Innocence Love

Innocence Love
Wangi Yang Dingin


__ADS_3

- Ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita, jangan terlalu banyak berharap -


Risa meringkuk memeluk lututnya di pinggir speedboat, masih belum benar-benar percaya dengan hal mengerikan yang baru saja dialaminya.


Seolah seperti mimpi.


Hal baru yang akan dijalaninya diawali dengan kecelakaan mengerikan, beruntung tak ada cedera parah, mungkin hanya akan menyisakan trauma pada air dan lautan.


Menangis telah membuat tubuhnya melemah dan mulai bergetar.


Ingin rasanya sekedar menutup mata, mengembalikan seluruh energinya.


Lelaki penyelamatnya menghapiri, membawakan secangkir teh hangat.


"Minum lah, kau pasti sangat syok".


Risa perlahan mengangkat kepala, tatapannya menyisir lelaki itu mulai kaki hingga tepat menatap wajah lelaki itu.


Tubuhnya yang bergetar dan perasaan lemahnya seketika sirna, teralih oleh lelaki dihadapannya.


Tatapan mata yang tajam yang seolah tersenyum, hidung mancung sempurna, bibirnya tipis, garis rahang yang kuat, kulit yang bersih, Rambutnya basah tersisir kebelakang.


"Oh tidak!!". Risa menggelengkan kepalanya kuat.


Tiba-tiba lelaki itu mendekat, dan


"CCCCTAK!!!".


"AWWW!". Teriak risa kesakitan oleh sentilan yang di terimanya di kening.


"Apa yang kau tatap hey Nona Kapal Ferry". Lelaki itu tersenyum sinis.


"Hey kau pikir apa yang kutatap?!".


"Berani-beraninya kau....!". Risa menggosok keningnya dengan kesal.


"Sepertinya Nona Ferry sudah pulih dari syok, aku akan membawa kembali teh ini". Lelaki itu membalikkan badan dan tersenyum.


"Hey!!!"

__ADS_1


"Kemarikan tehnya!!". Risa menyambar teh dari tangan lelaki yang menyelamatkannya.


Lelaki itu tak berkata apapun, tak tersenyum, membalikkan badannya meninggalkan Risa.


"Hey....". Teriak Risa.


"Terimakasih atas tehnya, dan menyelamatkanku".


Lelaki itu hanya mengangkat sebelah alisnya dan pergi.


"Apa!? Dia bahkan tidak mengatakan terima kasih kembali, atau sekedar tersenyum?!". Gumamnya sendiri.


"Tapi...Bahkan punggunnya begitu mempesona, mungkinkah ada sayap di balik kemeja putih yang di kenakannya?".


"Oh tidak, apa yang kupikirkan?!!". Risa menggeleng-gelengkan kepala, merasa malu dengan pikirannya.


Alan kembali ke kamarnya dengan pakaian yang telah basah. Membilas tubuhnya dibawah pancuran air hangat. Mengingat kembali bagaimana dirinya telah mahir berenang dan menyelamatkan gadis bermata coklat keemasan yang indah. Ada sedikit rasa kagum pada tatapan gadis itu.


Tak sadar Alan kembali menyentuh bekas luka besar di pinggang kirinya yang pernah tertoreh oleh tajamnya baling-baling speedboad saat dirinya berumur dua belas tahun.


Sesaat ingatan itu kembali.


Mereka berempat berlibur untuk berlayar menaiki speedboat atas ijin ayah mereka.


Alan, Kevin dan Megan bermain bercanda di bagian belakang speedboad. Karna terlalu bergembira Megan dengan sengaja mendorong Alan yang tidak bisa berenang ke laut, tepat dibagian baling-baling. Entah bagaimana semua itu terjadi, baju Alan tertarik masuk dibawah speedboat.


Kevin dan Megan berteriak histeris, Alan dengan sangat cepat sudah tidak terlihat lagi di permukaan air.


Ardan yang tengan menyiapkan makan siang mereka berlari menghampiri.


Speedboat masih terus berjalan, darah mulai terlihat mengalir bersamaan ombak yang tercipta dari baling-baling speedboat.


Tanpa pikir panjang Ardan melompat ke laut, berusaha menarik Alan dari sedotan yang diciptakan oleh kuatnya putaran mesin.


