
Risa membanting pintu ruang kerja Alan dengan sangat keras sebagai luapan kemarahannya.
Dirinya merasa di lecehkan oleh Bosnya yang mulai disukainya, namun rasa suka itu sirna begitu saja akibat perbuatan tidak senonoh yang dilakukannya pada Risa.
Hatinya panas, kepala, mata dan nafasnya semakin panas.
"Lelaki itu, berani-beraninya dia!!!" Risa menggerutukkan giginya.
BRAAAKKKK
Bunyi hantaman genggaman Risa pada meja kerjanya. Seluruh benda diatas mejanya bergetar.
"Lelaki mesum!!!" Kemarahannya terus berlanjut.
"Jadi, menyelamatkanku saat tenggelam adalah sebuah modus?!!" Risa semakin merasa geram.
Risa menundukkan pandangannya, menatap bagian dadanya yang di sentuh oleh Alan.
"Apa katanya?! menjadi miliknya?!" Wajah Risa merah padam akan kemarahan.
"Apa maksud dari kata-katanya!! Risa bangkit dari duduknya.
"Dia pantas mendapatkan tamparan lebih dari itu!!"
"Haruskah aku menamparnya lagi??!!" Risa ingin kembali ke ruangan Alan dan menamparnya lagi, namun dia merasa ragu, dan kemudian kembali terduduk.
"Baiklah, mungkin akan ku tabung dulu energiku untuk menamparnya lagi kelak." Amarahnya sedikit mereda. Risa tiba-tiba menyadari dan terkejut dengan keberaniannya menampar lelaki yang baru beberapa hari menjadi bosnya.
"kenapa aku berani menampar bosku?" Ada sedikit ketakutan dihatinya.
"Tidak!!! Aku tidak boleh goyah, dia telah berprilaku tidak pantas padaku." Emosi Risa kembali memanas.
Risa mengambil segelas air, meneguknya dengan sedikit kasar. Kemudian berusaha menenagkan diri. Menyalakan komputernya dan berusaha mengalihkan kemarahannya pada pekerjaan.
Sedangkan Alan masih terpaku pada posisi yang sama sejak Risa meninggalkannya.
Memperhatikan setiap gerak-gerik Risa, membaca maksud dari setiap gerakan. Dirinya terlihat jauh berbeda dari dirinya yang biasa.
Sepertinya cinta memang bisa membuat orang menjadi gila.
Alan mulai sadar dengan prilaku diluar kebiasaannya.
Dia memutar badannya menatap jendela kaca, merenung sesaat kemudian melangkah kembali ke meja kerjanya.
---
Waktu menunjukkan pukul dua belas siang, waktu makan siang telah tiba.
Risa segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Dia tidak ingin berada didalam lift berdua dengan Alan.
Risa berlari-lari kecil menuju lift, menekan tombol turun. Saat pintu lift terbuka, dia segera masuk dan menekan tombol tutup. Saat pintu mulai menutup hati Risa merasa lega.
Risa melemaskan seluruh ototnya yang kaku, namun sebelum pintu lift benar-benar tertutup, jari-jemari Alan muncul dari sela pintu lift, menghentikan laju pintu yang tertutup.
__ADS_1
Risa terkaget, pintu lift terbuka. Sosok Alan yang tinggi dan tampan seolah dipahat telah berada dihadapannya, berdua bersamanya didalam lift.
Tanpa pikir panjang Risa mendorong Alan dan berlari keluar dari lift menuju tangga darurat.
Risa terus berlari turun sebanyak tiga lantai.
Risa terengah, menghentikan larinya dan langsung terduduk lemas.
Masih menarik nafas panjang, peluhnya menetes membasahi lantai dibawah kakinya.
"Hah? Apa lagi yang aku lakukan?" Masih dengan nafas terengah.
"Kenapa aku mendorongnya?" Risa kembali gelisah, menyesali kebodohan yang dilakukannya.
"Oh...." Risa tertunduk. Karna kemarahannya pagi ini, dirinya terus melakukan hal-hal yang tak direncanakan dan tak diduganya.
Entah apalagi yang akan dilakukannya saat bertemu Alan.
"Tidak!!! Tentu saja ini pantas untuknya karna telah berprilaku tidak sopan padaku." Risa bangkit dari duduknya, merapikan rambut basahnya karna peluh, merapikan bajunya dan berjalan keluar dari area tangga darurat dengan rasa amarah yang kembali mendatanginya.
