
- Jika tidak bisa berenang, raihlah sesuatu yang mengapung -
"CEBUUURRR!!!".
Badan Risa meluncur masuk ke dalam air, tak ada rem ditubuhnya untuk menghentikan laju badannya masuk kedalam air.
Tenggorokannya terasa tercekik oleh air laut yang masuk melalui mulut dan hidungnya. Dadanya sesak. Otaknya serasa dihujani jarum-jarum tajam.
Namun kesadaran masih bersamanya, matanya mengerjap-ngerjap berusaha menatap isi dalam laut yang dingin dan gelap. Tubuhnya masih terus merengsek masuk kedalam air.
Risa berusaha menghentikan laju tubuhnya masuk semakin dalam kedasar laut dengan bergerak secara brutal.
Saat telah berhenti, dia berusaha mencari sinar di antara gelembung-gelembung udara yang bersumber dari hantaman tubuhnya dengan air laut. Beruntung kakinya yang terlebih dahulu masuk ke air.
Ditendang-tendangkan kakinya pada air untuk mengangkatnya ke permukaan. Seluruh sisa energinya dikerahkan, namun sungguh hanya sedikit pergerakan yang dihasilkan. Lengan dan kakinya mulai terasa lelah karna gerakan brutal yang dilakukannya, dadanyapun mulai terasa panas dan menusuk.
Sedikit demi sedikit oksigen yang tersisa di mulutnya keluar menjadi gelembung-gelemung.
Risa serasa ingin menyerah, namu rasa takut untuk tidak lagi bernafas membuatnya kembali menendang-nendangkan kakinya dengan kuat, berusaha kembali mengumpulkan seluruh energinya.
Tak perduli dadanya memanas, tenggorokannya terasa semakin tercekik, otaknya seperti terbakar. Cahaya mulai terlihat semakin dekat, Risa semakin memaksakan tubuhnya untuk sampai ke permukaan air, harapannya untuk hidup telah kembali.
"HUUAAAAAHHHH!!!".
Teriak Risa setelah muncul di permukaan air. Menarik nafas sepanjang yang dia bisa, mengisi kembali paru-parunya dengan oksigen, tak kalah airpun terhirup membuat Risa terbatuk-batuk.
Semuanya belum selesai.
Dia tak bisa berenang.
Di kepak-kepakkan tangan dan kakinya yang hampir mati rasa berusaha mengapungkan diri sambil memutar badan mencari pertolongan.
Seorang ABK yang mendorongnya tadi entah dimana keberadaannya sekarang. Risa memutat badannya mencari ABK tersebut atau orang lain yang dapan menyelamatkannya.
Namun ternyata laut telah sepi oleh penumpang kapal dan seluruh ABK kapal yang melompat. Sekoci-sekoci penyelamat terlihat semakin jauh. Risa terlalu lama dikapal memyelamatkan kopernya. Risa mulai gugup.
"Koperku!!!". Teriaknya penuh harap melihat kopernya mengapung sekitar satu meter dari dirinya.
Bersusah payah Risa menggapai koper pelampung penyelamat hidupnya.
"oh Tuhaaan...". Keluh Risa.
Dihirupnya udara sebanyak mungkin untuk menenangkan dirinya.
Badannya mulai bergetar tapi lengannya masih mampu memeluk koper penyelamatnya.
__ADS_1
Risa hanya mampu menopang dagunya diatas koper. Sedikit merenungi nasibnya saat ini. Ingin menangis namun tangisan hanya akan membuatnya semakin lemah.
Lengannya mulai terasa lelah.
Risa memejamkan mata, berusaha menenagkan diri. Berdoa semoga ini hanyalah mimpi buruk.
Tiba-tiba dari arah belakang, seperti hembusan angin sejuk menerpa rambut basahnya, lengan seseorang melingkar di lehernya, dengan lengan kemeja berwarna putih yang basah, sambil berbisik lembut dekat dengan telinga Risa,
"Jangan meronta, atau kita berdua akan tenggelam bersama".
"I....iya". Jawab Risa gugup.
Seseorang menyelamatkannya. Hidupnya selamat. Ada kelegaan luar biasa didalam hatinya.
Risa benar-benar memasrahkan tubuhnya pada lengan tersebut. Dia menyadari itu adalah lengan seorang lelaki.
Sambil meringankan badannya, bersama koper dan tas ransel yang tetap digenggamnya, risa memperhatikan lengan tersebut. Kulitnya bersih, putih, berotot dengan bulu-bulu tebal yang jarang.
Ada jam tangan melekat di lengan kanan lelaki tersebut.
