Innocence Love

Innocence Love
Diculik


__ADS_3

Risa terlihat payah membawa seluruh belanjaannya, namun Alan hanya ingin menatap dan menjaga Risa dari kejauhan.


Apa yang dipikirkannya? Mengapa dia mencari bus dengan barang bawaan sebanyak itu, kenapa tidak memesan taxy?!


Alan terus mengikuti arah tujuan Risa.


Sepuluh menit berselang, Bus tidak kunjung tiba.


Jarak Alan dari posisi Risa berdiri hanya sekitar dua puluh meter.


Saat Risa masih menanti bus, terlihat dua orang lelaki berdiri sekitar lima meter dari tempat Risa. Kedua lelaki itu terlihat menatap Risa, mereka terlihat berbincang dengan seseorang melalui handphone yang digenggamnya. Setelah menerima panggilan dari ponselnya, dua lelaki itu melangkahkan kakinya menuju tempat Risa menunggu Bus.


Alan memperhatikan gerak-gerik dua orang lelaki yang terlihat semakin mendekati Risa. Risa terlihat tidak menyadarinya.


Alan mulai khawatir. Dua lelaki itu semakin mendekat, berharap mereka hanya akan melalui Risa tanpa mengganggunya.


Alan terus memperhatikan.


Dua lelaki itu terlihat semakin dekat dan berhenti tepat dibelakang Risa. Belum ada pergerakan mencurigakan apapun yang dilakukan oleh kedua lelaki itu, namun Alan tidak ingin menunggu.


Alan menyegerakan langkahnya mendekati Risa, namun dari arah belakang seseorang menarik dengan kuat dan kasar bahu Alan.


"Mau kemana tuan sok jago." Suara seseorang yang asing yang menarik Alan.


Sontak Alan dengan sigap menapis lengan asing itu dari bahunya sembari berbalik arah dan menemukan tiga orang lelaki dihadapannya, dua diantaranya bertubuh kekar tinggi dan satu lagi adalah lelaki yang dihajar Alan di toilet Mall hingga babak belur.


"Kau pikir aku tidak akan membalasmu hah!!" Lelaki dengan wajah yang mulai membiru itu berkata berani seolah lupa dengan tinju Alan yang pernah mendarat di wajahnya.


Alan siaga, menoleh ke arah Risa yang terlihat terpojok di bangku halte oleh dua lelaki tadi.


"Apa mau kalian." Kalimat Alan dingin dan dalam.


"Kau pikir semudah itu lari setelah menghajar kawan kami?!" Lelaki kekar berkepala plontos melangkah maju mendekati Alan.

__ADS_1


"Gadis yang sedari tadi kau ikuti akan kami sita untuk sementara waktu ahahah." Tawa lelaki berkepala plontos.


Alan menoleh ke Arah Risa. Dari kejauhan Alan dapat melihat bagaimana Risa telah berada dalam dekapan dua orang lelaki itu. Namun Risa terlihat berusaha melepaskan diri dari cengkraman mereka.


Seorang memelukknya dari belakan, dengan ilmu bela diri yang pernah di pelajarinya Risa berhasil melepaskan diri dengan menjedotkan kepalanya kebelakang, kemudian menendangkan kakinya keras kearah area sensitif lelaki itu.


Terlepas dari lelaki yang satu, lelaki yang lainnya berusaha memeluknya dari arah depan. Dengan lincah dan bertenaga Risa mengarahkan sikutnya tepat pada wajah lelaki itu.


Saat Alan mulai melangkahkan kakinya berlari kearah Risa, tangan lelaki kekar berkepala plontos itu kembali menarik badannya. Memukul keras tepat wajah Alan.


Tubuh Alan hanya bergeser sedikit dari posisinya. Dari sudut bibirnya terlihat setetes darah.


Kemarahannnya memuncak, hatinya membara.


Dengan seluruh kekuatannya, hanya dengan sekali hantam, genggaman Alan melayang pada lelaki itu.


Seorang lelaki kekar lainnya menendangkan kakinya kearah kepala Alan, namun dengan tangkas ditangkap.


"KREEEKK" Suara kaki lelaki itu yang kemudian terjatuh lunglai.


