
“Bunda, makasih sudah mengizinkan saya membawa Maysha pergi,” ucap Arlan, tampak sedikit sungkan kepada ibu mertuanya.
“Sama-sama, Arlan. Yang penting sekarang kamu jernihkan masalah di antara kalian berdua. Kalian memang butuh ke tempat yang hanya ada kalian berdua.”
Arlan mengulas senyum. Mertuanya itu memang sangat pengertian dan lembut. Arlan merasa beruntung mendapatkan Maysha. Membuatnya turut mendapatkan kasih sayang seorang ibu yang selama ini tak pernah ia dapatkan dari Mami Gina.
“Tapi, Bunda. Bagaimana dengan ayah dan adek-adek yang lain? Mereka pasti marah saya bawa pergi Maysha tanpa izin.”
“Tanpa izin bagaimana? Kan bunda sudah kasih izin.” Bunda Giany mengusap bahu menantunya itu. “Sudah, kamu tidak usah pikirkan. Nanti biar bunda yang atasi mereka.”
“Bunda yakin ayah tidak akan ngamuk?” tanyanya seakan ragu.
“Kan bunda pawangnya.”
Arlan terkekeh. Bunda Giany memang sungguh luar biasa. Ia selalu mampu meredakan ketegangan yang terjadi. Bunda juga lah yang pertama kali memberi restu kepada Arlan saat ingin meminang Maysha.
“Bunda cuma mau titip anak kesayangan bunda. Jaga dan bahagiakan dia. Kamu tidak tahu seberapa terlukanya Maysha saat kehilangan kamu tiga tahun lalu.”
“Iya, Bunda. Saya janji tidak akan pernah menyakiti Maysha lagi.”
Sejenak bunda melirik ke dalam rumah. Takutnya jika salah satu penghuni rumah menemukan mereka di sana. Bisa gagal rencana bulan madu Arlan dan Maysha.
“Sekarang cepat berangkat!”
Arlan akhirnya berpamitan dengan Bunda Giany. Sebelum pergi ia mencium punggung tangan sang bunda.
__ADS_1
“Terima kasih, Bunda.”
“Iya, Nak. Kalian hati-hati, ya. Kalau sudah sampai kabari bunda.”
Arlan mengangguk seraya tersenyum. Lalu bergegas menuju mobil yang terparkir dari jarak beberapa puluh meter dari mereka.
“Ayo jalan, Ndre!” ucap Arlan sesaat setelah naik ke mobil. Ia meletakkan kepala Maysha di pangkuannya.
“Kok tadi lama, sih?” tanya Andre. Ia cukup heran dan bertanya-tanya mengapa Arlan menghabiskan waktu hampir satu jam untuk bisa membawa Maysha keluar dari rumah.
“Sempat salah masuk ke kamar mertua.”
Spontan saja mulut Andre terbuka. Bola matanya membulat. Ia langsung menoleh ke belakang. “Maksudnya kamu salah masuk ke kamar Dokter Allan?”
“Iya. Untuk cuma bunda yang bangun.”
“Gila! Untung tidak salah culik kamu. Bisa ditebas mertua kalau sampai nyulik Bunda Giany.”
Arlan terkekeh membayangkan ucapan Andre. Ayah mertuanya itu memang memiliki kadar posesif cukup tinggi. “Bahasnya sambil jalan aja. Ayo cepat jalan ke bandara, Ndre! Waktu kita tidak banyak.”
Baru tersadar dengan waktu, Andre segera menyalakan mesin mobil. Kemudian melaju di keheningan malam.
Sepanjang jalan menuju bandara Arlan terus memandangi wajah polos Maysha yang lelap di pangkuannya. Sebelah tangannya bergerak membelai kepala yang terbalut hijab. Kemudian turun membelai wajah. Arlan begitu mengagumi setiap pahatan indah wajah istrinya itu. Yang paling ia suka adalah bibir dan hidung.
Ah, rasanya sudah tidak sabar melewati waktu berdua saja dengan sang istri. Mewujudkan keinginan Maysha untuk berbulan madu di kota impiannya. Dan tentunya melewati malam pertama yang tertunda selama tiga tahun.
__ADS_1
**
**
Saat ini keduanya sudah berada di kabin jet pribadi yang mewah. Kabin yang disulap menyerupai kamar hotel itu benar-benar menawarkan kenyamanan dan berbagai fasilitas.
Pesawat itu sendiri sudah mengudara selama delapan jam, namun Maysha belum juga terbangun. Efek obat penenang yang tadi disuntikkan Arlan membuat Maysha tidur nyenyak.
Arlan melepas hijab yang menutupi rambut istrinya. Lalu menarik selimut yang melorot dan membalut tubuh mereka. Udara di dalam kabin cukup dingin. Jika saja Maysha tidak sedang dalam keadaan tidur, mungkin sudah terjadi sesuatu yang paling diinginkan di antara mereka.
Sejak tadi Arlan terus menciumi wajah polos itu. Bermula dari kening, kelopak mata, pipi, dagu dan bibir. Begitu terus berulang-ulang. Tak ada kata cukup.
Hingga akhirnya Maysha mulai menunjukkan respon dengan gerak tubuhnya. Ia menggeliat pelan ketika merasakan benda kenyal dan lembut bermain di wajahnya.
Perlahan kelopak matanya terbuka. Pandangannya bertemu dengan sepasang manik hitam yang menatapnya lembut.
"Kamu sudah bangun, Sayang?"
*
*
*
follow IG kolom langit untuk informasi seputar karya. 🤗🤗🤗
__ADS_1
Luv u all