
Meja makan bundar bertaplak kain putih dan dua kursi kayu berdudukan empuk telah tersedia dengan kilat di tengah ruang kerja Alan dengan pemandangan gedung-gedung pencakar langit.
Hanya ada dua piring putih cantik berdampingan dengan sendok, garpu dan pisau. Ditengah mereka telah tersedia sebotol anggur dan sepasang gelas berkaki.
Alan selalu memulai makan siangnya dengan meneguk anggur merah langka koleksinya yang di produksi di abad ke dua puluh.
Tak ada yang mustahil bagi Alan untuk mendapatkan hal-hal langka yang menarik baginya.
Ruang kerja itu sudah terlihat sedikit menyerupai restaurant.
Seorang pelayan menuangkan anggur ke masing-masing gelas.
Risa hanya menirukan bagaimana cara Alan memperlakukan anggur didalam gelasnya. Tak terlalu menarik baginya.
Risa mengalihkan perhatiannya pada koki yang tengah sibuk membulat-bulatkan dangin giling yang telah dibumbui diatas tangan sang koki yang telah dilapisi sarung tangan plastik.
"Anda membuat cilok?" Tanya Risa pada sang koki.
"Tidak nona, ini adalah bola-bola daging." Jawab sang koki.
"Itu Cilok!!" Alan memberi penegasan pada kata-katanya, menatap tajam pada sang koki.
"Tentu saja ini cilok tuan." Sang koki mulai gelisah dengan kesalahan yang dilakukannya.
Risa terdiam sejenak menatap Alan kemudian tersenyum kecil.
"Tak masalah itu cilok ataupun bola-bola daging tuanku. Itu sama saja." Risa menerangkan perlahan, berusaha menurunkan tekanan yang terlihat pada wajah Alan.
"Tentu saja itu tidak sama." Jawab Alan.
"Aku membawanya kesini untuk membuatkan cilok kesukaanmu, bukan bola-bola daging." Alan meneruskan.
Risa kembali tersenyum kecil.
Aku menyukai lelaki ini, tuan malaikan. Dia sangat lucu.
Benaknya.
"Tak masalah bagiku tuan, entah itu cilok ataupun bola-bola daging. Mereka terbuat dari bahan yang sama, dan berbentuk sama seperti bola."
"Rasanyapun sama." Lanjut Risa.
"Apakah anda pernah mencoba cilok?" Tanya Risa.
"Aku tidak suka dengan percakapan ini, aku tak akan menanggapimu lagi." Alan meneguk kembali anggurnya dan acuh.
Aroma bola daging yang dibakar diatas panggangan dan di olesi dengan saus khusus berbahan butter yang dicairkan dengan campuran cincangan bawang putih dan cabai.
Sang koki Kemudian menyajikan bola-bola daging bakar yang sudah matang diatas piring putih besar dan disirami dengan lelehan keju, kemudian disirami dengan saus spesial berbahan cabai, tomat, bawang putih, bawang bombai merah yang dihaluskan, kemudian ditumis dan dikentalkan dengan tepung jagung kemudian ditaburi sedikit irisan daun jeruk purut. Disajikan dengan kentang rebus yang telah dipotong dadu dan ditaburi sedikit garam dan lada hitam.
Inilah saat Risa tidak akan memperdulikan siapapun disekitarnya.
__ADS_1
Dia mulai menyendoki kentang, kemudian menyiramkan cilok bakar bersaus dengan keju yang lengket di atas kentangnya.
Menusuk cilok dengan garpu dan berakhir dalam gigitannya. Sungguh rasa yang familiar namun jauh lebih menggugah seleranya.
"Kau suka?" Tanya Alan.
Risa mengangkat wajahnya.
"Aku sangat menyukainya." Jawabnya.
"Bagaimana dengan diriku?" Tanyanya lagi.
"Apa kau menyukaiku?"
"Ya aku menyukai anda." Tak ada jeda antara jawaban dan pertanyaan yang Risa dapat.
Alan tersenyum.
Risa melanjutkan makannya.
Kau memang menyukaiku, bukan mencintaiku. Tapi Itu sudah sangat cukup bagiku, karna suka adalah awal dari cinta.
Gumam Alan dalam benaknya.
Memotong cilok dengan pisau makannya, menusuk dengan garpu dan memakannya. Wajahnya tersenyum menikmati cilok.
---
Waktu menunjukkan pukul lima sore. Semua karyawan satu persatu keluar dari ruangannya menuju lobby dan pulang ke rumah masing-masing.
