
Risa mulai kelelahan.
Energinya terkuras oleh lelaki kekar yang sedari tadi terus menyerangnya, yang juga mulai terlihat kelelahan menghadapi Risa.
Nafas Risa terengah. Keringat bercucur deras membasahi kemeja putih barunya.
Bersyukur hari ini dia mengenakan setelan celana, bukan rok yang baru di belinya, sehingga membuatnya leluasa untuk bergerak.
Risa tidak dengan mudah menyerah, dia harus menghadapi lelaki itu bagaimanapun caranya.
Terbersit sebuah ide perlawanan dalam pikirannya.
Risa segera berlari menjauh, menghindari serangan demi serangan dari lelaki kekar itu.
Langkah Risa terhenti pada pojok gudang berisi tumpukan karung besar berisi bulu bantal yang lama tak terpakai lagi.
Dia menarik nafas dalam, mengumpulkan kembali sisa-sia energi dan keberanian yang dimilikinya.
"Mau lari kemana lagi nona!!" Lelaki berotot yang terengah itu telah menghampirinya, mulai merentangkan tangannya, mengambil kuda-kuda untuk kembali menyerang dan menangkap Risa.
Risa pun memasang kuda-kuda untuk melakukan perlawanan terakhir, harapnya.
Sebuah perlawanan yang pasti akan berhasil melumpuhkan lawannya.
"Aaaaaa!!!" lelaki kekar itu kembali berlari sembari merentangkan kedua tangan untuk meraup Risa dalam pelukannya.
Namun, belum sempat menyentuh Risa, lelaki itu kembali berteriak.
Berteriak kesakitan, sambil memegangi alat ter-vital bagi lelaki.
Tepat sedetik sebelum lelaki itu menyentuhnya, ujung sepatu Risa telah mendarat sangat kuat di bagian yang menjadi harta berharga lelaki di hadapannya.
Sungguh beruntung bagi Risa, dia merasa puas dengan setelan yang dikenakannya hari ini. Kemeja putih di padukan celana panjang hitam dan sepatu trepes berujung runcing.
Lelaki itu berguling-guling tak tentu arah. Teriakannya pilu, membuat telinga yang mendengar ikut merasakan sakit yang dialaminya.
Sontak seluruh isi gudang mengalihkan perhatian pada lelaki malang itu.
Ada rasa ngilu dalam teriakannya.
Risa merasa sangat puas. Menepuk-tepuk kedua belah telapak tangannya seolah ada kotoran disana. Sambil melempar senyum kepuasan pada Alan yang berdiri tidak jauh darinya.
Namun bukan ekspresi pujian yang diterima Risa dari Alan. Tiba-tiba raut wajah Alan berubah, seolah kaget dan ketakutan.
Dengan tanpa menunggu sedetikpun, Alan segera berlari kencang menuju Risa.
"Risa awas!"
Dari arah belakang, sebuah tangan besi raksasa terlihat akan menghantam tubuh Risa.
Risa menoleh.
Hal ini terjadi begitu cepat, sehingga dia tidak mampu untuk berfikir, hal apa yang harus dilakukannya untuk menghindari hantaman.
Baru saja dirinya merasa puas, namun tak berlangsung lama. Sesuatu yang jauh lebih mengerikan akan menimpanya.
Hatinya pasrah, tubuhnya pasrah menerima.
Tak ada lagi kekuatan yang tersisa.
__ADS_1
Suasanya tiba-tiba berubah, tak ada suara apapun yang terdengar di telinganya. Pikirannya pergi menjauhi situasinya saat ini.
Maafkan aku...ayah...ibu....
Risa melemparkan ingatannya jauh pada orang tuanya.
*Aku akan kembali dalam keadaan tak bernyawa dan.... hancur...
Bukan kembali dalam keadaan bahagia seperti yang ayah dan ibu harapkan*.
Titik bening di ujung matanya mulai menggenang.
Risa menutup matanya. Mengembalikan ingatan-ingatan tentang segala hal yang telah di laluinya.
Bagaimana dirinya harus menerima perintah ayahnya dengan terpaksa.
Sebuah kecelakaan laut yang mengerikan, pekerjaan yang baru saja di dapatkannya yang bahkan belum sempat di nikmatinya.
Perjanjiannya dengan Rega. Namun mengingat Rega membuatnya semakin pasrah menerima. Dirinya lebih memilih untuk tiada dari pada harus bersama Rega.
