
Alan membaca dengan detail seluruh kata pada beberapa lembar berkas milik Rega. Hanya pegawai biasa, tak ada yang istimewa darinya.
Alan membaca lembar terakhir, data berisikan kehidupan percintaannya.
Beberapa deret nama wanita pernah menjadi kekasihnya, tapi umur hubungan mereka tak pernah lebih dari satu bulan.
Nama terakhir yang tertera pada lembar itu adalah nama yang familiar di telinganya. Amelia Aurora, mantan sekertarisnya.
Terbersit ingatannya mengapa Amelia di pecat.
Namun sejauh data yang dibacanya, tak ada yang aneh dan perlu dikhawatirkan tentang lelaki itu.
Tak ada nama Risa di daftar. Namun yang jadi pertanyaannya adalah, ada hubungan apa lelaki itu dengan Risa? Alan tak menyukai senyuman lelaki itu terhadap Risa.
Alan segera mengambil handphonenya
Line telepon tersambung.
"Aku ingin kau mencari tahu lebih dalam ada hubungan apa antara Risa dan lelaki itu."
"Baik tuan." Jawab Andre di seberang telepon.
Senyuman lelaki itu pada Risa terus terbayang.
Alan menutup lembar-lembar berkas milik Rega, kemudian menyalakan laptopnya.
Setelah menyala, Alan mengarahkan kursor pada mesin pencarian.
Dia mulai mengetik.
CARA MEMIKAT HATI WANITA
Alan kemudin menekan tombol enter. Beberapa deret halaman blog tentang memikan hati wanita muncul. Alan meng-klik halaman yang paling menarik baginya.
Alan mulai membaca kata-kata pengantar, kemudian berhenti pada sebuah kutipan yang menarik buatnya.
SENTUHLAH DIA TEPAT DI HATINYA
BUATLAH DIA JADI MILIKMU SELAMANYA
SENTUH DENGAN SEPENUH CINTA
BUAT DIA TERBANG MELAYANG
By. Ahmad Dhani
Baiklah.
Gumam Alan dalam hati.
---
Pukul sebelas malam, Risa masih terduduk merenung di meja kamarnya. Melempar kembali seluruh ingatannya pada perintah ayahnya dan perjanjiannya dengan Rega. Tidak ada yang bisa dilakukannya, dirinya telah terjebak pada pernikahan ini.
Yang harus dilakukannya hanya menandatangani kontrak, menikah dengan Rega dengan syarat dan ketentuan yang akan mereka tanda tangani bersama.
"Ya, ini hanya akan berlangsung dua bulan, tak akan lama." Entah sudah berapa kali Risa berusaha meyakinkan dirinya bahwa perjanjian ini akan baik-baik saja dan akan segera berlalu.
Risa menatap handphone milik Rega diatas mejanya.
"Sepertinya aku harus membeli handphone baru." Handphone Risa telah rusak terendam air laut saat kecelakaan kapal Ferry terjadi, dan dirinya tidak ingin terlalu banyak berurusan dengan Rega. Dia harus segera mengembalikan handphone milik Rega.
"Baiklah, besok adalah hari yang sibuk." Risa mengangkat tubuhnya dan membawanya keatas ranjang empuk di kamar apartement yang baru ditempatinya.
Mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur.
---
Pagi menjelang.
Hari masih secerah hari biasanya.
__ADS_1
Yang mulai berbeda adalah bos Risa, Tuan Alan.
Diatas meja kerjanya, terlihat ada dua bouket besar bunga mawar. Yang satu adalah bouket mawar merah yang di terimanya kemarin, dan yang satunya lagi adalah bouket mawar putih yang terlihat masih segar dan sangat cantik.
Risa mendatangi mejanya, menciumi semua mawar-mawar indah di mejanya. Hatinya sungguh cerah disambut dengan mawar-mawar di mejanya.
Setelah selesai menghirup seluruh aroma mawarnya, Risa kembali menegakkan badannya, mengembalikan raut wajahnya dan melangkah menuju ruangan Alan.
Risa membuka pintu dan menemukan Alan tengah duduk membelakanginya.
Dia melangkah ke mini bar untuk membuatkan teh. Kemudian menyerahkannya pada Alan.
"Tuan, ini teh anda." Risa meletakkan tehnya diatas meja.
Alan membalikkan kursinya. Tanpa sedikitpun menatap Risa, Alan mengangkat cangkir tehnya dan sedikit menyeruput.
"Tuan Alan." Dengan nada yang datar Risa memecah keheningan pagi itu.
Alan hanya menatapnya sekilas dengan acuh tanpa sepatah katapun.
