Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Ibadah Bersama


__ADS_3

Kata orang bijak, cinta sejati selalu datang pada saat yang tepat, waktu yang tepat dan tempat yang tepat. Ia tak akan pernah tersesat ataupun tertukar. Dan ia selalu tahu rumah yang dituju.


Arlan sudah membuktikan itu sendiri. Tidak mudah untuk mewujudkan cintanya dengan Maysha. Berbagai ujian datang dan membentang jarak di antara keduanya. Namun, Arlan memiliki keyakinan dalam hati bahwa Maysha-lah pelabuhan terakhirnya, dan semesta selalu punya cara yang unik untuk menyatukan mereka kembali.


Kini harapan Arlan hanyalah menghabiskan sisa waktu yang ia miliki bersama wanita kesayangannya itu, dan membayar rasa sakit yang pernah diberikan kehidupan padanya.


“Bukannya tadi sore sudah mandi, ya?” tanya Arlan ketika melihat sang istri keluar dari kamar mandi dengan jubah yang membalut tubuhnya.


“Aku habis mandi wajib,” jawabnya dengan seulas senyum. “Kamu mandi wajib juga ya, Mas. Aku sudah siapkan air hangat di kamar mandi. Terus habis itu kamu wudhu.”


“Siap, Boss! Tapi kamu dandan yang cantik malam ini.” Sambil mengedipkan sebelah matanya.  “Pakai baju yang tadi beli di mall, ya. Sudah dilaundry, kan?”


Maysha hanya menyahut dengan senyum. Lalu Arlan memasuki kamar mandi dengan penuh semangat. Ia melakukan semuanya sesuai permintaan sang istri.


15 menit ia habiskan di kamar mandi. Berharap saat keluar nanti akan melihat tampilan Maysha dalam bentuk yang sangat indah. Gaun malam berenda yang sempat ia beli di mall tadi pasti sangat menggoda jika dipakai Maysha. Rasanya Arlan sudah tidak sabar melewati malam indah ini.


Namun, saat keluar dari kamar mandi ia terpaku di tempat. Bagaimana tidak, Maysha sedang tersenyum ke arahnya dalam balutan mukena putih, bukan dengan gaun malam tipis seperti yang ia pikirkan tadi. Arlan memandangi wanita itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Bisa dibilang ini adalah versi Maysha paling cantik yang pernah ia lihat.


“Sudah selesai?” tanya Maysha.


Arlan mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


“Sudah wudhu, kan?”


“Sudah.”


Lagi, wanita itu tersenyum. Senyum yang mampu menggetarkan hati Arlan lebih hebat dari sebelum-sebelumnya.


“Kata bunda segala sesuatu harus dimulai dari yang baik, supaya menghasilkan sesuatu yang baik juga dan membawa berkah dan kebaikan untuk semua. Kita shalat bareng, yuk. Kamu mau kan menjadi imamku?”


Arlan menatap penuh cinta. Ada senyum tipis di sudut bibirnya ketika Maysha menyerahkan baju koko bersama sarung dan peci, yang juga sempat dibelinya di mall tadi.


“Ya, Sayang. Tapi apa boleh aku wudhu ulang dulu?”


“Bukannya sudah?”


Maysha mengatupkan bibir demi menahan tawa. Ia mengangguk pelan. Membuat Arlan segera beranjak menuju kamar mandi.


Malam itu bulan bersinar terang.


Di kamar itu sajadah membentang menghadap ke arah kiblat. Maysha berdiri di belakang sang suami sebagai makmum. Ada perasaan bahagia dan penuh syukur dalam hatinya yang tak dapat ia gambarkan dengan kata.


Suara Arlan yang merdu berkumandang di ruangan itu. Tanpa sadar Maysha melelehkan cairan bening. Pertama kali ditinggal Arlan ia begitu patah hati. Bahkan ia belum pernah memiliki kesempatan untuk bisa menjalankan ibadah dengan diimami sang suami.

__ADS_1


Setiap malam ia terbangun dan bersujud. Menangis menyebut nama suaminya dalam setiap doa. Meskipun rasanya kemungkinan itu sangat kecil untuk Arlan selamat dan kembali. Hanya keyakinan kepada sang pencipta yang membuatnya bertahan. Namun, sekarang Maysha telah membuktikan sendiri kekuatan doa itu. Arlan kembali padanya dalam keadaan utuh.


Hati Maysha semakin menghangat ketika bibirnya menyentuh punggung tangan sang suami, lalu dibalas Arlan dengan ciuman singkat di kening. Kini keduanya duduk saling berhadapan di atas sajadah.


“Bee, terima kasih untuk semua yang kamu berikan untukku. Aku mungkin hanya akan berakhir menjadi pemuda berandalan kalau tidak bertemu dengan wanita sebaik kamu. terkadang aku merasa seperti iblis, dan kamu seperti malaikat. Tapi, aku janji akan belajar lebih baik lagi untuk bisa menjadi suami yang layak untuk kamu.”


Tak ada kata yang terucap dari bibir Maysha. Ia membeku. Hanya kristal bening yang mengalir semakin deras dari kedua bola matanya. Ruangan itu pun dipenuhi dengan isak tangis.


Arlan segera membenamkan wanita itu ke pelukannya. Mengusap punggung berulang-ulang.


“Jangan tinggalkan aku lagi, Mas,” lirih Maysha.


“Enggak, Sayang. Aku akan selalu ada untuk kamu,” bujuknya sambil menciumi puncak kepala sang istri yang terbalut mukena.


Bukannya reda, tangis Maysha malah semakin menjadi-jadi. Ia yang selama ini terlihat tangguh dan kuat, kini menunjukkan sisi lemahnya sebagai wanita.


“Aduh, kok jadi melow begini, sih?”


***


***

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2