Dan tentu saja Tuan Alan...
Maafkan aku.
Dadanya mulai terasa ringan, melepaskan tubuhnya pada tangan itu.
Saat tangan besi itu hendak menghantam tubuhnya, sebuah tangan lainnya lebih dulu menarik tubuh Risa.
Tangan familiar di tubuhnya.
*Apakah aku sudah mati?
Aroma yang sungguh familiar.
Aroma dingin ini seperti*....
Risa membuka matanya, menemukan tubuhnya telah berada dalam pelukan Alan, lagi.
Risa telah berada dalam pelukan Alan untuk kesekian kalinya.
Menghirup kembali aroma dingin itu.
*Ya tentu saja ini aroma miliknya...
Tuan malaikat*...
Risa tidak menolak sedikitpun. Dia menikmatinya.
Hujan bulu seolah terdengar seperti alunan merdu nan sejuk yang membawa dua tubuh itu hanyut dalam aliran ketidakwarasan hati.
Tak ada spasi diantara raga. Juga tak ada spasi lagi diantara jiwa dan hati.
Alan dan Risa jatuh cinta. Tapi Risa tak menyadari hal itu.
Tubuh mereka berputar dibawah hujan bulu yang terurai oleh hantaman tangan besi yang meleset dari tubuh Risa.
Waktu seperti berjalan perlahan.
Tautan lengan Alan semakin menguat di pinggang Risa. Reflek Risa pun membalas pelukan itu. Mata mereka saling bertaut dalam.
__ADS_1
Risa dan Alan menikmati kedekatan mereka saat itu, saat hujan bulu menyirami tubuh mereka tanpa menghiraukan keadaan yang sedang mereka hadapi saat ini.
Saat mereka berdua masih terhanyut dalam moment itu, sebuah tangak kuat mendorong mereka jatuh terpental ke lantai gudang tua.
Kemuadian sesuatu yang besar melayang kuat diatas mereka, menciptakan suara angin kuat di telinga Alan, Risa dan pak Doni.
Di balik kemudi, Lena dengan liar menghempaskan tangan besi besar yang di kendarainya.
"Sadarlah tuan Alan, bukan saatnya untuk anda dan nona Risa bermesraan".
Mereka ber-tiga bangkit kembali saat tangan besi itu kembali berputar ke arah mereka.
Sontak mereka pun segera menghindar.
Lena kembali akan melemparkan tangan besi besar itu kearah mereka bertiga. Belum sempat jemarinya bergerak, sesuatu menghentikannya.
"Dor!!!
Suara tembakan terdengar keras dari arah pintu rolling dor.
Semua orang menghentikan pergerakan termasuk Lena.
Sedangkan Larry telah terkapar bersimbah darah tetembus oleh timah panas. Tubuhnya bergetar kuat sesaat sebelum nyawanya terenggut.
"Larry!!!" Teriak Lena.
"Siapa yang berani membunuh Larry-ku!!!" Teriaknya menggila.
Lena menghambur turun dari alat berat itu dan menghambur memeluk tubuh Larry.
"Lena...oh Lena..." Comet menyarungkan kembali pistolnya.
"Tu...Tuan Comet?" Lena mengalihkan perhatian pada suara yang menyebut namanya.
"Tuan Comet apa yang anda lakukandi sini?" Tanya Lena gugup.
"Kenapa anda menembak Larry ku?"
Comet tidak menghiraukannya dan berjalan mendekati Alan.
"Maaf tuan Alan aku sepertinya terlambat." Comet berbicara seraya membungkuk hormat pada Alan.
"Silahkan kembali ke kediaman anda, aku akan mengurus kekacauan ini." Dia menjentikkan jemarinya, mengisyaratkan pada anak buahnya untuk mengawal Alan, Risa dan pak Doni menuju mobil.
Alan hanya mengangguk dan dengan cepat membawa Risa yang masih dalam lingkaran lengannya masuk ke dalam mobil.
***
Halo para reader tercinta dan setia Innocence Love.
Akhirnya kita telah sampai di Bab ini.
Jangan lupa untuk tetap mendukung karyaku Innocence Love dan karya lainnya dengan cara Like, Rate dan Vote ya.
Dukungan kalian sangat berarti untuk author.
Dan janga lupa tinggalkan jejak di kolom komentar berupa kritik dan sarannya.
Kesalahan ada pada author, kesempurnaan hanya milik Allah SWT.
__ADS_1
Terima Kasih 😘