Pikirannya terhenti saat lelaki itu berhenti berenang, sepertinya mereka telah mencapai sekoci penyelamat.
Tidak, ini bukan sekoci. Ini Speedboat mewah berwarna putih.
"Pegang tali ini, aku akan segera kembali".
Risa hanya mengangguk dan tak mampu berkata.
Mencoba menyadarkan dirinya, mencari jawaban apakah lelaki yang menyelamatkannya ini adalah seorang manusia ataukah sesosok malaikat?
Wajah yang tampan seolah mengalihkan kedukaannya mengalami kecelakaan laut dan saat nyawanya hampir lenyap karena tenggelam.
"Serahkan kopermu". Dari atas speedboat lelaki itu kembali dan meraih koper Risa.
"Ulurkan tanganmu". Risa mengikuti semua perintah lelaki itu masih tanpa kata dan tetap memandang lelaki itu.
Lelaki itu menarik ringan kedua tangan Risa untuk menaikkan tubuhnya dari air laut.
Risa masih terdiam.
Dalam pikirannya, sungguh tak pernah dia menemui bahkan melihat lelaki tampan berbaju putih bagaikan malaikat seperti saat ini. Segala kepanikan, ketakutan yang di alaminya 10 menit yang lalu seperti lenyap begitu saja.
"Apakah ini mimpi?", pikirnya.
"Atau aku sudah mati tenggelam?". Risa bahkan tak mampu untuk mencubit dirinya sendiri.
__ADS_1
Risa langsung menyandarkan tubuhnya di pinggir speedboat sambil terus menatap lelaki itu yang sepertinya terlihat sangat terburu-buru.
Dia berlari mengambil sesuatu dari ujung speedboat lainnya, dan kembali lagi berlari menuju Risa.
Handuk.
Ya sepertinya lelaki itu mengambilkan handuk untuk dirinya, pikirnya.
"Perhatikan dirimu!". Sambil melempar kasar handuk ditangannya menutup wajah dan tubuh Risa.
"Tubuhku?". Tanya Risa.
"Aaaaaaa...!!!". Teriak Risa sambil memeluk tubuhnya.
Baju dan pakaian dalamnya tersingkap hingga leher tanpa disadarinya. Mungkin ini terjadi sejak dirinya tercebur kelaut, pikirnya.
Malu merayapi dirinya. Bersukur hanya ada dirinya, lelaki itu dan seorang pengemudi speedboad disana. Kesialam seolah bertubi-tubi menimpa dirinya saat itu.
Sesaat kemudian setelah merapikan pakaiannya, Risa kembali mengingat kejadian mengerikan yang baru saja dialaminya.
Dia menoleh kebelakang dan mendapati kapal Ferry yang ditumpanginya separuh telah tenggelam, menyisakan bagian kapal dengan lidah api menjilat-jilat mengeluarkan asap hitam yang pekat.
Dirinya baru saja berada diatas kapal yang tenggelam itu.
"Jika aku masih berada dikapal Ferry itu, mungkin aku sudah menjadi abu." Gumamnya merasa pilu.
Tak sadar air matanya menetes. Kemudian diusapnya. Tak ingin hatinya merasa semakin lemah.
Dari sudut lain speedboat, Alan menatap gadis malang yang diselamatkannya sedang mengusap air matanya sendiri, hatinya merasa iba.
Mengingat hari ini adalah hari liburnya, jadwalnya berlayar menghabiskan liburannya jauh dari kepenatan kota dan pekerjaan dengan hanya sekedar berjemur dan bersantai di tengah lautan lepas.
Saat sedang berjemur menikmati minumannya, Alan dikejutkan dengan suara radio kapal ferry yang meminta pertolongan karna tejadi kerusakan mesin dan mengakibatkan ledakan besar.
Jarak speedboat dengan kapal Ferry tersebut sekitar empat puluh lima menit.
Alan memerintahkan nahkodanya untuk segera menghampiri kapal Ferry tersebut.
Sesampainya disana, Alan menemukan kapal itu mulai miring dan akan segera tenggelam, sedangkan para penumpang dan seluruh ABK kapal telah diselamatkan oleh sekoci-sekoci penyelamat.
Alan menyisir lautan disekitar kapal untuk memastikan bahwa semua penumpang telah diselamatkan.
Namun dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang bersusah payah menyelamatkan dirinya dengan berenang sacara acak, terlihat seperti seorang yang tidak bisa berenang. Kemudian wanita itu terlihat meraih koper untuk menyelamatkan diri.
Tanpa pikir panjang Alan langsung melompat ke laut, berenang menghampiri wanita itu dan langsung melingkarkan lengannya di leher wanita itu.
__ADS_1