Alan menatap marah lelaki dengan baju berkerah "V" yang dihajarnya tadi dan ingin segera menerkamnya kembali. Namun melihat kobaran api di mata Alan, wajahnya yang hancur kembali berdenyut, lelaki itu dengan cepat melarikan diri.


Alan menoleh dan segera berlari ke arah Risa yang masih berusaha melepaskan diri dari dua lelaki yang menyergapnya.


Saat Alan semakin dekat, tiba-tiba sebuah mobil mini Van menghadangnya, membawa dua lelaki itu pergi beserta Risa bersama mereka.


Mobil itu dengan cepat membawa mereka, Alan mengejar dengan seluruh tenaganya, namun kecepatan larinya tak sebanding dengan laju mini Van.


"TIIIINN."


"CIIIIT."


Suara sebuah roba mobil berdecit tepat disamping Alan.

__ADS_1


Pintu mobil terbuka, pak Doni terlihat dibalik kemudi.


Dengan Cepat Alan masuk dan tanpa menunggu pintu mobil tertutup sempurna, pak Doni dengan cepat melajukan mobil mengikuti mini Van yang menculik Risa yang tak terlihat lagi setelah berbelok.


Pak Doni adalah seorang supir khusus yang terlatih. Selain sebagai sopir, pak Doni juga disiapkan sebagai bodyguard yang di sediakan oleh ayah Alan untuk menemani Alan, usia pak Doni hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Alan.


"Sebaiknya anda menghubungi Comet." Sambil mengemudi pak Doni memberi saran pada Alan.


Alan segera menyambungkan telepon, tak lama sambungan telepon langsung terangkat.


"Comet, aku ingin kau segera melacak keberadaanku dan membawa orangmu, segera!!" Perintah Alan pada Comet.


Comet adalah seorang bos besar kehidupan malam dari segala segi. Segala hal tentang malam dikuasainya. Tak ada seorangpun yang mengetahui pengaruhnya yang berani bahkan hanya sekedar untuk menatap wajahnya.


Wajah yang penuh bekas luka diatas kulit merahnya. Dengan mata yang teduh namun senyuman yang licik. Tubuh gempalnya membuat dirinya terlihat ramah, namun saat dia marah atau sedang menjalankan tugasnya, tak ada belas kasih dalam hatinya.


Sebelumnya Alan tidak pernah berada di situasi yang mengharuskan pak Doni menunjukkan keahliannya dalam mengemudi. Bahkan dirinya harus mengencangkan seatbelt dan berpegangan erat pada pegangan mobil.


Mini Van semakin tidak terlihat, Pak Doni semakin menginjak gas mobil, menyalip kekiri dan kekanan diantara beberapa mobil yang melaju di jalanan yang luas hingga jarak mereka hanya sekitar tiga mobil.


Dengan sangat tiba-tiba mini Van berbelok ke kiri di perempatan lampu merah yang berada di depan mereka.


Pak Doni semakin mengencangkan laju. Saat jarak antara mobil dan belokan sekitar dua meter, pikiran pak Doni mulai lihai mengkalkulasikan jarak, waktu dan sudut yang harus di ambil untuk mendapatkan drifting yang diinginkan sesuai dengan keadaan jalan.


Dalam hitungan detik telapak kaki pada pedal gas diangkat kemudian menginjak sedikit rem dan kaki lainnya menginjak separuh dari pedal kopling. Pada waktu yang bersamaan pula pak Doni dengan lihai memainkan persneling menjadi angka satu dan memutar setir dengan ritme yang disesuaikannya dengan posisi mobil pada jalanan.


Suara decitan keras dan panjang terdengar. Asap tipis dari gesekan ban dan aspal memuai di udara. Ban mobil sedan meninggalkan jejak hitam bergelombang di aspal jalanan.


Saat titik mobil tepat berada di jalur pengkolan, dengan cepat pak Doni melepas pedal kopling, menginjak gas dan memainkan persneling kembali sesuai dengan kecepatan laju mobil yang diinginkan.


Mobil yang membawa Alan melaju cepat mengejar mini Van yang membawa Risa.


Suara klakson terdengar riuh dari mobil-mobil yang di lalui mini Van dan Sedan yang saling mengejar.

__ADS_1


__ADS_2