Innocence Love

Innocence Love
22 Mei #part 1


__ADS_3

"Laut yang biru dan jernih tidak selalu indah jika kita tidak bisa berenang"


Sesuatu tiba-tiba membangunkan Risa dari tidur singkatnya. Saat dia membuka mata dan tersadar, ternyata dirinya berada diatas sofa tinggi kapal Ferry, bukan di kamarnya. Risa kembali menutup matanya, berusaha melanjutkan tidurnya.


Hal yang membangunkannya terjadi lagi, sedikit guncangan terjadi, orang-orang terlihat tenang, itu artinya mungkin ini biasa terjadi pada kapal Ferry, pikirnya.


Musik masih mengalun di telinganya, diliriknya jam tangan dan ternyata kapal baru berlayar sekitar satu jam. Risa kembali menutup mata. Untuk kedua kalinya berusaha untuk tidur.


30 menit berlalu, Risa terbangun dari tidurnya tetapi sengaja tidak membuka mata, hanya ingin menikmati perjalanan sambil mendengarkan musik kesukaannya.


"DDUUUUAAAARRR!!!!". Suara ledakan terdengar entah dari mana.


Risa segera membuka mata dan menarik headset dari telinganya, berdiri dari sofa tinggi yang di dudukinya untuk melihat dan memastikan apa yang terjadi dan dari mana sumber suara ledakan tersebut.


"DDDUAAARRR!!!". Suara ledakan terdengar kembali. Para penumpang kapal mulai berteriak, sebagian berlari mencari sumber suara dan memastikan apa yang terjadi. Ini terlalu tiba-tiba dan sangat mengejutkan baginya.


Dari arah luar terlihat beberapa orang berlari dari arah bagian belakang kapal dan berteriak.


"Lompat!!!"


"Lompat!!!"


Seorang lelaki dengan lengan kanan dan wajah bagian kanannya berlumuran darah dan berlari pincang, separuh badan bagian kirinya terlihat seperti terbakar sambil berteriak.


"TOLOOOOONG."


Seorang ABK kemudian menopangnya membawanya entah menuju kemana.


Jantung Risa berdebar kencang.


Dia ingin berteriak bertanya pada orang-orang, namun entah apa yang mengganjal pada tenggorokannya.


Suaranya hanya terdengar seperti lirihan dan bergetar.


Dia menggenggam tangannya yang terasa dingin dan bergetar untuk menenangkan diri.


Risa mengambil sebotol air didalam tasnya dengan cepat kemudian memaksa air masuk melewati tenggorokannya untuk menghilangkan kepanikan.


Risa kembali bertanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Risa pada orang-orang yang mulai terlihat sama paniknya dengan Risa, suaranya telah kembali.

__ADS_1


Tak ada jawaban yang diterimanya. Orang-orang terlihat sama panik dengan dirinya.


Risa berinisiatif melihat apa yang terjadi.


Dia berlari menuju pintu keluar.


"KAPAL MELEDAK!!!."


"LARI!!!"


Belum sempat melihat apa yang terjadi, Risa semakin panik dengan teriakan orang-orang yang berlari menjauh dari arah bagian belakang kapal.


Risa berlari kembali menuju sofa tempatnya duduk.


Dipertengahan jalan menuju sofa, suara bell kapal terdengar keras ditelinganya.


"TTTTUUUUUT TTTUUUUT TTUUUUTTT".


Bel kapal berbunyi, di ikuti sebuah pengumuman bahwa terjadi sesuatu yang gawat pada kapan Ferry dan diharapkan seluruh penumpang untuk mengenakan baju pelampung yang di sediakan dan segera melompat ke laut dengan tertib.


Namun tidak pernah ada kata tertib bagi kepanikan.


Orang-orang semakin berlarian panik. Risa segera melanjutkan larinya dan mengambil tasnya.


Risa menghampirinya.


"Adik sama siapa duduknya?" Tanya Risa lembut.


"Sama ayah." Jawab gadis kecil itu sambil menangis.


Tak pikir panjang Risa menggendong gadis kecil yang menangis.


"Mari kita cari ayah?" Tawar Risa namun tak membutuhkan jawaban.


"Berteriaklah sayang, panggil ayahmu." Perintah Risa pada gadis itu.


Gadis itu terus berteriak memanggil ayahnya, tangisnya hilang sejak Risa menghampirinya.


