke mami."


Senyum mengembang sempurna di bibir Laura tatkala melihat bingung bercampur amarah dalam tatapan Arlan. Dan kali ini Laura tidak ingin kehilangan kesempatan. Ia akan membuat Arlan membenci Maysha dengan cara apapun.


"Kamu pasti syok, kan? Aku juga sangat terkejut saat mendengar itu dari mami." 


"Apa mami cerita kenapa ibunya Maysha bisa jadi penyebab kematian papi?” 


“Mami tidak cerita detailnya ke aku. Tapi aku dengar saat mami melabrak Mbak Maysha tadi. Katanya, ibunya Mbak Maysha sengaja bakar restoran milik keluarga kalian. Akhirnya papi kamu syok sampai kena serangan jantung dan tidak bisa diselamatkan. Ternyata ibunya Mbak Maysha sejahat itu ya, Mas.” 


Arlan menarik napas dalam. Lantas memilih duduk di kursi sambil memijat kepala. Sementara Laura mengikuti dan duduk di sebelahnya. 


“Mbak Maysha itu penampilannya aja yang seperti perempuan alim. Berhijab segala, tapi ternyata anak seorang pembunuh,” tambah Laura. “Aku heran deh bagaimana kamu bisa menikahi perempuan seperti itu. Seharusnya kamu membenci Mbak Maysha karena ibunya penyebab kematian papi kamu.” 


Selama beberapa saat Arlan terdiam. Seolah sedang menimbang ucapan Laura. “Ya, kamu benar, Laura. Mungkin dulu aku terlalu dibutakan cinta sampai rela melakukan apapun untuk Maysha." 


Senyum lebar terukir di bibir Laura. Apalagi setelah membaca raut sedih di wajah Arlan. Sekarang Laura yakin jika Arlan pasti kecewa dan marah setelah mengetahui penyebab kematian papinya ternyata adalah ibu kandung Maysha. 

__ADS_1


"Aku kasihan sama mami. Dia pasti sedih kehilangan papi." 


Arlan mengangguk paham. 


“Tadi mami juga bilang ke Mbak Maysha kalau mami ingin kamu menceraikan dia dan menikahi aku secara resmi. Apalagi sekarang aku sedang hamil," ujar Laura. "Makanya mami melepas semua foto pernikahan yang ada di rumah ini dan suruh Pak Udin membakar semuanya.” 


"Bagaimana reaksi Maysha saat mami melakukan semua itu? Dia tidak melawan?" tanya Arlan. 


"Sama sekali tidak! Mbak Maysha diam saja, padahal biasanya dia itu sombong kalau sama aku. Tapi sama mami ternyata tidak berkutik." Ia terkekeh setelah menyelesaikan kalimatnya. "Malam ini Mbak Maysha pasti nangis bombai." 


Arlan kembali larut dalam kebisuan. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang. 


"Oh ya, mami akan menyiapkan pernikahan kita dalam minggu ini. Bagaimana menurut kamu?"


Tentu saja keputusan Arlan itu membuat Laura serasa berada di atas awan. Refleks ia melingkarkan kedua tangan ke tubuh kokoh laki-laki itu.


"Jadi apa keputusan kamu? Apa kamu akan menceraikan Mbak Maysha atau mempertahankan pernikahan kalian?" 


“Tidak semudah itu untuk bercerai, Laura. Kamu lupa kalau semua aset-asetku sudah pindah atas nama Maysha?” 


“Jadi bagaimana sekarang?” 


“Aku harus melakukan sesuatu untuk merubah semuanya dulu.” 

__ADS_1


“Serius, Mas?” 


Arlan mengangguk, yang mana mana membuat bola mata Laura berbinar terang. Jika Arlan mengambil kembali semua hartanya yang sudah berpindah atas nama Maysha, itu artinya ia masih memiliki kesempatan. 


“Kalau mami tahu ini mami pasti sangat senang.” 


“Kalau begitu kamu hubungi mami dan beritahu soal ini. Aku mau ke kamar sebelah dulu.” 


Baru saja Arlan hendak berdiri, Laura sudah menarik tangannya. Lantas memeluk laki-laki itu dan bersandar di dadanya dengan manja. 


“Kenapa harus ke kamar sebelah, Mas? Tidur di sini saja sama aku. Selama menikah kamu belum pernah memberiku nafkah batin.”


Pelan-pelan Arlan kembali mengurai pelukan Laura, meskipun wanita itu tampak tak rela. “Aku akan tidur di sini bersama kamu setelah kita menikah secara resmi. Untuk sekarang maaf, aku belum bisa.” 


“Apa bedanya sih, Mas? Toh kita sudah menikah siri dan itu sah di mata agama,” protes Laura, masih tak rela jika Arlan meninggalkannya. 


“Pokoknya aku belum bisa sekarang. Lagi pula tinggal seminggu, kan?” tolak Arlan. “Sudah ya, aku mau mandi dulu, gerah.” 


Tanpa memerdulikan rengekan Laura, Arlan beranjak meninggalkan kamar itu. Laura hanya menatap punggung Arlan dengan bibir mengerucut. Tetapi, kemudian senyum lebar terukir di bibirnya. Ia lantas menghempas tubuhnya di tempat tidur.


“Akhirnya Mas Arlan setuju memindahkan aset-asetnya.” 


Laura segera menyambar ponsel yang tadi diletakkan di meja, lalu menghubungi seseorang. 

__ADS_1


...*** ...


__ADS_2