
Siang tadi Risa mendapatkan telepon dari Rega dan mengatakan bahwa dirinya bisa mulai bekerja besok.
Risa juga menemukan sebuah apartemen sederhana dekat dengan perusahaan yang akan menjadi tempatnya bekerja.
Risa akan pindah malam ini juga setelah mengambil semua barang miliknya di apartemen Rega.
Dia tidak akan mengatakan pada Rega mengenai apartemen ini. Sebisa mungkin dia akan pergi setelah Rega tertidur. Dia tak ingin Rega mengetahui dimana dia akan tinggal untuk sementara waktu.
Sore menjelang. Dia menunggu malam tiba sambil sedikit berbelanja pakaian yang akan dipakainya bekerja. Beberapa helai kemeja putih dan rok span cantik menjadi miliknya.
Setelah selesai, Risa kembali ke apartemen Rega. Sesampainya disana, makan malam telah terhidang diatas meja. Risa ragu untuk ikut makan bersama Rega, namun perutnya tak pernah sejalan dengan pikirannya.
"Kau berbelanja pakaian?" Tanya Rega.
"Ya." Jawab Risa datar.
"Habiskan makananmu dan beristirahatlah." Rega bangkit dari duduknya setelah selesai menghabiskan makan malamnya, masuk ke kamarnya dan tak keluar lagi.
Risa dengan segera menghabiskan makan malamnya kemudian segera memasukkan semua pakaian yang di jemurnya ke dalam koper. Mengemasi seluruh barangnya tanpa suara.
Waktu terus berputar. Risa terhuyung-huyung menanti waktu yang tepat untuk pergi.
Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul sepuluh malam.
Risa mengintip dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka. Memastikan Rega telah benar-benar terlelap.
Perlahan kaki jenjang Risa melangkah keluar dari kamarnya, memperhatikan koper besar dan tas ranselnya agar tidak menabrak apapun yang akan menimbulkan keributan dan membangunkan Rega.
Setelah bersusah payah akhirnya Risa sampai di pintu apartemen, perlahan membuka pintu, melangkah keluar dan menutup kembali pintunya.
Seperti melakukan pekerjaan yang sangat berat, Risa terengah.
Jalanan masih ramai malam itu.
Pedagang-pedagak kaki lima masih menjajakkan jualannya.
Risa mampir membeli cilok dan es sari tebu.
Kemudian mencari tempat duduk, tepat di sebrang apartemennya.
Menyimpan koper dan tas disampingnya.
Satu cilok masuk kedalam mulutnya. Kemudian menyeruput es sari tebu.
Cilok kedua masuk kedalam mulutnya. Belum mulai mengunyah, kantuk yang sangat berat kembali datang. Es sari tebu masih di genggamnya diatas bangku jalan. Tangan kirinya memegang wadah cilok.
Risa tertidur.
Setiap hari Alan selalu pulang jauh lebih lama dari seluruh pegawainya. Menyelesaikan semua pekerjaan tepat waktu adalah moto kerjanya.
__ADS_1
Pukul sebelas malam, supir pribadinya telah menanti didepan pintu masuk gedung perusahaan.
Mobilnnya melaju perlahan keluar melewati gerbang. Security yang berjaga memudahkan mobil melaju memotong jalan raya.
Mobil berhenti saat lampu merah. Dari arah sebrang, tepat di pinggir jalan di depan sebuah taman dengan lampu-lampu indah menyala, Alan menatap sesosok wanita sedang duduk disalah satu bangku dengan banyak barang bawaan. Lampu berubah hijau, supir kembali mengemudikan mobil, semakin mendekati sosok wanita yang duduk di bangku jalan.
"Pak, berhenti." Tiba-tiba Alan memerintah sopirnya untuk berhenti tepat di depan wanita itu.
"Tuan, sepertinya itu wanita gila yang malang." Komentar sang supir.
"Kenapa dia tak menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum tidur? Oh ya tentu saja karna dia gila." Sang supir membuat tanya jawabnya sendiri.
"Dia orang gila yang sungguh rapi dan cantik." Masih penuh komentar.
"Dia tidak gila, dia hanya bodoh." Jawab Alan.
"Apakah anda mengenalnya?" Tanya sang supir.
Alan tak menjawab.
Sepuluh menit berlalu.
"kapan kita akan pulang tuan?" Tanya lagi sang supir.
