Innocence Love

Innocence Love
Hari Alan #part 2


__ADS_3

Alan membenci keramaian. Selalu saja ada yang mengganggunya.


Belum lima menit wanita pertama mengganggunya, Alan di hampiri oleh wanita lainnya. Seorang wanita dengan rambut pirang bergelombang berbaju merah menggoda menghampirinya, duduk tepat disampingnya, Alan menghela nafas.


Makanan yang telah tersaji dihadapannya kini tak menarik lagi.


"Kau terlihat sendirian tuan." Wanita itu mulai membuka percakapan.


Alan tetap diam, jenuh dengan hal-hal yang mengganggunya.


"Aku bisa menemanimu." Tawar wanita itu sambil mengeluarkan sebatang rokok dari kotak yang digenggamnya, kemudian menyalakan api dengan pematik berbentuk sepatu ber-hak.


Alan mengalihkan pandangannya menatap dalam tepat di mata wanita disampingnya.


Kepulan asap keluar dari bibir wanita itu, memenuhi ruang udara dihadapannya dan Alan.


Wanita itu kembali menghisap rokoknya, membuang asapnya begitu saja kemudian mematikan puntung rokok pada asbak dihadapannya.


Tangan wanita itu mulai liar, jemari nakalnya mulai menjelajahi kaki Alan dengan lembut, bahkan terlalu lembut bagi Alan, membuat bulu kuduknya berdiri.


"Aku bisa memberikan kepuasan dengan segala yang kumiliki." Wanita itu mulai menggoda Alan dengan suara parau yang dibuat-buat.


"Aku tak memaksamu tuan."


"Aku hanya mendorong hasrat lelakimu untuk keluar." Wanita itu sedikit berbisik.


Tak ada respon dari Alan.


Wanita disampingnya kembali melemparkan umpan pada Alan, dia menggeser posisinya semakin dekat dengan Alan hingga tak ada jarak se-inci-pun, kemudian dengan hati-hati melekatkan bagian tubuhnya di lengan Alan.


Alan bergidik, dia tak pernah merasakan sensasi seperti ini sebelumnya. Pandangan Alan berubah, matanya yang tajam mulai melemah. Fokusnya beralih pada wanita disampingnya.


Wanita itu tersenyum, seolah kemenangan akan segera berada ditangannya.


Alan melepaskan dirinya sesaat pada wanita itu, menyandarkan tubuhnya dan membiarkan perasaannya hanyut oleh setiap sentuhan wanita berambut pirang disampingnya.


"Kita bisa mencari tempat lain jika anda ingin segera menyelesaikan ini." Wanita itu mulai memberanikan diri menyentuh kemeja Alan yang terlihat mulai kusut dan basah oleh keringatnya.


Dalam hentakan yang tiba-tiba Alan menarik lengan wanita pirang itu bangkit dari kursi mereka, keluar dari restoran menuju pintu belakang.


Wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


Seolah dikejar oleh sesuatu yang mendesak, Alan segera membawa gadis itu menuju toilet pria yang jauh dari keramaian.


Mereka masuk dalam satu bilik toilet, mendorong kasar wanita itu di pojok toilet kemudian menjepit wanita itu dengan tubuh kekar Alan.


Alan mengelus wajah wanita itu, kemudian denga hentakan kasar menekan wajahnya dengan jemari Alan yang kuat. Wanita itu terkaget.


"Ini yang kau mau?" Masih menggenggam erat wajah wanita itu di tangannya.

__ADS_1


Wanita itu berusaha memberontak mendorong tubuh besar Alan.


Namun semakin dia memberontak, Alan semakin menekan tubuhnya pada tubuh wanita itu hingga sesak.


"Le...lepaskan aku, apa maumu!" Suara wanita itu meninggi.


"Ini bukan kemauanku, ini hasrat lelakiku yang kau dorong keluar." Jawab Alan dingin dan dalam dan semakin menekan tubuh wanita dihadapannya.


"Bu...bukan seperti ini yang..aaaa!!!" Alan menggigit pundak wanita itu dengan keras.


Alan mengangkat kepalanya, kemudian dengan kasar menempelkan bibirnya pada leher wanita itu.


"Aaaa..." Alan kembali menggigit leher wanita itu dengan kuat.


"Kau gila!!" Teriak wanita itu dan masih berusaha menjauhkan tubuhnya dari Alan.


"Kau masih ingin aku melanjutkan hasratku?" Bisik Alan pada wanita itu.


