
Kesibukan Risa dihari pertamanya bekerja adalah menyiapkan jadwal makan siang untuk bosnya.
Dia membaca sebuah file pada komputer kerjanya yang berjudul "Aturan Makan siang Tuan Alan".
"Beginikah para bos? makan siangpun memiliki aturan".
Aturan pertama. Restoran haruslah yang ternama dan kelas atas.
"Ulala... tentu saja." Komentar Risa.
Dia mulai berselancar di internet mencari restoran ternama berkelas tinggi di kota itu, dan tentu yang menyediakan menu daging.
Aturan kedua. Restoran haruslah dalam keadaan sepi.
"Sepi?!" Risa mengerutkan kening dan melanjutkan membaca.
Sekertaris harus segera memesan seluruh meja di restoran untuk kenyamanan tuan Alan sendiri.
"Orang kaya." Komentar Risa lagi dengan nada remeh.
Risa segera menghubungi pihak restoran untuk memesan seluruh kursi.
"Oke,selanjutnya."
Aturan ketiga. Jika tuan Alan akan makan siang dengan orang lain, maka tuan Alan bukanlah orang yang akan menunggu.
Risa berfikir sejenak tentang aturan ketiga.
"Aha...Aku harus menghubungi teman makan siangnya, apakah kekasihnya?" Tebaknya.
"Ya pasti kekasihnya, lelaki setampan tuan malaikat tidak mungkin tidak memiliki kekasih." mengambil kesimpulan sesuka hatinya.
Risa mencari daftar kontak dan mencari yang kira-kira merupakan kekasih bosnya, tapi tak ada nama kontak yang terlihat seperti kekasihnya.
"Mungkin bukan kekasih." Risa sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Baiklah, aku akan bertanya pada tuan malaikat." Mengambil sebuah note kecil pribadinya dan pena. Beranjak dari kursi kerjanya menuju ruangan bosnya.
"Tuan malai....maksudku tuan Alan. Aku akan menghubungi teman makan siang anda hari ini, apakah itu kekasih anda? Bolehkah saya mendapatkan namanya?" Dengan sopan Risa bertanya pada tuan malaikatnya yang sedang sibuk dengan laptop.
Dengan datar dialihkannya pandangan dari laptop dan menatap Risa.
"Kekasih?" Tanya tuan malaikat, seperti ada keterkejutan di wajahnya.
"Apakah tuan sakit? Wajah anda memerah." Spontan Risa mengomentari wajah tuannya yang memerah.
"Seperti tomat." Sambung Risa dengan volume suara lebih kecil. Berbicara pada dirinya sendiri.
"Apa kau bilang, tomat?!"
"Tidak tuan, aku tidak mengatakan anda seperti strobery." Risa merasa kaget ternyata bosnya mendengar kata-katanya.
"Apa? stroberry?!"
"Tidak tuan, maksudku...."Risa tertunduk.
"Maafkan aku tuan malaikat...maksudku tuan Alan." Pintanya.
"Aku tak bermaksud mengatai anda." Masih menundukkan kepala.
Wajah Alan kembali memerah saat mendengar nona Ferry memanggilnya tuan malaikat, namun tak disadari oleh nona Ferry karna kepalanya tertunduk menyesal.
__ADS_1
Tak ada rasa amarah dihatinya dengan panggilan wajah tomat atau strowbery. Hanya saja, entah mengapa kata-katanya tak bisa menunjukan merah jambu dihatinya.
Mendengar panggilan tuan malaikat untuk dirinya, hatinya semakin berbunga, namun tetap tak bisa diungkapkannya.
"Kembalilah kemejamu, aku memaafkanmu, tapi lain kali tak ada kata maaf" Kata-katanya datar.
Nona Ferry mengangkat wajahnya dengan senyum menghiasi wajah.
Alan tak bisa menahan gejolak hatinya yang menggebu karna senyuman diwajah gadis itu.
Seolah ingin melangkahkan kaki dengan langkah yang besar, menghampirinya, merangkul seluruh tubuhnya sepenuh lingkar tangannya, memeluknya erat, kemudian....
Alan tak mampu menggambarkan betapa hatinya terasa sangat aneh saat ini.
"Kembalilah ke mejamu!!." Suaranya terdengar seperti bentakan.
"Bagaimana dengan nama kekasih anda?". Nona Ferry masih bertahan dengan tujuannya mendatangi ruangan Alan.
"Kekasih?!" Nadanya melembut.
Kemudian dengan canggung dia menjawab.
"Ya...kekasihku, kau tak perlu menghubunginya." Alan segera membalikkan tubuhnya yang bersandar pada kursi kerjanya menghadap luar gedung.
Suara langkah kaki jenjang ber-hak itu telah keluar dari ruangannya.
"Aku tergila-gila padanya." Alan berkata pada dirinya.
Ini perasaan yang sangat aneh baginya, perasaan baru yang penuh bunga, namun memciptakan sesak didada, seperti terbakar.
Wanita itu, aku harus memilikinya!
