Ingat Aku, Suamiku!

Ingat Aku, Suamiku!
Cappadocia Kota Impian


__ADS_3

Hai ... hai ... lama gak ketemu. Maafkeun otorsesat ini kelamaan hibernasi. 🤭


Siapa yang kemarin ikut Give Away 3 tahun bersama Kolom Langit di Instagram? Yang belum klaim hadiahnya, cepat yaaa. Aku masih nunggu loh.


Btw terima kasih sudah tetap setia menunggu cerita ini. Jangan lupa di akhir kisah Kita akan bagi-bagi pulsa lagi untuk pembaca setia. 🤗


Selamat membaca !!!


*


*


*


“Kamu modus ya, Mas?” Sudut mata Maysha menatap penuh curiga. 


“Modus kenapa? Enggak!” bantah Arlan sembari menyeruput secangkir capuccino. “Aku hanya memberi saran. Barangkali malam ini kamu tertarik menyenangkan suami. Kata Bunda Giany, pahala besar kalau istri menyenangkan suami.” 


“Kapan bunda ngomong gitu?” tanya Maysha pura-pura tak mengingat. 


“Aku masih ingat pesan bunda malam itu,” gerutu Arlan. “Jangan bilang sekarang kamu yang amnesia!”


Spontan kedua sisi pipi Maysha merona. Apalagi setelah Arlan memberi isyarat melalui kerlingan mata. 


“Kamu nguping pembicaraan aku sama bunda?” 


“Bukan nguping, Sayang. Kalian yang ngomongnya kencang. Aku cuma kebetulan dengar. Sayangnya malam itu ada palang merah,” ucapnya penuh sesal diiringi decakan lidah.


Maysha terdiam. Berusaha menghilangkan rasa gugup. Aneh memang! Mereka sudah menikah sejak tiga tahun lalu. Namun, rasa gugup masih menyerang Maysha jika berada di dekat sang suami. 

__ADS_1


Tak terasa waktu bergerak sangat cepat. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam di pusat perbelanjaan, keduanya beranjak menuju hotel. 


Sepanjang jalan, Maysha dibuat berdecak kagum oleh keindahan kota impiannya itu. Bahkan saat memasuki hotel, mereka disambut dengan pelayanan paripurna. Maysha tidak pernah menyangka bahwa kejutan yang disiapkan sang suami ternyata semanis ini. 


“Suka?” tanya Arlan saat melihat Maysha berdiri di jendela sambil menatap keluar. Kamar hotel yang mereka tempati langsung mengarah pada area pertunjukan balon udara, yang merupakan destinasi utama di kota itu. 


“Suka sekali, Mas. Ternyata melihat langsung lebih indah dibanding yang selalu aku lihat di TV!” 


Arlan melangkah mendekat. Kedua tangannya melingkar di pinggang ramping wanita itu. Lalu, sebuah ciuman singkat mendarat di pipi kanan sang istri. 


Maysha merasakan tubuhnya bergetar hebat layaknya tersengat aliran listrik. Setiap sentuhan Arlan meninggalkan rasa hangat di hatinya.


“Mandi dulu, yuk! Aku masih ada kejutan yang lain untuk kamu.” 


“Kejutan apa, Mas?” Maysha membalikkan tubuhnya. Ia tatap sang suami penuh cinta. Membuat Arlan menciumi keningnya. 


“Ada deh. Kalau aku beritahu namanya bukan kejutan lagi.” 


"Tunggu dulu!"


"Apa lagi?"


"Maksud aku, mandinya bareng." Arlan berbisik mesra, membuat sepasang mata Maysha membeliak.


Apa? Mandi bersama? Hanya mendengar kalimat itu saja sudah berhasil membuat jantung Maysha jedag-jedug.


*


*

__ADS_1


*


Kebahagiaan seolah jatuh ke pangkuan Maysha Hadikusuma. Tiga tahun hidup dalam rasa sakit kehilangan sang suami hari ini terbayar lunas. Hari ini Arlan memberinya banyak kejutan indah dan tak terduga.


Mulai dari kamar hotel yang langsung mengarah ke pertunjukan balon udara, mandi di air hangat bersama yang romantis, sampai makan malam dengan pemandangan malam di Cappadocia, dan juga beberapa kejutan lainnya—yang membuat Maysha merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia. 


Maysha tidak pernah menyangka bahwa di dalam diri seorang Arlan Alviano yang dingin dan kaku itu ada sosok suami yang hangat dan romantis. Setiap kejutan yang diberikan Arlan seola menunjukkan kepada dunia tentang seberapa berharganya Maysha baginya. 


Cahaya lampion menghiasi langit berbintang di Cappadocia malam itu, sebagai penutup rangkaian kejutan yang dipersiapkan Arlan untuk sang istri. Ditemani berbagai hidangan khas Turki yang menjadi favorit Maysha.  


"Terima kasih sudah memberikan semua ini untuk aku, Mas. Aku tidak mau apa-apa lagi sekarang," bisik Maysha penuh syukur. Bisa bersama Arlan sekarang ini adalah sebuah kemewahan yang tidak bisa dinilai dengan harta benda. 


“Jangan bicara seperti itu, Sayang. Kamu harus minta apapun padaku. Aku kembali untuk mewujudkan semua mimpimu dan mengganti tiga tahun kita yang terlewat.” 


 


Larut dalam rasa bahagia, Maysha membenamkan tubuhnya dalam pelukan sang suami. Menikmati kehangatan yang mengalir dari tubuh tegap lelaki itu. Sangat nyaman dan tentram.


“Terima kasih sudah kembali ke dalam hidupku,” ucap Maysha seraya membenamkan ciuman di pipi sang suami.


"Terima kasih juga sudah bertahan, Sayang." 


Keduanya saling mendekap satu sama lain. Seolah tak ingin lagi terpisah oleh jarak dan waktu. Hingga beberapa menit berlalu, Arlan melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. 


"Kita ke kamar sekarang, yuk! Kamu harus membayar semua perjuanganku menghadapi ayah dan adik-adikmu sampai kita bisa ada di kota ini." 


**


**

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2