
"Aku berjanji padamu Risa!!" Tegas suara Rega meyakinkan Clarisa untuk menerima tawaran kerja di kota.
"Kau pasti akan menjadi sekertaris di kantor tempatku bekerja".
"Benarkah aku bisa bekerja di kantormu?". Antusias Risa bertanya hanya sekedar untuk meyakinkan dirinya sendiri.
"Tentu saja Risa sayang!". Seringai penuh arti dari Rega tergambar jelas dari suaranya di ujung sana. Entah apa yang di rencanakannya.
"Tapi...". Lanjut Rega.
"Tentu ada syaratnya!!". Suaranya terdengar serius.
"A...apa?" tanyanya sedikit ragu namun tetap antusias tak sabar ingin segera mewujudkan impiannya menjadi seorang pegawai kantoran.
"Kau harus menikah denganku Risa".
Hening beberapa saat, tak ada respon apapun yang di terima Rega.
"Risa? apa kau mendengarku?".
masih hening.
Dengan sedikit berteriak Rega kembali memanggil namanya
"Risa!".
"Apa bisa kau ulangi kata-katamu Rega?!". Akhirnya Risa menyahut dengan suara agak ketus.
"Ya seperti yang kau dengar", Jawabnya santai. "Kau harus menjadi istriku!!".
"Tidak!!!". Suara Risa mulai terengah marah.
"Tentu itu tidak akan pernah terjadi!!!". Risa membanting gagang telepon dengan kuat sebagai luapan kekesalannya.
Bagaimana mungkin dia harus menikahi Rega. Baginya Rega adalah lelaki hidung belang yang pernah di kenalnya. Risa berani berhubungan dengan Rega hanya karna pekerjaan.
Rega adalah salah seorang Remaja teman bermainnya di kota kecil tempat mereka tinggal. Selama bermain bersama Rega, Risa sering menemukannya berganti kekasih. Dari sekian banyak kekasihnya, tidakk seorangpun yang bertahan lama menjalin hubungan dengan Rega.
Menurut Risa, pandangan mata Rega pada para wanita selalu memuakkan baginya, seperti ada hal kotor yang terlintas dari pandangan itu, hal itu membuat Risa selalu menjaga jarak dengan Rega.
Namun selama bermain bersama Risa, Rega tak pernah sekalipun berusaha menggodanya. Bahkan dimata ayah dan ibu Risa, Rega adalah lelaki yang baik, pandai dan sopan, apalagi melihat status Rega saat ini yang telah mapan, bekerja di kota besar dan di sebuah perusahaan kaya dan ternama.
Hingga pernah suatu hari ayah Risa mencoba untuk menjodohkan mereka, tapi tentu saja Risa menolak.
Ayah Rega dan ayah Risa adalah teman baik, mungkin karna itulah mereka berusaha dijodohkan, dan Rega pun tak pernah berani menggodanya. Tapi kali ini berbeda, entah kenapa Rega mulai lancang pada dirinya.
"Apa yang terjadi nak, kenapa marah-marah?". Dari sudut ruang keluarga berukuran 6 kali 6 dengan beberapa guci dan buvet menghiasi, muncul ayah Risa membawa sebuah kertas kecil yang terlihat seperti sebuah kartu nama.
__ADS_1
"Tidak ada ayah". Risa berusaha mengalihkan ekspresinya karna tak ingin ayahnya tau dengan siapa dirinya berbicara di telpon.
"Kartu nama siapa yang ayah pegang?". Sambil melirik dan mengerutkan kening Risa berusaha membaca kartu itu dari jauh walaupun dia tau itu sia-sia.
"Kemarin ayah bertemu dengan om Kalo dan kami banyak berbincang". Ayah Risa mulai terlihat sangat serius menyebut nama itu, tidak seperti biasanya. Begitupun dengan Risa. Mendengar nama itu membuat rasa kesalnya yang tadi hampir hilang, kembali lagi.
Om Kalo adalah ayah dari Rega. Rega Putra Kalo, anak dari Erwin Kalo seorang pensiunan pegawai negeri.
"Ayah dan ibu akan menjodohkanmu dengan Rega". Ditatapnya mata anaknya dalam.
Risa hanya terdiam. Kalimat yang selalu dihindari Risa dari orang tuanya harus kembali didengarnya. Hal yang akan selalu ditolaknya namun tak pernah mampu untuk dikatakan.
Risa adalah anak yang penurut sejak dahulu. Tak pernah sekalipun menentang segala kehendang orangtuanya. Tapi Risa selalu membutuhkan alasan dari semua keputusan ayahnya.
"kenapa ayah?". Tanyanya dengan mata sendu.
"Aku...". suaranya tertahan di tenggorokan.