Usahanya sia-sia. Akhirnya dengan nekad Ardan masuk kebawah speedboad, menarik paksa Alan yang terjerat. Alan yang pingsan bersimba darah terlepas dari baling-baling, namun naas bagi Ardan, kedua tangannya masuk kedalam baling-baling.


Speedboat berhenti setelah Kevin melaporkan apa yang terjadi pada motorist speedboat. Patroli pantai dan medis telah dihubungi melalui radio.


Sebelum patroli dan medis tiba, sang motoris dengan cepat melepas mesin baling-baling yang menjerat tangan Ardan yang tak sadarkan diri.

__ADS_1


Sepuluh menit kemudian patroli dan medis tiba, namun nyawa Ardan tak bisa diselamatkan. Sedangkan Alan mendapatkan luka yang panjang terlukis di sepanjang pinggangnya.


Setelah sadar dan mengetahui segalanya, Alan menyesal tak bisa berenang dan tak mampu menyelamatkan diri sendiri yang mengakibatkan kakak satu-satunya meregang nyawa karna menyelamaykannya.


Sampai saat ini kesedihan dan penyesalan terus membayanginya. Air matanya berlinang bersama air hangat yang mengguyur seluruh tubuh Alan.


Perjalanan menuju daratan akan berlangsung sekitar 2 jam. Risa semakin menggigil dengan baju basah yang melekat di tubuhnya dan angin kencang yang menerpa.


Teh hangat yang di minumnya hanya menghangatka diri sesaat. Dia memeluk erat dirinya sambil memejamkan mata berusaha menghangatkan diri, namun tak mengubah apapun.


Ada sentuhan lembuh di bahu Risa. Sentuhan lembut berubah menjadi cengkraman.


Tiba-tiba dirinya terasa terangkat. Risa ingin melihat apa yang terjadi, namun dirinya tetap mengatupkan kelopak mata indahnya. Entah tak ingin membukanya atau tak mampu.


Speedboat melajut cepat, namun dekapan pada diri Risa terasa kokoh tak goyah oleh kencangnya terpaan angin dan kencangnya laju speedboat.


Beberapa saat kemudian Risa merasakan langkah itu terhenti, dirinya merasa tubuhnya digeletakkan seperti diatas sebuah sofa kulit.


Baju basah yang di kenakannya terasa tak melekat lagi pada dirinya, tergantikan dengan sesuatu yang lembut, kering, dan wangi.


Wangi yang terasa dingin dan sejuk.


Risa merasakan tubuhnya kembali terangkat, beberapa langkah berpindah, dan tubuhnya kembali terbaring di atas sesuatu yang terasa nyaman, empuk, lembut, dan wanginya sama dinginnya dengan sesuatu yang dikenakannya.


Ini terasa seperti kasur yang empuk.


Risa tak mengerti apa yang dialaminya saat ini, antara sadar dan tidak.


"kau demam". Samar-samar terdengar suara di telinga Risa. Entah apa yang terjadi pada dirinya selanjutnya, Risa jatuh tertidur.


Alan memegang kening gadis itu. Badannya terasa hangat, sepertinya dia demam, pikirnya.


Dia melangkah menuju pojok kamar bernuansa putih yang mewah, mengambil dan membuka kotak P3K yang selalu tersedia di speedboat megah miliknya. Mengambil selembar koyo penurun panas.


Alan membuka kemasan dan menempelkannya di kening gadis itu. Menatap gadis itu dalam sekejap pandang kemudian menutupinya dengan selimut. Alanpun meninggalkannya sendiri beristirahat diatas kasur nyamannya.


Daratan sudah terlihat jelas di hadapan. Terlihat kerumunan orang disana. Para penumpang kapal, warga sekitar, patroli laut, dan entah dari mana saja kerumunan itu berasal.


Tidak banyak korban kapal yang terluka parah, hanya beberapa dari penumpang dan ABK kapal yang mengalami luka berat dan harus segera dilarikan kerumah sakit. Sedangkan selebihnya hanya mengalami trauma dan luka Ringan. Sebagian korban dirawat di tenda darurat, sebagian dirawat di ambulance-ambulance, dan sebagian yang tidak mengalami cidera telah berkumpul dengan keluarga yang telah dihubungi oleh petugas. Seluruh penjuru kota menyaksikan kecelakaan yang telah terjadi melalui media-media.

__ADS_1


__ADS_2