Sebuah keputusan mendadak yang harus segera dicapainya untuk mengobati perasaan gila yang baru saja mulai menghampiri hatinya.
Wajah bosnya yang memerah kembali datang dalam pandangannya.
"Tuan malaikat, kenapa anda begitu tampan dengan wajah yang memerah?"
"Aaa..." Risa berteriak kecil sambil menggelengkan kepala.
"Tidak...aku tidak boleh tergoda. Dia adalah bosku, dan aku datang untuk bekerja!!" Risa melanjutkan pekerjaannya.
Waktu menunjukkan pukul duabelas siang. Waktu istirahat bagi seluruh karyawan perusahaan.
Risa masih di mejanya, menanti bosnya pergi terlebih dahulu untuk menciptakan kesan pertama yang baik.
Pintu ruang bosnya terbuka. Risa segera berdiri dan memberi hormat pada bosnya namum tak ada respon yang diterimanya. Tuan malaikat berlalu begitu saja dihadapannya.
"Hey!!Apa yang kau lakukan disana?!"
"Iya tuan?" Risa terperanjak dari diamnya.
Bosnya hanya menunjuk lift dengan matanya.
Risa segera berlari membukakan pintu lift untuk bosnya.
Dalam hatinya menggerutu
Apa?! Aku bahkan harus membukakan pintu lift untuknya?
Saat pintu lift terbuka, tuan malaikat segera masuk.
__ADS_1
Tiba-tiba tubuh Risa tersentak turut masuk kedalam lift. Tangannya telah berada dalam genggaman sang bos.
"Tuan?!" Risa menegur bosnya.
"Aku benci menunggu!" Jawab tuan malaikat.
"Dan kau akan membuatku menunggumu!!" Tangan Risa telah lepas dari genggamannya.
"Kau akan makan siang bersamaku!" Keputusan bosnya sontak membuat Risa terkejut.
"Tapi, anda kan akan makan siang bersama kekasih anda?"
Tak ada jawaban dari bosnya. Risa masih menongakkan kepalanya, menunggu jawaban.
Tak ada jawaban, akhirnya Risa menyerah dah terpaksa mengikuti langkah tuannya.
Dari kejauhan, sopir pribadi tuan malaikat tersenyum ramah pada Risa. Mungkin karna dirinya adalah sekertaris baru, pikirnya.
"Selamat siang tuan, selamat siang nona ferry." Sapa sang supir seraya membukakan pintu mobil untuk tuannya, kemudian ditutup kembali.
"Selamat siang pak." Jawab Risa, membuka pintu mobil, duduk bersama supir didepan. Seperti adegan yang pernah dilihatnya di drama.
Risa berusaha untuk tidak canggung dihari pertamanya bekerja.
Sang supir sudah berada pada posisi mulai mengemudikan mobil keluar dari area perusahaan, dan mulai membuka pembicaraan.
"Apakah tidur anda nyenyak semalam nona Ferry?" Tanyanya dengan senyum ramah diwajahnya.
"Apa?!" Risa terkejut, bahkan supirnyapun memanggilnya nona Fery.
"Ya...tentu saja pak supir." Jawab Risa dengan senyum yang dibuat seramah mungkin.
"Syukurlah, anda terlihat sangat kelelahan semalam." Lanjut sang supir.
"Apa?!" Risa sedikit berteriak.
"Semalam tuan Alan menemukan anda dipinggir jalan dalam keadaan tertidur, dan...." Sesaat pak sopir memotong kalimatnya.
Risa menoleh kearah bangku penumpang tempat Bosnya duduk tanpa ekspresi sedikitpun, namum tatapannya tajam menusuk ke arah Risa.
Spontan Risa membuang wajahnya kembali menatap sang supir.
"Dan...." Sang supir melanjutkan.
"Sepertinya anda belum sempat mengunyah dan menelan cilok anda, sehingga itu bergulir jatuh keluar dari mulut anda." Ada senyuman jenaka dibalik kata-kata sang supir.
"APA?!" Risa berteriak.
"Apa yang... apa yang anda katakan barusan?". Risa berusaha memastikan kembali apa yang didengarnya dari sang supir.
"Ya nona, seperti yang anda dengar." Sang supir menjawab ringan, sambil menatap cermin dan mendapati tuannya tersenyum simpul.
Risa menunduk, berjibaku dengan pikirannya, mengingat kembali apa yang bisa diingat tentang kejadian semalam. Merasa sangat malu. Ingin rasanya dia berteriak. Mengapa bisa melakukan hal bodoh seperti itu.
Dan lagi, orang yang melihat hal itu adalah tuan malaikat.
Risa semakin menundukkan wajah dan badannya, merasa sangat malu seperti ingin berlari sambil mengacak-acak rambutnya.
-Segala kebodohanmu selalu merepotkanku-
- Pertanda : A -
__ADS_1
Ya, Alan Ricat. Siaaaallllll...kenapa hal memalukan ini terjadi padaku.
Risa hanya mampu berteriak dalam benaknya.