"Aku....tidak menyukai Rega ayah. dia...". Tentu saja dia tak bisa melanjutkan kalimatnya dan memberikan alasan mengapa dirinya tak menyukai Rega. Bagi orangtuanya Rega lelaki sempurna.
"Rega adalah lelaki yang sempurna untukmu nak".
"Ayahnya berkata kau akan memiliki pekerjaan bagus dikantornya setelah menikah dengan Rega, seperti yang kau impikan selama ini".
"Rega juga sempat berbicara melalui telepon dengan ayah, dia lelaki yang baik, dia akan memberikan segala yang kau inginkan". Sambil tersenyum bahagia ayahnya termakan oleh iming-iming yang dijanjikan Rega.
"Tapi ayah, aku sungguh-sungguh tidak menyukai Rega." Setitik air mata mulai menyeruak dari ujung matanya.
"Ya dia lelaki yang mapan dan..." Risa mulai sesenggukan.
"Risa sayang." Panggil ayahnya.
"Ayah dan ibumu ingin kau bahagia, dan keluarga Rega sudah sangat dekat dengan kita." Ayahnya mendekati Risa dan mengelus kepalanya.
Risa masih sesenggukan.
"Ayah tidak mungkin menyuruhmu menikah dengan Rega jika tidak benar-benar mengenal Rega dan keluarganya."
"Ta...tapi ayah..." Air matanya terus mengalir.
"Jika kau ingin ayah dan ibumu bahagia, menikahlah dengan Rega."
Risa semakin menangis sesenggukan tak bisa menahan gejolak kesedihan hatinya.
Dari arah belakang, ibunya hanya bisa menatap dan menangis,tak berani mendekat sekedar menengkan hati anaknya.
Ibunya pun tak ingin memaksakan kehendak pada Risa, namun apapun yang menjadi keputusan ayahnya adalah sebuah perintah.
__ADS_1
Tangis Risa berlangsung cukup lama.
Risa tak bisa berkata apapun lagi jika ayahnya telah memutuskan.
Dan jika ini akan membuat ayah dan ibunya bahagia dengan semua bayangan kehidupan bahagia yang akan didapatkan anak gadis sematawayangnya itu.
Tak ada yang bisa dilakukannya selain menerima dan berusaha menanamkan pikiran positif bahwa Rega yang dahulu berbeda dengan Rega yang sekarang. Mungkin saja dia telah berubah, pikirnya saat itu. Tetapi dalam hati kecilnya tentu saja Risa tetap menolak keras untuk menikah dengan Rega, mungkin saja dia bisa membuat pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menerima dan menjalankan perintah ayahnya, dan entah bagaimana caranya kelak, Risa akan berusaha.
Setelah tangisan Risa mulai mereda, ayahnya kembali menimpali.
"Ayah telah membelikanmu tiket bus, bersiaplah."
Risa sontak menatap ayahnya.
"Apakah harus secepat ini ayah?" Tangisnya kembali.
"Iya sayang, ayah dan ibu ingin kau segera bahagia." Tegas ayahnya.
"Bertemulah dahulu dengan Rega, dekatkan dirimu dengannya." Perintah ayahnya.
"Tapi ayah..."
"Sudahlah nak, ini demi kebahagiaanmu." Ayahnya mengelus kepala Risa lalu pergi meninggalkannya.
Air mata Risa terus mengalir.
"Nak." Ibunya menghampiri, duduk disamping Risa memeluk tubuhnya yang basah bergelimang air mata.
"Ibu tak bisa melakukan apapun untukmu." Mereka menangis bersama.
Risa tak mampu berkata apapun, hanya bisa memeluk erat ibunya dan menangis dipundaknya.
"Anggap saja ini adalah kesempatanmu bekerja di kota besar nak." Hibur ibunya.
Risa masih tak mampu berkata.
"Kata orang, dikota besar banyak berbagai macam makanan lezat." Masih berusaha menghibur Risa.
"Tapi bu, aku tak menyukai Rega." Tangisnya kembali pecah.
"Ibumu mengerti nak, tapi ibu tak bisa membantu apapun, hanya bisa mendoakannmu, bahkan menghiburmupun ibu tak bisa." ibunya kembali menangis tersedu.
Risa merasa semakin sedih melihat ibunya menangis.
Dengan upaya yang kuat, Risa mengembalikan seluruh kekuatan hatinya, menghentikan rasa sedih dan tangisnya.
"Bu, maafkan aku." Mengusap air matanya sendiri, kemudian mengusap air mata ibunya.
__ADS_1
"Demi ibu, aku akan kuat, aku akan menjalani ini semua." Dia memeluk ibunya erat, menguatkan dirinya dan ibunya.
"Aku berjanji akan bahagia." Janjinya pada diri sendiri dan ibunya.