
Kelopak mata Arlan terbuka secara perlahan. Hal pertama yang hadir dalam pandangannya adalah sebuah ruangan dengan nuansa serba putih. Ada tirai berwarna hijau yang membentang sebagai pembatas.
"Kamu sudah bangun?"
Arlan menoleh ke samping dan mendapati Andre sedang duduk di sisinya. Ia baru sadar bahwa saat ini dirinya sedang terbaring di rumah sakit.
"Kenapa aku di sini?"
"Kamu tadi pingsan di kereta. Untung stasiun sudah dekat, jadi aku langsung membawamu ke rumah sakit. Kamu sudah pingsan selama berjam-jam."
Sebelah tangan Arlan terangkat memijat kepala yang masih terasa berdenyut. Kejadian di kereta tadi memicu trauma di masa lalu. Kejadian mengerikan yang pernah dialaminya seolah terulang kembali.
"Maaf sudah membuatmu repot."
"Wah ajaib sekali, seorang Arlan Alviano meminta maaf."
"Diamlah!"
Andre terkekeh setelah melihat kekesalan di wajah Arlan. "Oh ya, apa yang kamu rasakan sekarang? Apa kamu merasa sakit, atau ada keluhan lain?"
"Tidak, aku baik-baik saja. Hanya pusing sedikit." Arlan kembali memindai ruangan itu. "Bisakah kita pergi dari sini sekarang?"
__ADS_1
Manik hitam Andre membulat mendengar permintaan tak masuk akal itu. Arlan bahkan terlihat masih lemah dan sekarang malah ingin meninggalkan rumah sakit seenaknya.
"Jangan gila! Kalau nanti pingsan lagi bagaimana? Aku tidak akan bisa menggotongmu lagi ke rumah sakit!"
"Jangan berlebihan, Dre! Kita tidak punya banyak waktu. Aku harus memeriksa banyak hal dan memastikan sesuatu!" Arlan hendak turun dari ranjang pasien, namun Andre menghalangi.
"Mau ke mana kamu?"
"Aku tidak mau membuang-buang waktu dengan baring di sini. Kita harus gerak cepat!"
"Santai saja, Arlan! Kita masih punya waktu dua hari sebelum pernikahanmu.”
Ucapan Andre semakin memicu kekesalan Arlan. "Masalahnya aku masih harus memeriksa satu tempat dan itu akan memakan waktu!"
Arlan terdiam sebentar sembari menghela napas panjang.
"Tempatku pernah disekap setelah kecelakaan dan penginapan saat aku tidur dengan Laura."
Andre tampak terkejut mendengar ucapan Arlan. Ia menatap penuh tanya.
"Tunggu! Kamu sudah ingat semuanya?"
__ADS_1
*
*
*
Hari pernikahan tiba.
Suasana rumah terlihat ramai. Semua orang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Bangunan megah nan mewah itu sudah disulap dengan dekorasi pernikahan yang indah.
Para tamu pun mulai berdatangan. Pernikahan yang semula akan dilaksanakan di sebuah hotel mewah urung, karena tiba-tiba Arlan meminta agar pernikahan adakan di rumah saja. Meskipun awalnya kecewa, namun Laura akhirnya setuju. Ia tak ingin memicu pertengkaran. Arlan setuju untuk menikahinya saja sudah bagus.
Hari ini Laura dan mami sudah tampil sempurna. Keduanya masih berada di kamar pengantin. Laura baru saja selesai didandani oleh seorang makeup artist.
“Kenapa Arlan belum datang juga? Kamu sudah hubungi?” Berbeda dengan Laura yang tampak penuh semangat, Mami Gina malah sedikit gelisah. Wanita itu berjalan mondar-mandir sambil melihat ke arah jam dinding.
“Sebentar lagi pasti datang. Tadi katanya sudah siap-siap.”
Arlan sudah tiba dari luar kota sejak semalam. Tetapi tak langsung pulang ke rumah dan memilih menginap di hotel. Lelah dan ingin istirahat dengan tenang menjadi alasannya, sebab sejak kemarin rumah sangat ramai dan Arlan tidak begitu menyukai keramaian.
"Baguslah kalau begitu. Semoga saja Maysha tidak datang dan mengacaukan semuanya," gerutu Mami Gina.
__ADS_1
"Aku malah berharap dia datang dan melihat sendiri Mas Arlan menikahi aku. Supaya dia sadar dengan posisinya sekarang, kalau dia bukan lagi siapa-siapa bagi Mas Arlan."
...****...