Innocence Love

Innocence Love
22 mei


__ADS_3

- Belajarlah berenang selagi kamu ada waktu. karna suatu hari kita tak pernah tau kapan akan dipaksa untuk harus berenang -


21 mei,


Sabtu pagi cerah tak secerah hati Risa. Sambil memasukkan bajunya kedalam koper besar, Risa resah dengan apa yang telah orangtuanya rencanakan untuk kehidupan percintaannya.


Dia harus rela menerima keputusan ayahnya untuk menikah dengan Rega. Dirinya bisa memaksa mulutnya untuk berkata iya, namun hatinya sangat keras ingin memberontak.


Namun melihat kesedihan hati ibunya, Risa tidak bisa berbuat apapun. Untuk sementara waktu, Risa akan mengikuti alur rencana ayahnya dan melihat situasi kedepannya.


Lagipula dia akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkannya selama ini. Minimal ada sedikit perasaan senang dihatinya. Dan jika memikirkan Rega, mungkin saja hanya pikirannya yang terlalu negatif pada diri Rega.


"Jangan lupa hubungi ibu ya nak kalau sudah sampai di kota". Sambil memeluk erat Risa seolah tak ingin dilepas.


Ibunya sangat percaya bahwa ini adalah keputusan tepat demi kebahagiaan Risa walaupun hatinya berat melepas kepergian anaknya dan mengingat bagaimana Risa menangis dalam pelukannya.


Yang membuat ibunya merasa tenang adalah bahwa dirinya percaya pada Rega yang akan membahagiakan Risa.


Klakson Bus yang ditumpangi Risa berbunyi sebanyak tiga kali menandakan bus akan segera berangkat, semua penumpang saling melepas rindu dan haru bersama keluarga.


Risa menatap sendu pada ibu dan ayahnya yang kian menghilang dari pandangannya, tak sadar sebutir air mata menetes dari ujung mata indah dengan bola mata coklat keemasannya. Sedih meninggalkan ibunya, meninggalkan kota kelahirannya.


Diraihnya dompet kecil dari dalam tasnya berisi headset, dipasangkan pada handphone miliknya.


Sambil menutup mata Risa mendengarkan alunan lagu bergenre countries yang diputar, perlahan menghapus kesedihannya.

__ADS_1


Suara musik dari headset-nya mengalahkan alunan genre musik lain yang memenuhi ruang bus yang diputar oleh Pak supir.


Bus melaju dengan ringan namun akan tiba di pelabuhan tepat 2 jam setelah keberangkatan.


Bus dengan muatan sekitar 30 orang dengan segala fasilitas yang nyaman seperti AC, toilet yang nyaman, Telivisi dan bagasi yang cukup besar untuk menyimpan bawaan para penumpang membuat perjalanan sangat nyaman, waktu 2 jam tidaklah berarti apa-apa untuk tiba di pelabuhan.


Sesekali Risa membuka mata menatap pepohonan yang seolah berlari di samping kiri dan kanan bus. Memikirkan akan bagaimana kehidupannya di kota. Memikirkan akan seperti apa dan bagaimana jika bertemu Rega. Terbersit sebuah rencana di otaknya untuk tidak menemui Rega terlebih dahulu. Dirinya akan berusaha mencari pekerjaan dengan usahanya sendiri. Ya pikirnya, sebaiknya seperti itu.


Risa kemudian membayangkan menemukan pekerjaan yang sesuai dengan keinginannya. Membayangkan bagaimana tampilan dirinya mengenakan kemeja, dengan kartu identitas menggelantung di lehernya. Berada diruang dengan pendingin udara, saling menyapa dengan karyawan lain, pergi makan siang di cafe sekitar kantor dengan berbagai macam menu makanan yang tak pernah ditemuinya sebelumnya, dan hari ketika hasil kerjanya dihargai.


Dirinya akan mengunjungi tempat-tempat wisata, berpiknik, dan segala bayangan-bayangan menyenangkan.


Risa tersenyum dengan lamunannya.


Sang supir mulai mengganti alunan musik menjadi film, sebuah film komedi.


Beberapa dari penumpang terdengar tertawa, sebagian penumpang terlihat memejamkan mata entah tertidur atau memaksa untuk tidur. Ada yang terdengar sedang berjuang memaksa isi perutnya untuk keluar.