Risa telah membaca catatan sekertaris terdahulu bahwa Bosnya selalu bekerja hingga malam, akhirnya dirinya memutuskan untuk pulang tanpa harus menunggu Alan.
Risa menekan tombol turun pada lift dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memegang mawar dan sibuk menghirup aromanya. Tak disadari Alan telah berada disampingnya.
"Berani-beraninya kau beranjak dari mejamu tanpa menungguku."
Sontak Risa terkaget dan dengan spontan menoleh.
"Tuan!?... Kenapa anda akan pulang sekarang?" Tanya Risa.
"Apa maksudmu kenapa pulang sekarang? Aku bosnya, berhak pulang kapan saja." Jawab Alan ketus.
"Aku pikir anda akan bekerja hingga malam." Bela Risa
pintu lift terbuka, Alan segera melangkah masuk. Risa pun menyusul sambil berlari kecil.
Keheningan yang canggung bagi Risa menyeruak di dalam lift yang hanya ada mereka berdua.
Tak ada perbincangan.
Beberapa menit kemudian lift terbuka kembali, mereka keluar menuju pintu utama perusahaan. Semua karyawan menundukkan kepala pada Alan, tentu saja tak pernah ada respon darinya.
__ADS_1
Pak Doni telah menanti di depan lobbi.
"Selamat sore tuan, selamat sore nona." Sapa pak Doni pada Alan dan Risa.
Risa mengangguk tersenyum.
Setelah Alan masuk dan duduk, pak Doni segera berlari kecil masuk ke bangku kemudi dan menunggu aba-aba dari tuannya untuk jalan.
Alan membuka kaca mobil.
"Pulanglah segera." Perintahnya pada Risa.
"Tentu saja tuan." Jawab Risa.
Perlahan mobil mulai jalan, tapi mata Alan terpaku pada kaca spion dalam mobil.
Risa terlihat dihampiri oleh seorang lelaki, sepertinya bekerja pada perusahaannya pula.
Alan segera mengambil ponselnya dan menelpon Andre.
"Segera cari tau siapa lelaki yang menghampiri Risa." Perintah Alan pada Andre, kemudian segera menutup telepon dengan kening mengkerut. Alan menangkap aura gelap pada senyum lelaki yang menghampiri Risa. Itu membuatnya khawatir.
---
"Aku mencarimu Risa sayang." Dari arah belakang Risa mendengar seseorang berbicara padanya, suara yang familiar. Spontan Risa menoleh.
"Rega, sejak kapan kau disini." Risa sedikit terkejut dengan keberadaan Rega, walaupun dirinya menyadari bahwa pekerjaan lni didapat dari Rega.
"Aku mencarimu malam itu, saat kau pergi." Senyuman Rega terlihat sangat biasa dan ramah dimata Risa.
"Maafkan aku tak membangunkanmu, aku telah menemukan tempat tinggal dan tak ingin mengganggu istirahatmu." Dustanya.
"Tak masalah bagiku jika kau membangunkanku, aku hanya merasa khawatir." Rega terlihat sangat tulus dengan kata-katanya.
"Terima kasih telah menghawatirkanku, tapi aku tak ingin banyak merepotkanmu." Berusaha meyakinkan Rega.
Risa tak ingin berlama-lama berbincang dengan Rega, tubuhnya seakan terdorong untuk manjauhi Rega.
"Aku akan pulang, jika kita searah, aku bisa menurunkanmu dimanapun tempat tinggal barumu." Tawaran Rega tentu akan membuat Risa menolak bagaimanapun juga.
"Sepertinya aku akan berbelanja sebelum pulang, terima kasih atas tawaranmu." Dengan halus Risa menolak.
"Tidak masalah." Rega tersenyum tanpa arti menerima penolakan Risa.
Risa melangkahkan kakinya pergi.
"Risa." Panggil Rega dari arah belakangnya.
Risa menoleh.
"Aku akan menghubungimu mengenai surat perjanjian kita, nikmati masa sebulanmu." Rega berkata sedikit berteriak pada Risa, membalikkan badannya dan pergi.
__ADS_1
Risa terdiam kaku tanpa kata, mengingat perjanjian yang telah dirinya setujui bersama Rega.
Tak ada yang bisa di perbutanya. Dirinya mulai menikmati pekerjaan bersama Bos yang mulai menyukainya, namun mendengar kata-kata yang disampaikan Rega, seperti petir yang menyambar hati dan pikirannya, membuat pikirannya menggelap.