Lift berjalan turun, Alan terdiam merenungi kesalahan yang dilakukannya pagi ini hingga membuat Risa membenci dan seolah ketakutan pada dirinya.
Sebuah usaha mencari cinta Risa yang gagal bahkan membuat Risa membencinya.
Aku tidak bisa terlalu mempercayai internet.
Pikir Alan menyesali.
Dia bahkan berani mendorongku.
Ada sedikit kesedihan di hati Alan.
Mobil melaju kencang menuju Cafe ternama milik Alan yang letaknya strategis berhadapan langsung dengan laut barat. Jarak yang ditempuh dari perusahaan sekitar delapan belas kilometer dengan kecepatan seratus dua puluh kilometer per jam, sehingga mobil membutuhkan waktu sekitar lima belas menit untuk tiba di Cafe. Waktu yang cukup untuk Alan berkonsultasi dengan Pak Doni mengenai kejadian pagi ini bersama Risa.
"Hahahaha." Tawa pak Doni terdengar menggelikan mendengar seluruh cerita Alan.
"Kau mentertawaiku." Komentar Alan datar.
"Maafkan aku tuan, sungguh aku berterima kasih anda telah menceritakan ini padaku." Pak Doni senang Alan mempercayainya mengenai percintaannya yang terancam gagal.
"Aku membutuhkan masukanmu, bukan tawamu, katakan sekarang." Desak Alan.
"Baiklah tuan." Jawab Pak Doni masih dengan senyum dibibirnya.
Pak Doni terdiam, berfikir.
"Menurutku sebaiknya anda menulis sebuah surat, jelaskan seluruh kronologis mengapa anda menyentuh dadanya. Bila perlu lampirkan alamat blog yang menjadi referensi anda. Tulislah dengan ketulusan." Pak Doni bukanlah seorang yang ahli dalam urusan cinta, namun selain dirinya, tak ada lagi orang yang bisa dipercayai Alan untuk dimintai masukan.
"Sebuah surat?" Tanya Alan memastikan.
"Ya tuan, sebuah surat cinta." Jawab pak Doni.
MOTI CAFE
Cafe milik Alan dengan dinding bernuansa transparan meperlihatkan pemandangan laut lepas yang indah, saat senja tiba para penikmat laut dan langit mulai memenuhi cafe, menikmati sore sambil menyeruput kopi didampingi soufle pancake.
__ADS_1
Alan memiliki ruang kerja pribadi di Moti Cafe.
Langkahnya tergesa menuju ruang kerja yang terletak di atap cafe. Ruang kerja dengan keseluruhan dinding tertutup kayu yang sejuk, dilengkapi sebuah jendela berukuran tujuh puluh sentimeter kali seratus lima puluh sentimeter dengan pemandanga langit dan lautan.
Alan menarik secarik kertas dan pena.
Berfikir sejenak apa yang pertama harus dijelaskannya dalam suratnya.
Dear Clarissa.
Sentuhlah dia tepat di hatinya
Dia akan jadi milikmu selamanya
Sentuh dengan sepenuh cinta
Buatlah dia terbang melayang
.
.
.
Alan terdiam, kemudian merobek dan menggulung lembar pertama surat cintanya dalam genggamannya dan melemparkan tepat masuk kedalam keranjang sampah.
Lembar kedua ditarik. Alan mulai menulis.
Risaku Sayang
.
.
.
Usaha keduanya kembali berakhir di dalam keranjang sampah.
Lembar ke tiga.
Lembar ke empat.
Lembar Ke lima. Berakhir tergeletak tak karuan di lantai.
Alan selalu menggunakan pikiran saat bekerja, tak pernah tau bagaimana hatinya bekerja.
Kali ini dia harus bekerja dengan hatinya.
Menulis dengan tulus seperti yang dikatakan pak Doni.
Lembar yang diharapkannya menjadi lembaran terakhir ditarik. Jemarinya mulai meliuk indah diatas kertas putih, menghias dengan tinta-tinta penuh cinta.
Waktu seperti mengejarnya, Alan telah menyelesaikan suratnya. Memasukkannya kedalam selembar amplop coklat.
Alan bergegas, berlari menuju parkiran Cafe mencari sang supir kesayangannya. Tak terasa Alan telah menghabiskan tiga jam hanya untuk menulis selembar surat.
__ADS_1
"Sepertinya anda telah selesai tuan." Pak Doni segera membukakan pintu mobil, menutupnya kembali dan bergegas.
Mobil kembali melaju dengan cepat. Alan tidak sabar ingin menyerahkan suratnya pada Risa.