Innocence Love

Innocence Love
Surat Cinta


__ADS_3

Risa telah berada diruang kerja. Namun Bosnya tidak terlihat berada di meja kerjanya.


Risa merasa lega, namun seperti ingin mencari dimana keberadaan bosnya. Untuk pertama kali Alan tidak disiplin dengan prinsip kerja tepat waktunya, pikir Risa.


"kenapa Tuan Alan terlambat?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Apakah dia merencanakan sesuatu lagi?" Pikirnya marah.


"Atau dia takut padaku karna aku menampar dan mendorongnya."


"Tidak, itu tidak mungkin."


Pikirnya lagi, terdiam sejenak.


"Aaaaa...." Risa berteriak sambil menutup wajahnya.


"Aku harus bersikap seperti apa saat bertemu dengan tuan Alan." Rasa takut kembali menjalari hatinya.


"Apa sebaiknya aku bersembunyi saja?"


"Tidak, tidak."


"Atau...aku pura-pura gila saja."


"Oh...." Risa mengusap-usap wajahnya.


"Apakah dia semarah itu hingga tidak kembali bekerja?" Risa sibuk dengan konflik antara dirinya sendiri.


"Tapi, memang sudah sepantasnya aku yang harus marah, walaupun dia adalah bosku."


Risa tidak ingin kalah dari orang yang telah memperlakukannya tidak pantas.


Risa kembali menyibukkan diri dengan komputernya.


Pintu lift terbuka.


Risa menyadarinya namun tidak ingin menoleh. Matanya tetap berfokus pada komputer. Mencoba untuk acuh.


Alan melangkah keluar dari lift tanpa keraguan, hanya membutuhkan empat langkah bagi kaki Alan yang panjang untuk berhenti tepat didepan meja kerja Risa.


Alan terdiam sejenak menatap Risa yang acuh, berpura-pura seolah tidak menyadari keberadaan dirinya.


"Bacalah." Alan menyodorkan amplop coklat berisi surat, kemudian pergi menghilang di balik pintu kerjanya.


Risa tak menoleh sedikitpun, namun ekor matanya menangkap amplop yang disodorkan Alan dihadapannya.


Risa mengambil amplop dan membukanya.


***Surat Cinta untuk Nona Ferry**.


*Kau tau sebuah lagu berlirik seperti ini :


"Sentuhlah dia tepat dihatinya


Dia kan jadi milikmu selamanya


Sentuh dengan sepenuh cinta


Buat dia terbang melayang"


Aku menulis surat ini sambil mendengarkan lagu itu, lagu yang sangat bagus.


Tau kah kau nona Ferry?


Aku tidak pernah mendengarkan lagu secara sengaja sebelum ini.


Aku bahkan tidak mengetahui bahwa itu adalah lirik sebuah lagu.

__ADS_1


Aku menemukan lirik lagu itu di internet.


Tau kah kau kata kunci apa yang aku gunakan dalam pencarianku?


Aku mengetik "Cara memikat hati wanita"


Kau tahu siapa wanita yang ingin ku pikat?


Iya, wanita yang telah menamparku pagi ini.


Aku benar-benar berusaha ingin menyentuh hatinya.


Aku benar-benar ingin dia menjadi milikku.


Tapi tau kah kau nona Ferry?


Caraku menyentuh hatinya adalah sebuah kebodohan besar.


Aku benar-benar menyentuh bagian hatinya.


Sebuah kebodohan bukan?


Dia marah padaku.


Dia menamparku.


Dia mendorongku seolah tak lagi ingin dekat denganku*.


Nona Ferry,


Aku mengatakan bahwa aku mulai menyukaimu, itu benar.


Aku mengatakan aku mencintaimu, ya itu benar.


Aku mengatakan aku menjadi gila karnamu, ya itu benar.


Namun semua itu terjadi karna hatiku mulai buta.


Buta karna mencintaimu.


Maafkan Aku.


- Alan Ricat* -


Risa terdiam membaca seluruh isi surat Alan.


"Lelaki yang naif."


Tergurat senyum diwajah Risa. Ada sebuah kebahagiaan kecil tumbuh dihatinya.


Hatinya terasa manis dengan surat cinta yang diterimanya dari lelaki dingin yang memiliki hati lembut dan naif.


Risa melipat kembali suratnya dan memasukkannya ke dalam tas.


"Aku akan membacanya lagi nanti." Wajahnya tersenyum kecil.


Pukul lima sore.