Alan mengalihkan pandangannya pada supir dan berkata
"Tidakkah kau pernah melihatku memecat seseorang karna terlalu cerewet?!" Ancam Alan yang tak sungguh-sungguh pada supir kesayangannya.
Wanita gila yang cantik. Pikirnya.
Tigapuluh menit berlalu. Alam masih menatap gadis itu. Tak ada gerakan sedikitpun dari wanita itu. Masih dengan posiai duduk, kepala bersandar pada sandaran bangku jalan, dengan tangan masih memegang sesuatu seperti makanan.
Kebodohan apalagi yang kau lakukan hey nona Ferry. Benaknya.
Mengapa aku selalu menemukanmu dalam keadaan menyedihkan. Dan sekarang kau tertidur dipinggir jalan seperti itu.
Malam terus bergulir. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari.
"Tuan, ada yang salah dengan wanita gila itu, sepertinya dia tidak tertidur. Mungkin dia pingsan atau mati?".Dalam keadaan sangat mengantuk sang supir kerkata. Menatap tuannya yang tak ada kedip menatap wanita gila itu sekian lama.
"Dan sepertinya dia tidak gila tuan, melihat penampilannya yang rapi dan cantik." Sambungnya.
"Kau yang mengatakannya gila, buka aku." Jawab Alan.
"Tuanku, apa tidak sebaiknya kita mengecek wanita itu? Dari pada hanya menatapnya berjam-jam."
"Memangnya sudah berapa jam kita disini?" Alan melirik jam tangannya.
Kegilaan apa yang kulakukan sedari tadi?
__ADS_1
Alan mengutuk dirinya sendiri.
"Turanlah, cek nona itu." Perintahnya.
Pak Doni sang supir turun dari mobil dan mengecek wanita itu, kemudian kembali melaporkannya pada Alan.
"Nona itu masih bernafas tuan, dan... sepertinya ada suatu di mulutnya." Lapor pal Doni.
"Segera bawa masuk nona itu beserta barangnya, kita akan menitipnya pada salah satu hotel disekitar sini."
"Baik Tuan."
"Tunggu." Alan menghentikan langkah Pak Doni, membuka pintu mobil dan keluar.
"Biar aku yang mengangkat nona Ferry."
"Nona Ferry? itukah nama wanita itu tuanku?"
"Kenapa kau terus bertanya?!" Protes Alan pada Pak Doni.
Supir pribadi yang merupakan orang terdekat bagi diri Alan di kota ini. Alan hidup jauh terpisah berbeda kota dengan keluarganya.
Alan mengangkat tubuh itu, lagi. Memerintahkan pak Doni membawa seluruh barang dan makanan yang di pegang nona Ferry ke dalam mobil, meletakkannya duduk disampingnya.
Tiba-tiba sesuatu menggelinding keluar dari mulut nona itu.
"Pak doni, sesuatu keluar dari mulutnya, bisakah kau mengeceknya?"
Pak Doni mengambil telepon genggamnya dan menyalakan penerang, memeriksa sesuatu yang keluat dari mulut nona itu.
"Tuan, sepertinya ini cilok."
"Cilok? Apa itu cilok?"
"Makanan yang di pegang nona itu sedari tadi." Jawab Pak Doni sambil menyalakan mobil dan mulai menyetir menuju hotel terdekat.
"Ceritakan aku tentang cilok." Tiba-tiba Alan bertanya, sambil tetap menatap nona Ferry yang terlihat tidur sangat lelap.
" Cilok, bola-bola daging yang di baluri saos sambal tuanku." Sambil tersenyum, Pak Doni menjawab tuannya.
"Cilok adalah cemilan favorit hampir seluruh warga di negeri ini tuanku." Lanjutnya.
"Benarkah? Tetapi tampilannya sungguh tidak menarik bagiku."
"Cobalah suatu hari, anda akan menyukainya."
"Ya, aku akan mencobanya saat kewarasanku sudah hilang." Jawabnya sinis.
Pak Doni menghentikan mobil tepat di depan lobi hotel. Keluar dari mobil dan memesan sebuah kamar.
__ADS_1
Alan membopong nona Ferry menuju kamar yang telah di pesan, membaringkannya diatas ranjang. Menatapnya sesaat. Mengambil selembar kertas dan pena, menuliskan sesuatu dan meninggalkannya diatas meja disamping ranjang.
Pagi akan segera tiba, Alan kembali ke kediamannya dengan senyum kecil menghiasi bibir dingin itu.