"Ma....maafkan aku tu...tuan." Kata-kata wanita itu terputus oleh jepitan tangan dan tubuh yang diberikan Alan.


Darah mengalir di bahu dan lehernya.


Wanita itu semakin terdesak dan kesakitan.


Tubuh Alan begitu kuat hingga tak ada sedikitpun celah baginya untuk bergerak.


"Katakan keinginanmu dengan mulutmu, bukan dengan tanganmu!" Alan melonggarkan jepitan dan genggamannya.


"Uang?" Alan mencibir.


"Aku perlu memenuhi kebutuhan hidupku." Lanjut wanita itu, air matanya mulai menggenang.


Alan melepaskan wanita itu dari himpitannya, dengan sekali gerakan dia menarik wajah wanita itu dan mendorongnya hingga terduduk di lantai toilet.


"Aku benci mengotori tanganku dengan darah wanita."


"Namun tangan-tangan kalian terlalu berani menyentuhku."


Alan menarik selembar cek dari dalam kantong jasnya, menuliskan nominal yang tidak banyak baginya namun luar biasa bagi wanita dihadapannya.


"Ambillah dan jangan ganggu aku lagi." Alan menaruh lembaran cek di atas toilet yang tertutup dan pergi meninggalkan wanita itu begitu saja.


Alan mengambil handphonenya.


"Iya tuan." Jawab pak Doni di seberang telepon.


"Apa kau melihat nona Ferry keluar dari mall?" Tanya Alan.


"Tidak tuan, sepertinya nona masih berada di mall."

__ADS_1


"Baiklah." Alan segera menutup sambungan telepon dan segera bergegas mencari Risa.


Alan melangkahkan kakinya dengan lebar, menelusuri setiap toko yang dilewatinya.


lima belas menit Alan berputar-putar namun tidak menemukan Risa.


Dia berhenti di depan supermarket besar yang ada di mall dan melihat sosok Risa yang tengah sibuk memilih sayuran.


Tubuh Alan yang tegang akhirnya mulai terlihat santai, hatinya tenang melihat Risa masih dalam jangkauan pandangannya.


Alan menyandarkan tubuhnya yang telah basah oleh keringat pada dinding kaca toko dibelakangnya.


Dia membuka jasnya, kemeja putihnya telah basah membuat tubuh kekarnya terlihat jelas dibalik kemejanya.


Beberapa wanita bahkan pria yang lewat dihadapannya menatap memuji.


Alan membalas tatapan mereka dengan tatapan tajam mengancam. Namun tatapan Alan hanya membuat para wanita itu semakin tersenyum dan terpesona dengan pancaran kharisma Alan.


Suara ketukan dari dalam toko mengalihkan perhatian Alan.


Sekarang apa lagi.


Gumamnya dalam hati.


Alan menoleh, melihat seorang pramuniaga memberikan isyarat untuk berkunjung di toko tempatnya bersandar.


Alan menatap sesaat sang pramuniaga dan mengalihkan pandangannya pada isi toko.


Toko olah raga.


Alan melirik Risa yang masih sibuk dengan sayurannya. Akhirnya dia memutuskan untuk masuk.


"Aku membutuhkan celana renang dengan ukuran 4L." Pintanya pada sang pramuniaga yang sejak Alan memutuskan untuk masuk ke tokonya terus tersenyum dengan wajah memerah karna terpesona dengan ketampanan dan ke-seksian tubuh Alan.


Sang pramuniaga bergegas mengambilkan beberapa pilihan warna celana renang dengan ukuran 4L.


"Yang hitam." Tak perlu memilih, Alan langsung memutuskan pilihannya pada warna hitam


"Dan...."


" Bawakan aku beberapa pilihan swimming suit wanita yang indah."


Beberapa pilihan swimming suit wanita dihadapkan pada Alan. Beberapa terlihat mencolok dengan warna terang, beberapa terlihat terlalu terbuka dan beberapa terlalu biasa.


Alan menjatuhkan pilihannya pada swimming suit berwarna putih dengan design bolong di pinggang kanan dan kiri yang terlihat ramping dan tanpa celana dengan dua tali mengait pada bahu.


Alan mengeluarkan kartu kredit berwarna silver mewah yang terbuat dari emas putih. Membayar dan segera keluar melanjutkan misinya.


Alan mendekati supermarket dan melihat Risa sedang membayar seluruh belanjaannya.

__ADS_1


Wanita ini, bagaimana dia akan membawa belanjaan yang begitu banyak sendiri.


Tidak hanya sayuran, keranjang Risa terlihat penuh dengan alat dapur.


__ADS_2