Innocence Love

Innocence Love
Bentuk Usaha #Part 1


__ADS_3

Risa merasa puas dengan pekerjaannya hari ini.


Diatas ranjang kamar apartemennya dia mengingat kembali segala yang terjadi pada dirinya hari ini.


Saat Alan menggendongnya, dengan aroma tubuh yang familiar di hidungnya.


Lalu pernyataan cinta dari Alan.


"Pernyataan cinta? itu terdengar tidak seperti pernyataan cinta. Itu lebih ke...nafsu mungkin?"


Sambil menatap langit-langit kamarnya dengan plafon berwarna putih.


"Entahlah." Seolah berbicara dengan langit-langit kamarnya.


"Tapi...." Lanjutnya.


"Kenapa dia melakukannya? kita bahkan baru bertemu dua kali." Risa sibuk berbicara dengan pikirannya.


"Entahlah."


"Tapi...." Masih melanjutkannya.


"Mengapa dia menyukaiku? Apa karna dia telah melihatku dalam keadaan...."


"Aaaa....." Teriaknya.


"Aku harus melupakan semua kejadian di kapal ferry itu, sangat memaluka." Risa menutup kedua telinganya sambil menggelengkan kepala merasa malu.


Risa kembali melempar ingatannya pada makan siangnya tadi, menghirup aroma udara dikamarnya seolah menghirup kembali aroma daging dan jamur, kemudia jatuh terlelap dalam tidurnya.


Sementara disudut kota bagian lain, Alan terduduk diatas Sofa tinggi menghadap diding kaca lebar kamarnya, langsung menghadap ke laut lepas, dengan sinar hollow bulan yang menciptakan bayang samar pada gelapnya laut malam itu.


Garis pantulan bulan diatas laut seolah menggambarkan mata indah yang mulai mengisi hatinya dalam waktu yang sangat singkat.


Telepon selularnya berdering. Nama asistennya tertera dilayar telepon.


"Semua telah disiapkan tuan." Lapor sang asisten pada Alan.


Tanpa berkata sepatahpun Alan segera menutup teleponnya. Cukup baginya mengetahui segala yang direncanakannya telah siap.


Dering telepon tadi sunggung mengganggu kesibukannya menghanyutkan diri dalam bayang-bayang mata nona Ferry. Hatinya merasa kesal. Dirinya harus mengulang kembali setiap detik kejadian-kejadian yang membuatnya jatuh hati pada gadis itu. Namun sungguh dirinya sangat menyukai dan menikmati harus mengulang seluruh adegan-adegan itu. Aroma rambut Risa yang basah terkena air laut, keindahan bentuk tubuhnya, lekuk-lekuk yang sempat berada dalam peluknya, wajah itu, ekspresi marah dan tersenyum, kebodohan-kebodohan yang dilakukannya. Semuanya terus berputar dalam lamunannya hingga jatuh tertidur terbuai menjadi mimpi indah.


"Jadilah milikku" Bisik Alan dibelakang telinga Risa. Lengannya melingkar pada pinggang ramping berbalut kemeja putihnya.

__ADS_1


Alan membalikkan tubuh itu menghadap dirinya, masih dengan lengan yang ringan melingkar. Ditatapnya mata indah yang mengatup itu, berbingkai wajah oval nan cantik.


Jemarinya menyentuh bibir ranum dihadapannya. Seperti magnet dengan kutub berlawanan, ada tarikan yang sangat kuat untuk menyatukan dua pasang kelopak bibir itu.


Tak ada lagi jarak antara Alan dan Risa. Saat Alan mulai terbuai, sesuatu mengagetkannya. Kepala Risa terhentak keras, namun matanya masih tetap mengatup.


Alan memiringkan kepalanya, melihat sesuatu yang terjadi di belakang Risa. Seorang lelaki menarik Rambut Risa dengan kuat, membuat pegangannya di pinggang Risa terlepas. Risa dan lelaki itu semakin menjauh. Kaki Alan ingin berlari mengejar, tapi tak mampu bahkan untuk melangkah. Semakin Alan berusaha melangkah, kakinya terasa semakin berat. Tangannya menggapai berusaha meraih Risa tapi percuma, Risa hilang tenggelam dalam kegelapan. Alan ingin berteriak. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Tiba-tiba.....


"Hah hah hah...." Alan terbangun dari mimpi buruk yang sangat aneh.


Tubuhnya basah bersimbah keringat, begitupula dengan sofa yang ditidurinya.


Alan mengusap keningnya yang basah. Bangkit dari duduknya dan berjalan beberapa langkah lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang yang jauh lebih nyaman. Melanjutkan tidurnya, meggharap tak mengulang mimpi buruk yang sama.


