
Suara ketukan dari arah pintu membuyarkan lamunan Risa.
"Keluarlah, makan malam sudah siap." Rega berbicara dari balik pintu.
"Ya." Jawabnya datar.
Risa keluar dari kamarnya disambut dengan aroma spageti berbaur dengan saus bolognais ditaburi setumpuk keju menjalari indra penciuman Risa, mengirimkan signal pada indra pengecap dan menciptakan gemuruh suara dari perutnya.
Hari yang berat baginya, hingga lupa akan perutnya yang meraung minta diisi.
Risa duduk di meja makan, sesaat melahap spageti dihadapannya dengan tatapan kemudian tanpa aba-aba dan tanpa memperdulikan Rega sang pemilik apartemen, Risa langsung menyambar spageti, menghabiskannya tanpa sisa, menikmati setiap detail perpaduan rasa dilidahnya.
Kecelakaan yang dialaminya seolah menguras seluruh energinya, membutuhkan pengisian ulang pada lambungnya yang kosong.
Risa meneguk segelas air setelah dirasa cukup untuk makan malamnya. Wajahnya kembali terlihat berwarna walaupun badannya masih terasa sangat lelah. Hatinya sedikit terobati.
"Sepertinya kau sudah kembali bugar." Komentar Rega melihat bagaimana rakusnya Risa melahap hidangan yang disajikannya.
"Melihatmu seperti ini aku sangat senang."
Rega terdiam sejenak memberikan ruang bagi Risa untuk beristirahat stelah berperang dengan spageti buatannya.
"Mungkin kita bisa sedikit membahas rencana pernikahan kita." Lanjut Rega.
Wajah Risa kembali datar. Tidak suka dengan topik yang akan diangkat Rega dihari pertama mereka bertemu dan Risa masih dalam keadaan tubuh yang lemah.
"Tenang saja, ini tidak seperti yang kau pikirkan Risa sayang."
Tentu saja tidak seperti yang kau pikirkan. Benak Rega.
"Anggap saja ini seperti menikah kontrak." Jelasnya.
"Kita hanya akan menikah, yaaah...mungkin sekitar 2 bulan." Lanjutnya.
"Aku hanya membutuhkan status, ada hal yang harus kuurus dengan status menikah."
Kau akan tau nanti sayang, apa yang menjadi urusanku.
__ADS_1
Risa tetap terdiam, mendengarkan apa yang menjadi rencana Rega.
"Setelah itu kau bisa bebas, pekerjaan akan tetap menjadi milikmu."
Jika kau mampu bertahan hidup di kota ini dan melihatku.
"Tentu saja kau boleh menikmati waktumu sebelum kita menikah, aku akan memberimu waktu sebulan." Rega memasang raut wajah seramah mungkin agar Risa dengan mudah masuk ke perangkapnya.
Risa berfikir sejenak, apakah ini bukanlah sebuah muslihat yang direncanakan Rega? Dia merasa ragu.
"Kapan aku mulai bisa bekerja?" Risa mencari tahu kepastian akan hal yang tidak akan merugikannya.
"Tujuanku ke kota ini untuk bekerja, dan aku harus segera bekerja. Aku tak bisa hanya berdiam diri." Tegasnya.
"Masalah pernikahan kita, jika bukan karna keluargaku,tentu saja aku tidak akan mau." Tak ada emosi yang diperlihaktkan oleh Risa demi menjaga hal-hal yang tidak diinginkan.
"Tentu." Jawab Rega.
"Tentu saja sayang, anggap saja kita saling membantu."
"Jika kau mau, aku bisa langsung mengurusnya besok." Rega dengan antusias memberikan harapan-harapan besar untuk Risa.
"Dan..." Lanjut Rega.
"Jika kau menerima tawaranku, aku akan segera mengurus pernikahan kita. Ini akan berlangsung singkat."
"Tapi..." Risa ragu melanjutkan. Tapi dia harus mengatakan ini.
"Aku tidak ingin ada kontak fisik!". Tegas Risa.
"Kontak fisik?"
"Ahahah..." Tawa Rega membahana di seluruh ruang apartemen.
"Tentu saja tidak akan ada kontak fisik seperti yang kau pikirkan sayang." Rega menjawab Dengan santai.
Ya, tidak seperti yang kau pikirkan, tapi akan seperti yang kupikirkan.
__ADS_1
"Ya... Sepertinya aku bisa menerima tawaranmu." Jawab Risa masih dengan keraguan. Pikirnya ini akan sebentar dan mudah.
"Hanya dua bulan, tak ada kontak fisik!!". Risa Memastikan kembali.
Rega tersenyum.
"Aku akan segera membuat surat perjanjiannya."
"Dan selama sebulan ini, kau boleh tinggal di apartemenku." Tawarnya.
Risa ragu-ragu untuk menerima tawaran Rega. Dia tak ingin terlalu lama bersama Rega.
"Aku akan segera mencari tempat tinggal untuk sebulan ini."
"Tentu saja Risa." Rega merasa puas dengan kesepakatan mereka. Dia akan mempersiapkan segalanya. Mulai dari pekerjaan Risa.
"Beristirahatlah, besok kita akan sangat sibuk." Saran Rega.
Tanpa kata Risa bangkit dari kursinya, melangkah masuk ke kamar.
Risa duduk merenungkan apa yang baru saja disepakatinya bersama Rega. Entah apa yang merasukinya hingga menerima semua tawarannya. Dia masih tidak bisa membaca ada apa di balik rencana Rega terhadapnya. Namun sejauh ini, tak ada yang aneh dengan sikapnya.
"Tapi aku harus melakukannya demi ibu, seandainya ayah tak memaksaku, tentu aku tak akan pernah mau melakukan ini. Aku bisa mencari pekerjaanku sendiri." Matanya mulai berkaca.
Namun disisi lain Rega hanya membutuhkan status dan tidak sepenuhnya ingin menikah dengan Risa.
Setelah dua bulan berlalu, Risa akan membuat dramanya sendiri agar ayah dan ibunya menerima perpisahannya dengan Rega.
"Ya, rencana yang sempurna." Pikirnya.
"Rega, ya mungkin aku hanya harus berfikir positif terhadapnya".
Risa tak ingin terlalu memusingkannya.
Beristirahat adalah hal yang paling dibutuhkannya saat ini.
Rega tersenyum menatap piring Risa yang telah kosong. Mengambilnya, kemudian mencium aromanya. Hanya ada aroma spageti yang tertinggal disitu. Namun ada sesuatu yang lain yang membuatnya bahagia dengan piring kosong itu.
__ADS_1