Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Memuluskan Rencana


__ADS_3

Kelopak mata Bunda Giany bergerak-gerak ketika merasakan bias cahaya menerpa wajahnya. Lampu yang berasal dari ponsel milik Arlan memang cukup terang. Sehingga membuat ibu mertuanya itu sedikit terganggu dan membuka matanya secara perlahan.


Bunda Giany pun terkejut, hampir berteriak. Namun, sebelum itu ia dapat mengenali wajah menantunya meskipun dalam pencahayaan terbatas. Sedangkan Arlan sudah membeku di tempat. Hampir saja ponsel di tangannya terjatuh.


"Arlan?" Bunda langsung melirik suaminya yang masih meringkuk di bawah selimut. Kemudian menatap Arlan sambil meletakkan jari telunjuk di depan mulut sebagai isyarat agar ia tidak berisik atau menimbulkan suara yang dapat membangunkan ayah mertuanya.


Pelan-pelan Bunda Giany turun dari tempat tidur. Ia sempat memastikan terlebih dahulu bahwa suaminya masih lelap. Kemudian berjalan pelan keluar kamar.


"Mau apa kamu di kamar bunda?" tanya Bunda Giany ketika sudah berada di depan kamar.


Arlan yang masih syok belum dapat menjawab. Beberapa saat ia terdiam sambil mengusap dada. Beruntung Bunda Giany tidak berteriak. Jika itu terjadi, mungkin lehernya sudah putus ditebas ayah mertua.


"Maaf, Bunda. Salah masuk kamar."


"Jadi maksudnya kamu mau nyelinap ke kamar Maysha?"


Dalam pencahayaan temaram, Arlan mengangguk. "Tolong, Bunda. Saya perlu waktu berdua saja dengan Maysha untuk menjernihkan masalah di antara kami. Saya tahu saya sudah terlalu banyak menyakiti Maysha. Saya mau memperbaiki semuanya, Bunda."


"Bunda mengerti, Arlan. Tapi sekarang Maysha sedang istirahat. Kenapa kamu tidak tunggu besok saja? Kalian bisa bicara banyak besok."


"Justru sekarang waktu yang paling tepat, Bunda."


"Maksud kamu?"

__ADS_1


Sebenarnya, Arlan ragu untuk memberitahu rencananya kepada Bunda Giany. Sebab bunda mungkin tidak akan setuju. Apalagi rencananya sekarang ini memang cukup ekstrim.


"Saya mau bawa Maysha pergi keluar negeri, Bunda." Arlan menjeda ucapannya dengan tarikan napas. "Malam ini."


Bunda Giany tersentak. Hampir tak percaya dengan apa yang didengarnya. Namun, ia paham betul seorang Arlan Alviano memang sanggup melakukan hal-hal mustahil untuk Maysha. Termasuk menculik dan membawanya keluar negeri.


"Kamu yakin?"


Lagi, Arlan mengangguk. "Sebelum kecelakaan tiga tahun lalu, saya pernah menyiapkan kejutan bulan madu untuk Maysha ke kota impiannya. Saya mau mengulang semuanya dari awal di sana, Bunda."


Sudut mata Bunda Giany berkerut tipis. "Kamu sudah ingat semuanya?"


"Sudah, Bunda. Makanya saya mau bawa Maysha pergi beberapa hari."


Terharu, Bunda Giany melelehkan air mata. Entah mengapa semakin ditahan semakin deras. Ia sendiri menjadi saksi betapa terpuruknya Maysha kehilangan suaminya tiga tahun lalu. Butuh berbulan-bulan bagi Maysha untuk bangkit kembali. Dan sekarang kesempatan bahagia datang menghampiri.


"Tidak, Bunda. Makanya saya mau bawa Maysha diam-diam." Arlan tahu untuk saat ini Maysha tidak akan mau ikut dengannya. Terlalu banyak salah paham yang terjadi di antara mereka. Karena itulah ia memilih cara ini untuk memperbaiki semuanya.


Bunda Giany sempat mengerutkan dahi. Sebelum akhirnya terkekeh setelah mampu menebak isi pikiran menantunya.


.


.

__ADS_1


Arlan dapat bernapas lega sekarang. Tadinya ia pikir rencananya menculik Maysha akan gagal setelah kedapatan Bunda Giany. Di luar perkiraan, ibu mertuanya itu malah memberikan lampu hijau dan justru membantu memuluskan rencananya.


Sekarang keduanya sudah berada di kamar Maysha. Wanita itu tampak sangat lelap dalam balutan selimut. Ingin sekali Arlan memeluk seerat-eratnya demi mengurai kerinduan yang mengendap di hati.


Arlan mengeluarkan jarum suntik dari saku jaket dan juga botol kecil berisi obat penenang. Obat itu ia dapatkan dari hasil memaksa Michella tadi.


"Maafkan aku, Sayang. Aku terpaksa melakukan semua ini," bisik Arlan seraya menancapkan jarum suntik di lengan kanan istrinya.


Bunda Giany yang berada tepat di sebelah putrinya sesekali menatap khawatir.


"Aman?" tanyanya.


Sejenak Arlan melirik wanita itu. "Aman, Bunda. Ini yang kasih Michella. Katanya ini obat penenang yang paling aman."


Bunda Giany mengangguk paham. Ia percaya dengan Michella yang merupakan sahabat Maysha sejak kecil. Bunda juga berteman sangat baik dengan kedua orang tua Michella.


Setelah memastikan Maysha sudah benar-benar lelap di bawah pengaruh obat penenang, Arlan menggendongnya keluar kamar. Mengikuti Bunda yang sudah berjalan lebih dulu melewati pintu belakang.


Malam ini bunda benar-benar membantunya membawa kabur Maysha. Hingga akhirnya, misi selesai. Arlan membaringkan Maysha di kursi belakang mobil. Sebuah bantal boneka ia gunakan untuk menyangga kepala istrinya itu.


Andre yang duduk di kursi kemudi hanya dapat menggeleng tak percaya melihat kelakuan Arlan yang berkolaborasi dengan ibu mertua.


"Gila! Ini namanya nyulik istri sendiri!"

__ADS_1


.


.


__ADS_2