Pukul tujuh limapuluh menit Risa telah duduk dimejanya, menanti Bosnya yang akan segera tiba sambil mengecek apa yang harus dikerjakannya. Tak banyak yang bisa dikerjakannya selain melayani Bosnya.


Pintu lift terbuka, Alan keluar dari lift, disusul oleh asistennya Andre.


Andre terlihat membawa sesuatu yang besar digendongannya.


"Selamat pagi tuan Alan." Risa bangkit dari duduknya seraya menyapa.


Tak ada respon apapun yang diterima Risa. Alan berlalu begitu saja dihadapannya.


"Nona." Andre meletakkan benda besar dalam gendongannya yang tertutup kertas putih diatas meja Risa.


Risa membuka kertas putih yang menutupi benda itu.


Sebuah bouket besar bunga mawar merah yang sangat cantik dengan vas putih tersembunyi dibelak kertas.


"Untukku?" Risa bertanya pada Andre yang sedari tadi telah hilang dibalik pintu lift.


Risa terdiam sejenak, masih tak percaya dengan apa yang dilakukan bosnya, namun itu tak membuatnya berfikir panjang untuk memeluk bunga-bunganya. Menghirup aroma manis dan asam khas bunga mawar. Tersenyum dengan cantiknya bunga-bunga dihadapannya.


Risa terdiam sejenak, senyum diwajahnya sirna.


"Untukku? dari tuan Alan?"


Risa segera berlari menyusul bosnya yang sedari tadi menunggunya membuatkan teh.


Tangan Risa dengan cekatan mengambil teko kecil, memasukkan teh dan menyeduhnya dengan air panas. Menuangkannya ke dalam cangkir putih kemudian menambahkan satu sendok teh gula dan segera membawanya menuju meja kerja Alan.


"Maafkan aku tuan." Sambil berlari-lari kecil membawa nampannya. Nafas Risa terdengar sedikit terengah .

__ADS_1


"Apa kau menyukai bungamu?" Tanya Alan seraya mengambil cangkirnya tanpa sedikitpun menatap Risa.


"Bunganya sangat cantik dan wangi. Terima kasih."


"Tapi tuan, aku sedang tidak berulang tahun ataupun hari istimewa lainnya." Sambung Risa.


"Aku tidak membutuhkan hari istimewa untuk memberimu bunga." Jawab Alan, masih memegang cangkirnya dan menatap Risa.


Risa tersipu malu tanpa kata.


Alan merasa ada setruman dari dalam hatinya melihat senyuman yang diterima dari Risa. Ada bahagia bahwa usaha yang dilakukan untuk menarik hati Risa berbuah senyuman manis.


Aku tak boleh semudah ini tergoda, anggap saja ini sebuah penyambutan hari kedua bekerja dari tuan Malaikat.


Gumamnya dalam hati.


Risa masih bersikeras mempertahankan hatinya, dan tak mudah merasa luluh pada Bosnya yang dengan sangat mudah jatuh hati padanya.


"Aku akan memesan restauran untuk makan siang, anda ingin menu apa?" Tanya Risa melanjutkan pekerjaannya.


"Kau tak perlu memesan, hari ini kita akan makan siang dikantor.


"Baik tuan." Risa menjawab singkat setelah mendapatkan jawaban dari tuannya, kemudian segera membalikkan badan dan kembali ke mejanya.


Alan menatap Risa berjalan menjauh darinya. Ingin rasanya berlari memeluk Risa, takut akan mimpi buruk yang dialaminya semalam.


Waktu menunjukkan pukul sebelas. Risa sibuk dengan komputer dihadapannya. Membaca seluruh peraturan perusahaan, jejak kerja sekertaris terdahulu, sesekali mencium bouket bunga mawar indah miliknya.


Pintu lift terbuka. Beberapa orang asing terlihat mengangkat sebuah panggangan, segala jenis alat memasak, sebuah penyedot asap portable, dan beberapa box berisi perlengkapan makan dan bahan makanan.


Di belakang mereka terlihat Andre yang mengontrol mereka, dan seseorang diantaranya berpakaian seperti koki.


Apa lagi yang dilakukan tuan malaikat.


Pikir Risa dengan heran.


"Nona." Sapa Andre, sedikit membungkukkan badannya. Koki disampingnya hanya melempar senyum pada Risa.


Risa-pun membalas senyum.


Mereka-pun hilang dibalik pintu ruangan Bosnya.


Alan menatap para pegawai restoran daging yang dipesannya, memasang segala keperluan memasak untuk makan siangnya bersama Risa.

__ADS_1


Kali ini Alan memesan menu spesial yang disukai Risa, menurutnya. Bola-bola daging dengan berbagai cara penyajian.


- Lanjut di bab 16 -


__ADS_2