Perlahan Risa melupakan kesedihannya dan menikmati perjalanan perdana menjauh dari kota kelahirannya.


Suara klakson kapal ferry yang sangat besar dan panjang terdengar dari dalam Bus, menandakan Bus telah tiba di pelabuhan.


Bukan hanya Bus yang ditumpangi Risa, namun banyak Bus lain yang tiba dan memasuki antrian kapal.


Risa menatap asing, ini hal baru bagi dirinya. Hal baru pergi merantau jauh dari orang tua, menaiki Bus menyebrangi pulau, dan tentu saja hal baru menyebrang dengan kapal Ferry besar yang tak pernah dilihatnya sebelumnya.

__ADS_1


Bus-bus antrian perlahan maju memasuki area jembatan menuju area parkir kapal Ferry. Para penumpang sibuk dengan serius memperhatikan para ABK kapal yang mengatur segala tali-temali yang mengait antara kapal dan sandaran pelabuhan, sehingga Bus-bus bisa masuk dengan aman.


Para penumpang sedikit terhentak saat Bus melewati jembatan antara kapal Ferry dan pelabuhan.


Bus berjalan sangat perlahan mengikuti aba-aba dari beberapa ABK.


Risa segera mematikkan musiknya, melepas headset dan menyimpannya kembali.


Dirinya menatap keluar Bus, melihat lautan yang akan diarunginya bersama kapal Ferry dihadapannya. Kemudian menatap kebawah, lautan yang bersentuhan langsung dengan kapal.


Risa sangat takjub melihat pemandangan air laut dibawahnya yang sangat jernih. Ikan-ikan berenang seolah tak terganggu dengan besi besar mengapung disekitar mereka. Ikan-ikan kecil berwarna hitam dan beberapa ikan kecil berwarna-warni, berenang berkelompok, berputar-putar sangat indah.


Yang lebih membuatnya takjub adalah beberapa anak kecil sungguh lihai berenang diantara ikan-ikan. Anak-anak yang hidup di sekitar pelabuhan. Iya tentu saja berenang di sekitar kapal dilarang. Berbahaya berenang diantara kapal-kapal Ferry besar dengan baling-baling yang tajam. Tapi tentu saja anak-anak itu lebih lihai dari ikan. Mereka menunggu para penumpang melemparkan koin ke laut, dan mereka dengan serempak mengejar koin yang kian tenggelam ke dasar laut.


Setelah salah seorang telah beruntung menangkap koin, semua kembali ke permukaan air menunggu koin selanjutnya. Itu sangat menghibur para penumpang dan membuat hati anak-anak itu bahagia.


Saat Bus sudah berada pada posisi memarkir sesuai dengar arahan ABK, para supir mematikan mesin Bus dan mulai membuka pintu.


Para penumpang Bus mulai berhamburan menaiki tangga-tangga kapal Ferry menuju tempat peristirahatan yang banyak di sediakan.


Risa yang tak pernah memiliki pengalaman menaiki kapal Ferry tidak menujukkan sedikitpun kekakuannya, dia hanya berusaha tenang dan dengan acak mengikuti langkah orang-orang. Orang pertama yang diikutinya adalah seorang laki-laki paruh baya, kaki mereka melangkah menaiki tangga menuju lantai peristirahatan. Berdesakan menuju sebuah ruangan berisi sekitar 6 deret bangku seperti di halte Bus.


Seketika Risa terdiam, dia merasa tempat ini tidak cocok untuknya kemudian membalikkan badannya mencari tempat selanjutnya. Diikutinya seorang wanita tua mengarah ke ruangan lebih tertutup, ruangan ini disediakan untuk orang-orang yang ingin tidur. Ruangan luas tanpa sekat, orang-orang bisa tidur dimana saja bersebelahan dengan siapa saja, tentu saja itu tidak cocok untuknya.


Diikutinya seorang gadis menuju sebuah ruangan yang terlihat lebih nyaman dengan sofa-sofa tinggi yang lebih tertutup. akhirnya Risa memutuskan beristirahat di salah satu sofa di ujung belakang sambil menunggu 4 jam berlayar yang sepertinya akan sangat panjang.

__ADS_1


__ADS_2