
Waktu menunjukan pukul dua dini hari. Rega tak bisa menunggu lebih lama lagi. Hatinya gelisah. Di langkahkan kakinya keluar dari kamarnya menuju sebuah kamar di pojok sana.
Kamar Risa.
Perlahan dia membuka pintu kamar itu.
Dari celah kamar dia tersenyum tipis menatap sosok itu. Tangannya menggenggam sebuah kamera.
Dia tak pernah menyangka akan mendapatkan kesempatan secepat ini. Kesempatan membalas penolakan
Risa padanya, penghianatan yang di terimanya dari gadis-gadis lain, dan kebenciannya terhadap Amelia, wanita bersuami yang menjadikannya selingkuhan di kantor tempatnya bekerja.
"Ini akan menjadi sebuah awal sayangku."
Rega perlahan melangkahkan kakinya memasuki ruang kamar.
Risa terlihat terbaring tanpa beban diatas ranjang, tubuhnya letih oleh trauma kecelakaan yang baru saja dialaminya.
Rega mulai menyalakan kamera, merekam setiap langkahnya, seperti tak ada rasa iba atau sekedar simpati pada apa yang di alami Risa hari ini.
Dia membuka koper Risa yang berisikan pakaian basah. Merekamnya sesaat.
Kemudian perlahan beranjak menuju ranjang.
Ditatapnya wajah cantik Risa.
Tak ada ekspresi apapun di wajah Rega. Rekaman tetap berjalan mengabadikan diri Risa mulai dari wajah hingga ujung kaki, perlahan.
Rega mulai melepaskan kancing kemeja yang di kenakan Risa hingga kancing terbawah.
Risa telah melepaskan tali jubah mandi yang melingkar di pinggangnya sebagai ikat pinggang sebelum beranjak tidur, sehingga memudahkan pekerjaan Rega.
Direkamnya sesaat bagian depan tubuh Risa dengan tanpa sehelai kain pun menutupi. Pikirnya ini akan sangat berguna suatu hari.
Kemudian dengan perlahan membalikkan tubuh itu.
Rega merekam setiap langkah jemarinya menjahati gadis malang itu.
__ADS_1
Ditariknya kerah baju Risa dengan kasar, memperlihatkan punggung hingga pinggang indahnya.
"Aku hanya memberimu sedikit obat penenang." Gumam Rega pada Risa yang tertidur.
"Dan tentu sedikit obat bius agar kau tidak terlalu merasa sakit."
"Karna ini adalah awal dari malam ku, aku akan membuat ini tidak terlalu menyakitkan bagimu." Kembali dia bergumam.
Diambilnya sesuatu yang tajam dari kantong pijamanya.
Rega duduk diatas Risa sambil tetap merekam dengan tangan kirinya.
Perlahan dia mulai menuliskan sesuatu pada punggung Risa dengan cara mengkereknya.
"Ini hanya akan terasa sedikit perih, tak akan sebanding dengan apa yang kurasakan selama ini." Ada senyum kebahagiaan yang ganjil di wajah Rega. Senyum lebar yang memperlihatkan seluruh gigi rapi dan putih miliknya.
Titik-titik darah mulai terlihat pada goresan luka bertuliskan "MILIKKU" di punggung Risa.
Rega tersenyum. Senyuman aneh dengan sedikit kepuasan.
Diusapnya titik darah dengan selembar tisu. Dari dalam kantong pijamanya Rega kembali mengambil selembar kapas yang di baluri dengan cairan pengobat luka. Dia ingin luka itu terlihat seperti sebuah tattoo.
Dia kembali membalikkan badan Risa, mengancingkan kembali kemejanya.
Masih tetap berada diatas tubuh Risa.
"PLAK." Suara tamparan keras mendarat di atas wajah Risa.
"Hahahah....." Tawa Rega membahana di ruang kamar.
"Apa aku gila?! Ahahaha." Tawa Rega, lagi membahana di ruang kamar itu.
"Ini tidaklah seberapa."
Rega bangkit dari duduknya. Mengelus pipi yang ditamparnya. Mengelus bibir dan mata indah Risa, kemudian merapikan kembali tubuh Risa. Menutup kembali koper yang di bukanya.
Sebelum beranjak keluar kamar itu, Rega menatap berkeliling memastikan semuanya terlihat seperti semula.
__ADS_1
Raut wajahnya kembali datar, tak ada ekspresi apapun yang menunjukkan sedikit kepuasan gila di hatinya.
Pintu kamar itu kembali ditutup, perlahan seolah takut Risa terbangun olehnya.
Risa tenggelam dalam mimpi aneh yang menyakitkan.
Pagi menjelang.
Risa terbangun. Badannya terasa sakit dari wajah hingga kaki, mungkin karna kecelakaan yang dialaminya kemarin, pikirnya. Tapi tidurnya terasa sangat pulas, bahkan tanpa bermimpi.
Dia bangkit dari ranjang, duduk diujung ranjang, memutar badannya ke kiri dan ke kanan, punggungnya terasa perih, mungkin terkena sesuatu saat dia tercebur ke laut. Risa bangkit melangkahkan kakinya kearah jendela kaca besar dan membuka gorden putih yang menutupi.
Matahari sudah bersinar tinggi. Risa harus mencuci seluruh pakaiannya dan pergi mencari tempat tinggal sementara.
Suara ketukan terdengar dari arah pintu.
Risa membuka pintu, menatap Rega yang tersenyum.
"Aku membutuhkan semua berkas milikmu." Masih dengan senyum di wajahnya.
Risa menyerahkan seluruh berkasnya.
"Aku menyiapkan sarapan untukmu."
"Ya." Jawab Risa datar dan hendak menutup pintu.
"Aku menaruh Handphone diatas meja makan, kau bisa menggunakannya untuk sementara." Masih berdiri diambang pintu sambil tersenyum.
"Aku akan menghubungimu siang ini, urusan pekerjaan".
"Ya." Jawab Risa datar seraya menutup pintu.
"Entah kenapa aku tidak suka dengan tatapannya sejak dahulu. Aku harus segera keluar dari apartemen ini, mencari tempat tinggal sendiri." Risa bergumam sendiri.
Risa segera memilah pakaiannya untuk dicuci.
Setelah mendengar Rega telah berangkat bekerja, Risa segera keluar dari kamar. Mencuci seluruh pakaiannya.
__ADS_1
Hari ini akan sangat pendek baginya. Risa bergegas.