"Mengapa diatas mejaku ada dua bouket besar bunga mawar?" Tanya Risa.
"Kenapa?" Alan balik bertanya pada Risa.
Risa mengerutkan kening.
"Kau menyukainya kan?" Lanjut Alan.
"Ya aku menyukainya tuan, tapi..." Kalimat Risa terpotong.
"Selama kau menyukainya, kau tidak perlu mempertanyakannya kan nona Ferry?"
"Aku tidak mengerti dengan sikap anda tuan."
"Anda mengatakan menyukaiku, anda bahkan membawakanku dua bouket bunga yang besar, tapi sikap anda sangat dingin dan acuh."
"Anda tidak seperti sedang menyukaiku."
"Atau anda memiliki motif lain dibalik ini?"
"Ataukah anda...." Risa menghentikan kalimatnya saat Alan bangkit dari kursinya.
Alan berjalan mendekati Risa yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.
Risa memutar badannya, mengikuti langkah Alan.
Alan menghentikan langkahnya setelah jarak mereka hanya sekitar lima puluh sentimeter.
Risa terdiam, wajahnya terlihat sedikit ketakutan. Khawatir Alan akan marah karna kalimat bertubi-tubi yang di lemparkannya pada Alan.
Alan menatap mata indah Risa tajam, kemudian mengangkat lengan dan meletakkannya tepat di dada Risa.
"Jadilah milikku."
Sunyi sesaat.
Wajah Risa yang terlihat ketakutan, kini berubah mengeras dan memerah.
"PLAAAAKK"
Suara tamparan keras mendarat di pipi Alan.
"Anda sudah diluar batas!!!" Amarah Risa memuncak, dia membalikkan badan dan pergi begitu saja meninggalkan Alan yang terdiam kaku, wajahnya terlihat memerah dan tidak mengerti apa yang terjadi.
Mengapa dia menamparku?
Apa yang salah?
Aku tidak melakukan kesalahan kan?
Tidak ada yang salah dengan mawar-mawar itu, semuanya cantik dan wangi?
__ADS_1
Lalu, aku sudah menyentuh hatinya langsung dengan tanganku?
Tidakkah seharusnya dia langsung menjadi milikku?
Apakah aku salah menyentuh hati?
Tentu saja hati berada tepat di rongga perut sebelah kanan.
Tidak ada yang salah dengan pengetahuanku mengenai organ tubuh manusia.
Tak seorangpun pernah meragukannku mengenai pengetahuan.
Tapi.....
Apa yang salah?
Mengapa nona Ferry menamparku dan terlihat sangat marah?
Semua pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di pikiran Alan, masih dalam posisi berdiri dan tanpa berkedip sejak telapak tangan Risa yang hangat mendarat di pipi kirinya yang dingin.
Sesaat kemudian dengan sadar Alan melepaskan diri dari gelombang gelisah dan galaunya.
Memutar badannya menghadap pintu yang mengarah langsung ke ruangan Risa.
Dirinya dapat melihat Risa dari dinding kaca bening yang membatasi ruangannya dan ruangan Risa.
Ingin melangkahkan kaki menghampiri Risa keruangannya, tapi entah mengapa kakinya terasa sangat berat bahkan untuk berpindah selangkah.
Apa yang dipikirkannya sekarang?
Apakah dia menangis?
jika menangis, kenapa dia menangis?
Kening Alan semakin berkerut, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang memeras keningnya.
Dia menunduk, apa dia menangis lagi?
Tidak, sepertinya dia tidak menangis.
Dia mengangkat kepalanya lagi, apa yang ditatapnya sekarang?
Alan mengarahkan pandangannya kearah tatapan Risa.
Itu hanya dinding, kenapa dia menatap dinding?
Hey, kenapa dia terus menatap dinding dihadapannya?
Dia berdiri.
Alan terkaget dengan pergerakan Risa yang menjadi fokusnya sedari tadi.
Kaki Alan masih pada posisinya. Tapi matanya mulai awas dengan pergerakan Risa yang bangkit secara tiba-tiba dari kursinya.
Dia mau kemana?
Kenapa tiba-tiba bangun?
Apa dia mau pergi? tapi ini belum waktunya makan siang.
Atau dia mau kembali keruanganku?
Alan segera memperbaiki ekspresinya, mengira Risa akan kembali keruangannya.
Hey, dia duduk lagi?
Apa yang dipikirkannya?
Kenapa dia tidak kembali ke ruanganku?!!
Alan mulai kesal dengan pergerakan Risa yang terus diperhatikannya.
__ADS_1