Risa berkeliling dalam ruangan sofa yang cukup luas. Tak ada hasil, tak seorang lelakipun menghampiri mereka. Orang-orang tak saling perduli, saling menabrak satu sama lain.


Akhirnya Risa memutuskan untuk mencari ayah sang gadis di ruangan lain.

__ADS_1


Semoga tak terjadi hal buruk pada ayah gadis ini.


Doa Risa dalam hati.


Saat akan keluar dari pintu, seorang lelaki berteriak ke arah mereka dengan membawa sebuah pelampung ditangannya.


"Anakku..." Lelaki itu menerobos kepanikan dan mengambil anak gadisnya yang digendong oleh Risa dan memelukknya, dengan segera memakaiakan pelampung pada anak itu.


"Terima kasih nona, segera selamatkan diri anda." Lelaki itu berkata dan kemudian berlari dalam desakan.


Gadis kecil itu hanya menatap Risa dalam gendongan ayahnya dan kemudian menghilang dari pandangan Risa.


Sejenak Risa terdiam, berfikir kepanikan seperti apa yang harus dilakukannya kemudian.


"Koperku!!!". Teriak Risa.


Semua barang-barang penting keperluan melamar pekerjaannya di simpan di koper. Tanpa berfikir lagi Risa berlari melewati orang-orang panik yang mencari keluarga, mencari pelampung dan yang akan melompat ke laut. Saling tabrak-menabrak dengan kepanikan masing-masing.


Risa berlari kearah tangga menuju parkiran Bus. Dia terhenti sejenak menatap keatas langit yang hitam pekat oleh asap yang bersumber dari ledakan. Lidah api menjilat-jilat seperti akan segera menelan kapal Ferry yang ditumpanginya. Kaki-tangannya bergetar, jantungnya berdegup kencang, kepalanya mulai pening, suara teriakan orang-orang tak terdengar lagi, telinganya menjadi tuli seketika.


Disadarkannya dirinya sesegera mungkin dan berlari kebawah menuju parkiran bus. Terlihat dari tangga kapal beberapa orang sedang mengambil barang mereka dengan segera.


Risa terus berlari menyusuri anak tangga. Larinya terhenti setibanya di lantai parkiran. Risa menatap sela-sela sempit antara Bus, ada kengerian yang mencekam, wajahnya memucat. Suara gema pantulan besi-besi, Bus dan kendaraan lainnya terdengar seperti monster besi besar mengamuk.


"DDDUUUAAARRR!!!". Ledakan ketiga terdengar. Ruangan parkir mulai panas.


Risa berlari di sela Bus. Bus yang di tumpanginya terparkir di tengah. Bersyukur pintu Bus telah terbuka, Supir Bus terlihat mengambil tas pinggangnya.


"Nona apa yang anda lakukan disini, segeralah selamatkan diri anda, kapal akan segera karam!!".


Teriak sang supir kemudian berlari dengan cepat menyusuri lorong-lorong celah diantara Bus menuju tangga lalu menghilang.


Risa bergidik.


Risa segera menurunkan koper yang ditaruhnya di bagasi di atas bangku Bus, Kopernya tidak terlalu berat, namun agak besar. Susah payah dia menurunkannya dari bagasi diatas kepalanya kemudian menggeretnya keluar dari Bus.


Lalu dengan seluruh kekuatan,diangkatnya koper tinggi-tinggi diatas kepala dan berlari melewati lorong-lorong sela antara Bus.


Sesampainya ditangga, Risa terdiam sejenak, mengumpulkan kembali keberanian dan kekuatannya menaiki tangga sambil mengangkat kopernya diatas kepala.


"Ayolah!!" Teriak Risa pada dirinya sambil menaiki tangga. Dipertengahan tangga tiba-tiba dirinya terhempas kedepan, kapalnya miring, asap hitam lekat dan panas menyambar wajahnya. Sekuat tenaga diangkatnya kembali koper tepat didepan wajahnya untuk menghalau asap panas yang menerpa wajahnya, Risa kembali berlari menerjang panasnya asap dan segala kengerian. Tibanya dilantai atas, tak seorangpun penumpang tersisa.

__ADS_1


Tak tau kemana harus melangkah, tiba-tiba dari arah belakang seorang ABK menariknya kearah pinggir kapal dengan pagar yang telah di buka, seketika Risa di dorong melompat dari kapal tanpa aba-aba, pun tanpa baju pelampung. Risa sangat terkejut dan berteriak "Aku tidak bisa berenang!!!".


__ADS_2