Innocence Love

Innocence Love
Memulai


__ADS_3

"Risa!! Apa kamu baik-baik saja?". Suara Rega membangunkan Risa dari tidurnya.


Risa Mengembalikan nyawanya sesaat dan membalas sapaan Rega.


"Ya aku baik-baik saja". Sambil bangkit dari ranjang ambulance.


"Perawat mengatakan kau tidak perlu perawatan intensif, jadi kau boleh pulang bersamaku".


"Ya, aku butuh lebih banyak istirahat". Risa mencoba berdiri untuk mengemasi barangnya namun kepalanya kembali terasa berat, tubuhnya sedikit lunglai.


"Biar aku yang mengemasi barangmu".


Akhirnya Rega yang mengemasi seluruh barang Risa, memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya.


"Masuklah". Rega membukakan pintu mobil.


Risa duduk di samping Rega.


"Aku turut prihatin dengan kecelakaan yang kau alami."


"Ya akupun tidak menyangka akan mengalami hal ini." Jawab Risa sambil memejamkan mata.


"Sebaiknya kau tidak menceritakan kecelakan ini pada orang tua kita, aku tidak ingin orang tuaku khawatir." Risa membuka mata dan menatap Rega yang mulai menjalankan mobilnya.


"Kalaupun mereka mengetahuinya dari berita di media, aku akan mengurusnya nanti." Sambungnya.

__ADS_1


"Semua terserah padamu." Jawab Alan.


Risa kembali menutup mata dan tertidur sepanjang perjalanan menuju apartment Rega.


Sambil mengemudi, Rega tak bisa membiarkan kesempatan ini berlalu begitu saja. Menatap gadis yang sedari dulu terlalu jual mahal pada dirinya.


Hatinya terlanjur kesal dengan sikap Risa selama ini. Dirinya selalu berusaha menarik perhatian Risa tetapi tak sedikitpun Risa tertarik padanya. Tentu Risa akan menyesali perlakuannya pada diri Rega, dia akan membalas segalanya. Benak Rega menggerutu.


Rega mengendarai mobilnya dengan kecepatan rendah. Ditatapnya wajah Risa perlahan, sesekali berfokus pada kemudi.


"Wajahnya yang bulat oval, matanya sungguh indah, bola mata coklat keemasan itu membuatku selalu ingin menatapnya". Rega ingin wajah Risa namun masih sadar dengan keadaannya yang sedang menyetir.


"Oh... lihatlah bibir itu, tak pernah aku sebergairah ini menatap bibir itu". Mata Rega menyipit menunjukkan gejolak yang timbul didalam dadanya. Tangan kirinya meremas pahanya sendiri sebagai pelampiasan.


"Bibir ranum milik Clarissa Amelia hahaha....". Tawa Rega yang hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.


"Suatu hari rambut hitam lurusmu yang indah akan menjadi mainanku."


"Sabarlah Risa sayang, tubuh indahmu itu akan mendapatkan pembalasan yang setimpal dariku!!". Senyum sinis tertoreh dibibir Rega.


"Apakah bibir indahmu akan mampu tersenyum lagi?"


"Aku harap mata indah itu akan tetap indah dipandang setelah kau menikah denganku!!"


"Kita akan memulai segalanya dengan perlahan". Seringai penuh arti dari bibir Rega seolah membelah seluruh hiruk pikuk jalanan kota sore itu.

__ADS_1


Apartement milik Rega tidaklah begitu mewah, tidak pula begitu sederhana. Memiliki 2 kamar tidur yang luas. Ruang Tv yang nyaman dan dapur. Bisa dikataan Apartement ini sangat luas untuk Rega yang hanya tinggal seorang diri.


Risa melangkah ragu memasuki apartement milik Rega. Kegelisahannya tentang diri Rega kembali datang. Tak seharusnya dirinya berada satu atap dengan Rega. Tapi kejadian yang menimpanya hari ini memaksanya untuk bersama Rega.


Semua rencananya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.


Risa sesungguhnya akan mencari pekerjaan tanpa bantuan Rega, bahkan Risa tak ingin keberadaannya di ketahui oleh Rega. Semua itu di rencanakannya hanya untuk menghindari perjodohan oleh orang tua mereka.


Setelah rencana Risa berhasil mendapatkan pekerjaan dengan usahanya sendiri, mungkin orang tuanya akan melepaskannya dari perjodohan itu. Orang tua Risa pun menerima perjodohan ini hanya karna berfikir bahwa Risa akan mendapatkan pekerjaan sesuai dengan impiannya yang di janjikan oleh Rega.


Risa sangat menyadari bahwa rencana pernikahan ini adalah sepenuhnya muslihat Rega, dan tentu bukan karna ingin membantu Risa atau alasan mulia lainnya.


"Beristirahatlah di kamar, aku akan menyiapkan makan malam untuk kita."


"Kau bisa menggunakan kamar di pojok sana. Aku telah menyiapkannya untukmu". Rega menunjuk sebuah kamar di pojok ruangan.


Risa hanya mengangguk ringan dan melangkah masuk ke dalam kamar membawa kopernya.


Dia mulai mengeluarka semua isi koper yang basah, berfikir sejenak dan memutuskan untuk tetap mengenakan kemeja dan celena lelaki malaikat.


"Ya, Lelaki malaikat." Gumamnya.


Dia duduk termenung diatas kasur menatap jendela kaca besar yang membatasi dirinya dan alam luar. Membayangkan kembali bagaimana lelaki malaikan itu menyelamatkan nyawanya.


Dihirupnya kembali aroma kemeja yang di kenakannya, mengingatkannya lagi pada trauma laut dan kapal Ferry.

__ADS_1


"Semoga kita tak akan pernah bertemu kembali." Doa Risa.


"Seandainya kau tidak pernah melihat tubuh berhargaku, mungkin aku akan mencarimu untuk ucapan terima kasih."


__ADS_2