Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Anak Siapa?


__ADS_3

Waktu sarapan sudah tiba.


Maysha sudah duduk di kursi. Hari ini ia merasa kondisi fisiknya jauh lebih baik dibanding hari-hari kemarin, sehingga memilih untuk memulai aktivitasnya kembali. Dibanding harus tinggal di rumah dan terus bertemu dengan Laura, lebih baik bertemu banyak pasien di rumah sakit.


Pagi ini Arlan juga tampak sudah rapi dengan setelan pakaian kerja. Kini ia sedang menyantap menu sarapan buatan Maysha. Sementara di sampingnya ada Laura yang sejak tadi berusaha memamerkan kemesraannya dengan Arlan di meja makan.


“Apa hari ini kamu ada waktu, Mas? Aku harus pergi ke butik memilih gaun untuk kupakai di hari pernikahan kita.” Laura melingkarkan tangan di lengan Arlan. Suaranya dibuat semanja mungkin, seolah sengaja ingin memperdengarkan kepada Maysha.


“Aku sibuk hari ini. Ada urusan penting dengan Andre,” tolak lelaki itu.


“Tapi kamu juga harus fitting jas, kan? Pernikahan kita dalam minggu ini loh. Tadi mami menghubungi aku dan meminta kita mendatangi butik langganannya.”


“Baiklah, aku usahakan menyempatkan waktu, tapi tidak janji.”


Bibir Laura melukis senyum lebar. “Terima kasih, Mas.”


“Hemm.” Arlan hanya berdehem pelan sambil mengusap bibirnya dengan selembar tissue. Sesekali Arlan melirik Maysha yang pagi ini bersikap acuh tak acuh. “Aku harus berangkat sekarang.”


“Aku tunggu di Butik Elvira sore ini,” tambah Laura.


Arlan tak lagi menyahut. Ia bangkit dari kursi dan berjalan cepat keluar rumah. Meninggalkan Laura dan Maysha berdua di meja makan.

__ADS_1


“Oh ya, Mbak Maysha juga boleh ikut. Mbak Maysha juga harus tampil cantik di pernikahan aku.”


Sekilas Maysha melirik Laura yang sejak tadi memamerkan kebahagiaannya. “Kamu tidak takut aku tampil cantik di hari pernikahan kamu?”


Seketika senyum di bibir Laura menghilang. Tetapi, tentu saja ia tak ingin sampai kalah oleh Maysha di hadapan Arlan.


“Kenapa harus takut? Apapun yang terjadi Mas Arlan akan tetap menikahi aku.” Laura menyeruput secangkir teh sebagai penutup sarapannya. “Justru Mbak Maysha yang harus hati-hati. Setelah Mas Arlan menikahi aku secara resmi, posisiku di rumah ini akan lebih kuat dibanding Mbak Maysha, karena aku sedang mengandung anak Mas Arlan.”


“Yakin janin di perut kamu itu anak Mas Arlan?”


Sontak saja ucapan Maysha membuat sepasang mata Laura melotot marah. Tak terima dengan perkataan bernada tuduhan itu, Laura berdiri dari duduknya.


Segala kemungkinan memang bisa terjadi, kan? Apa lagi Mas Arlan dalam keadaan tidak mengingat apapun.” Maysha menyematkan tali tas ke bahu kanannya. “Sudah ya, aku harus cepat ke rumah sakit. Banyak pasien hari ini.”


...**...


...**...


Setibanya di kantor, Arlan menuju ruang kerja Andre dengan tergesa-gesa. Untung saja pagi ini ia cepat menghubungi Andre dan memintanya untuk datang lebih awal. Sehingga saat Arlan tiba, Andre sudah datang lebih dulu dan sedang menunggunya di ruangan.


Tanpa basa-basi Arlan langsung mengutarakan maksud dan tujuannya meminta Andre datang lebih awal. "Kamu sudah siapkan tiket untuk keluar kota besok?" tanyanya.

__ADS_1


"Semuanya sudah siap. Kita akan berangkat besok pagi jam delapan."


"Bagus. Ingat, ini perjalanan rahasia. Tidak ada yang boleh tahu kita ke mana."


"Aman! Aku sudah mengatur semuanya sesuai keinginanmu."


Arlan mengangguk pelan. Sekarang ada satu hal lagi yang harus ia lakukan sebelum keluar kota.


“Oh ya, apa kamu mengenal seseorang yang bekerja di restoran papi yang pernah kebakaran?” Pertanyaan itu membuat Andre sedikit terkejut.


“Tentu saja aku kenal beberapa manager. Memang kenapa?”


“Aku mau rekaman CCTV tepat di hari kejadian kebakaran itu!”


Dahi Andre berkerut tipis. Pikirannya menerawang menebak untuk apa Arlan meminta rekaman kejadian yang sudah berlangsung sangat lama tersebut. Sebenarnya Andre pun ragu apakah rekaman tersebut masih ada atau tidak.


“Buat apa? Kebakaran itu terjadi lebih dari 20 tahun lalu. Mau kamu apakan rekaman CCTVnya?” Sudut mata Andre menyipit tipis.


“Aku tidak mau tahu terjadi 20 tahun lalu atau 100 tahun lalu. Pokoknya aku mau rekaman CCTV itu ada di hadapanku hari ini juga!” Arlan menatap Andre serius. “Tapi jangan sampai mami tahu kalau aku meminta rekaman itu.”


...****...

__ADS_1


__ADS_2