Risa memgemasi meja kerjanya, menciumi seluruh bunga, mengambil setangkai mawar putih untuk dibawa pulang sembari menanti Alan keluar dari ruangannya.


Sebelum pulang, Risa membuka internet pada handphone ditangannya, mencari tahu jenis handphone apa yang cocok dengannya.


Pintu ruangan Alan terbuka. Risa menoleh.


"Selamat sore Tuan, anda akan pulang?" Risa menyapa Alan seolah tak ada sesuatu yang terjadi diantara mereka berdua hari ini.


"Ya." Jawab Alan datar seperti biasa. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapum, namun didalam hatinya merasa bingung. Wanita dihadapannya ini sungguh memiliki bermacam sikap. Pagi hari dia terlihat bahagia, kemudian marah. Lalu siang hari bertingkah aneh, walaupum keanehannya siang ini diakibatkan oleh dirinya, namun semuanya terlihat aneh dan konyol bagi Alan. Kemudian sore ini Risa terlihat biasa saja.

__ADS_1


Alan mengharapkan perlakuan yang berbeda dari Risa setelah dia memberikan surat cinta itu padanya. Namun sikap Risa tak ada yang berbeda dari hari biasanya.


Ini tidak seperti balasan cinta yang diharapkan Alan.


Alan dan Risa melangkah beriringan menuju Lift. Saat mereka berdua telah berada dalam lift, Alan mencoba membuka pembicaraan.


"kau tak akan mendorongku lagi?"


"Mendorong anda? Aku tidak memiliki alasan yang cukup untuk melakukannya lagi."


"Apa kau membaca suratku?"


"Tentu saja tuan."


"Lalu?" Tanya Alan.


"Lalu?" Risa balik bertanya.


"Sepertinya aku harus lebih berusaha lagi." Simpul Alan.


Risa hanya tersenyum.


Alan telah berada di dalam mobilnya. Saat pak Doni hendak menjalankan mobil, Risa menundukkan tubuhnya pada Alan yang tengah duduk dan berbisik.


"Anda sungguh naif, dan aku menyukainya." Setelah mengatakan kalimat yang sedikit menggoda Alan, Risa berlari meninggalkannya.


Alan terdiam mencerna kalimat Risa.


Aku?


Naif?


Entah harus bahagia atau merasa kesal dengan panggilan naif pada dirinya. Namun wajahnya tersenyum, pipi bak porselen Alan memerah.


"Anda terlihat bahagia tuan." Goda pak Doni.


"Bersiaplah tuan."


"Bersiap untuk apa?" Tanya Alan


"Malam-malam anda akan susah untuk tertidur pulas, bayangan nona Ferry akan terus menghantui anda."


"Bagus jika itu terjadi." Jawab Alan.


"Aku ingin melihatnya lebih lama." Sambung Alan.


"Baik tuan."


Dengan segera Pak Doni memutar balik stir mobil, mencari arah kemana langkah Risa Pergi.


Halte Bus tidaklah jauh dari apartemen Risa jika dia ingin sekedar berganti pakaian bertema casual. Namun inilah impiannya sejak dahulu, berkeliaran sepulang kerja masih dengan pakaian kerja.


Risa belum sempat mencari jenis handphone apa yang sesuai untuk dirinya. Saat ingin memulai lagi, Bus telah tiba.


Sedikit berlari dengan sepatu ber-hak Risa menaiki Bus, mengambil tempat duduk di bangku paling belakang tepat di samping jendela.


Sebuah adegan yang selalu diimpikannya saat menaiki Bus di kota besar.


Ada beberapa merek handphone ternama yang menarik hati Risa.


Dari yang termahal yang tak mampu dijangkau oleh Risa, Hingga yang termurah.


Semua merek memiliki kelebihan-kelebihan tersendiri, dengan fitur-fitur yang bersaing.


Beberapa memiliki kelebihan pada hasil pengambilan gambar kamera yang memperindah tampilan objek gambar, namun jenis itu tidak begitu diminati oleh Risa.


Sembari menanti Bus tiba di pemberhentian, Risa terus berselancar mencari referensi handphone yang tepat untuk dirinya.

__ADS_1


Dia lebih mengutamakan jumlah kapasitas Random Access Memory, kemudian kapasitas memory internal, ketahanan baterai dari sebuah handphone dan segala fitur yang mengutamakan ketahanan dan keawetan penggunaan jangka panjang bagi dirinya sendiri.


__ADS_2