
Pagi itu.
Di tengah ruang kerjanya yang luas dengan jendela kaca membentang sepanjang dinding bagian luar gedung pencakar langit, Alan memeriksa satu-persatu berkas calon sekertaris yang akan di pilihnya.
Sekertarisnya terdahulu, Amelia, membuat Alan lebih teliti lagi memilih sekertaris baru.
Amelia telah menikah, tetapi memiliki seorang lelaki simpanan yang juga bekerja di perusahaan Alan.
Suatu hari suaminya datang membuat keributan, munuduh Alan sebagai lelaki simpanan Amelia.
Semua itu membuat Alan sangat terusik dan marah.
Alan membenci keributan yang dibuat oleh Amelia dan suaminya, sehingga saat itu juga Amelia di pecat dan tak ingin lagi melihatnya.
Namun Alan tidak terlalu perduli dengan lelaki simpanannya, selama tak mengusik pikiran dan kesibukan Alan.
Alan membuka satu persatu berkas di hadapannya, melihat foto para kandidat, memeriksa status pernikahan, dan membaca seluruh isi berkas terlampir.
Alan tak akan memilih sekertaris yang telah menikah, lagi. Dan tentu saja mencari yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan pada posisi sekretaris.
Dia berhenti di berkas terakhir. Seorang wanita. Wanita cantik dengan bola mata coklat keemasan. Membaca setiap helai berkas miliknya. Memastikan segalanya sesuai.
"Nona Ferry". Kata-katanya datar, tak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Alan menyodorkan berkas salah seorang kandidat pada asistennya yang menanti di hadapannya.
"Aku ingin dia segera bekerja." Tegasnya
"Segera?" Tanya asistennya.
"Maksud anda tanpa wawancara?" Ragu-ragu bertanya.
__ADS_1
"Pernahkah kau melihat aku memecat seseorang karna terus bertanya?!" Ancam Alan pada asistennya.
"Aku tak akan pernah mengulang pernyataanku. Enyahlah!!". Dia memutar badannya yang dengan santai duduk diatas kursi kerjanya, menatap pemandangan luar gedung dengan kearifan kota besar dengan deretan gedung pencakar langit menghiasi.
Alan memiliki kepribadian yang dingin, tidak banyak bicara namun tegas tak terbantah yang diwariskan dari ayahnya.
Dirinya hanya akan mengeluarkan kalimat-kalimat panjang hanya di dalam pikirannya.
Namun sesungguhnya Alan memiliki hati yang sangat lembut, tentu saja terhadap orang-orang yang pantas mendapatkan kelembutan.
Kelembutan yang diwariskan dari sang ibu yang notabennya adalah keturunan bangsawan dengan gerak gerik, tutur kata dan perasaan yang lembut.
Alan adalah pemilik utama sebuah perusahaan transportasi besar di kota itu.
Mulai dari Bus, Kereta Api, Helikopter, Pesawat, segala jenis kapal laut seperti speedboat dan kapal pesiar mewah.
Alan menguasai seluruh kota, bahkan hampir dari seluruh negeri.
Namun kekayaan dan hartanya tak semata dinikmatinya sendiri. Alan membangun rumah-rumah sosial, mendirikan organisasi-organisasi kemanusiaan dan organisasi penyelamatan hewan terlantar.
Selain kehidupan yang berada diatas awan, Alanpun memiliki kehidupan bawah tanah, menjalin hubungan dengan dunia ilegal. Memperbanyak kolega di segala bidang adalah taktiknya untuk melindungi diri.
Dari keseluruhan aset dan segala hal yang didirikannya, tak satupun berlabelkan namanya. Alan tak ingin menjadi orang yang tersorot oleh media dan menjadi bintang diantara para pengusaha. Kekayaan tak menjadikan hatinya sombong.
Tak banyak yang mengenal Alan karena tidak mudah untuk menemuinya. Hanya beberapa orang beruntung saja yang dapat menemuinya, itupun jika Alan membutuhkan mereka.
Alan memiliki banyak kuasa hukum dan kaki tangan yang mengurus segala bentuk usaha dan bisnisnya.
Memikirkan segala harta kekayaan yang dimilikinya, Alan selalu merasa ada hal yang kurang didalam hidupnya.
Hatinya.
__ADS_1
Hati yang abu-abu.
Sambil menatap bayangan dirinya yang tipis pada dinding kaca luas di hadapannya, Alan kembali melemparkan ingatannya beberapa hari lalu saat menyelamatkan gadis itu.
Tidak pernah ada orang sebodoh itu saat mengalami hal buruk, pikirnya.
Lihatlah kebodohannya, disaat genting masih membawa koper besar dan tas ranselnya di tangan.
Benaknya berbicara.
Apa yang ada dalam pikirannya? Aku harus bersusah payah menyelamatkannya bersama benda-benda beratnya itu.
Masih tak ada ekspresi apapun di wajahnya.
Dan lagi, apa yang dilakukannya dengan mengepak-ngepakkan badannya dengan keras di air? Itu hanya akan membuatnya semakin tenggelam.
Ujung-ujung bibirnya mulai tertarik membentuk senyum tipis.
Apa yang di pikirkannya menatapku dari ujung kaki hingga wajah? Tatapan apa itu? Tatapan mesum?
Senyum lebar terlihat di wajahnya, seperti ada rasa bangga dalam dirinya, ini hal baru baginya.
Hati abu-abu itu mulai tergores kuas berwarna.
Selama ini tak ada satupun wanita yang berani mendekatinya, bahkan sekedar menatap wajahnya, apalagi menatap seluruh tubuhnya seperti yang dilakukan nona Ferry pada dirinya.
Sejak kecil, Alan hidup seperti dalam sangkar. Oleh orang tuanya, dia dibiasakan tidak banyak berinteraksi dengan orang luar. Ayahnya adalah seorang petinggi di negeri ini, membuat banyak teror yang datang pada keluarganya. Itulah mengapa keberadaan Alan disembunyikan dan tak banyak yang mengetahuinya. Bahkan sekedar mengenal wanita, apalagi urusan percintaan dia tak pernah merasakan.
Seperti ada setetes percik air membasahi bunga kering, hati Alan mulai basah oleh bayang-bayang nona Ferry
Ada sepucuk kecil kuntum bunga terlihat diujung hati Alan Ricat. Sambil memegang foto nona Ferry, lamunannya masih perputar pada ingatan kejadian bencana kapal Ferry.
__ADS_1