Innocence Love

Innocence Love
Kebetulan


__ADS_3

Diatas gendongan lelaki malaikat itu, kusentuh ujung hidungnya, kemudian kusentuh matanya yang mengatup. Bibirnya, kuarahkan jariku menyentuh bibir itu.


"TTUUKK" Bunyi giginya menggigit jari telunjukku.


"Tuan malaikan?!!" Risa bangkit dari tidurnya dengan tiba-tiba, menatap berkeliling mencari sosok yang menggigit jarinya dan tak menemukannya.


"Ah..aku hanya bermimpi. Mimpi macam apa itu, kenapa aku melakukan hal seperti itu dalam mimpi? Sungguh menggelikan!." Badannya menggeliat merasa geli pada diri sendiri.


Risa Mengucek matanya beberapa saat dan memperhatikan sekelilingnya.


"Aku tidak mengenal kamar ini." Melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 6 pagi.


"Koperku." Mendata barang miliknya.


"Tas ransel."


"Cilok? Es tebu mencair?" Mulai mengerutkan kening.


"Semalam aku membeli cilok dan es tebu, kemudian duduk di bangku jalan....." Berusaha mengingat kembali kejadian semalam.


Risa menatap sesuatu dibawah wadah cilok. Selembar kertas dengan tulisan tangan.


Dia mengambilnya dan membaca isinya.


- Segala kebodohanmu selalu merepotkanku -


- Pertanda : A -


"A?"


"Apa yang terjadi semalam?" Tanyanya pada diri sendiri.


"Aku tidak bertemu lelaki aneh kan? dan dibawa ke hotel?!!"


"Aaaaa....!!!" Teriaknya.


Memeriksa pakaiannya.


"Aman, tak ada tanda-tanda penculikan atau pemerkosaan." Simpulnya.


"Baiklah, hidup harus penuh optimisme, dan pikiran yang positif. Selama aku baik-baik saja!!"


Risa tidak ingin banyak membuang waktunya dengan memikirkan siapa yang membawanya ke hotel dan menulis pesan aneh berinisial A. Risa tak ingin terlalu memikirkannya.


Yang utama dipikirannya saat ini adalah dimana dirinya saat ini, jauhkah dari tempat kerja barunya? Dia tidak boleh terlambat di hari pertamanya, karna hari ini adalah hari yang penting baginya, menjadi pegawai kantoran.


Dia segera beranjak dari ranjang kamar hotel. Keluar kamar dan menghampiri resepsionist menanyakan pembayaran dan lokasi hotel tempatnya diinapkan.


Pembayaran telah dilunasi oleh orang berinisial A, dan lokasi hotel sangat dekat dengan apartemen dan kantor barunya.


Risa dengan segera melangkahkan kakinya menuju apartemennya.


Sambil berlari kecil, Risa menatap jalanan yang sepertinya dilewatinya semalam. Menemukan bangku jalan yang didudukinya tepat disebrang apartemennya.


Apartemen Risa berada di lantai tiga. Dengan satu kamar tidur, ruang tengah, dapur, dan balkon impiannya yang langsung menghadap langit barat.

__ADS_1


Salah satu impiannya tinggal di kota besar adalah memiliki balkon dihiasi sebuah bangku dan meja bundar dengan pot-pot kecil bunga-bunga, dan akan sangat sempurna dengan balkon yang langsung menghadap langit barat.


Sepulang kerja dirinya akan langsung memanjakan diri dengan menikmati teh hangat ditemani puding buah menatap indahnya langit merah senja setiap harinya.


"Sempurna." Senyumnya indah merekah.


"Aku akan memulai hari-hariku dengan semangat!!!" Sedikit berteriak Risa menyemangati dirinya sendiri.


Disisi lain kota.


Wajah Rega terlihat padam. Merah dengan amarah bergejolak.


Pukul dua dini hari dia dengan penuh antusias membangunkan dirinya untuk melanjutkan kesenangannya terhadap tubuh Risa. Namun yang ditemuinya hanyalah ruang kamar yang kosong tanpa Risa.


Dirinya terduduk diatas ranjang yang ditiduri Risa hingga pagi menjelang, memegang seutas tali kain yang entah akan digunakannya untuk apa terhadap diri Risa.


Semua rencana kesenangannya hancur. Suara gemeretuk pertemuan antara giginya terdengar.


"Tak apa." Tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi Seringai yang teruntai di bibir dengan penuh kengerian.


"Aku hanya cukup menunggu sebulan, selebihnya kau tak akan mampu bahkan hanya untuk sekedar mengedipkan mata."


Raut wajah Rega melembut kembali normal, tersenyum baik dan manis.


Dia kemudian bangkit dari duduknya, melepas tali kain dari tangannya yang jatuh tepat di kakinya. Lalu keluar dari kamar.


Risa melangkahkan kakinya keluar dari gedung apartemen, menatap langit pagi cerah, tersenyum membalas sapaan mentari yang ramah.


Langkahnya ringan menyusuri trotoar yang ramai dengan para pejalan kaki, menuju kantor dan tujuan masing-masing.


Setelah medapatkan kartu identitas, Risa diharapkan segera menuju ruang kerjanya yang berada di lantai teratas gedung itu. Ruang kerjannya terletak tepat didepan ruang pemilik utama perusahaan.


"Anda harus tiba sebelun tuan Alan tiba. Setiba tuan Alan diruangannya, anda harus segera menyiapkan teh hangat. Selebihnya, pekerjaan akan langsung diberika kepada anda oleh beliau." Arahan dari bagian HRD yang harus dikerjakan Risa.


Risa bergegas menuju lantai teratas gedung itu, takut akan terlambat di hari pertama.


Bosnya yang bernama Alan Ricat bisa jadi sangat pemarah, pikirnya.


Perlahan disentuhkannya bokongnya pada kursi kerjanya, mengelus sandaran tangan disamping kiri dan kanannya.


"Mohon dukungannya kursi, meja." Senyum kebahagiaan terlintas di wajah cantik dengan riasan natural, memancarkan kecantikan alami nan segar.


Tiba-tiba pintu lift yang berjarak lima meter darinya terbuka. Sontak Risa berdiri, menatap kaku.


Dari dalam lift keluar sesosok lelaki tinggi nan tampan yang pasti adalah tuan Alan Ricat.


Mata Risa mengedip, merasa familiar dengan wajah ini.


"Tu...Tuan malaikat?" Merasa kaget dengan kebetulan ini.


Wajah Risa mulai memerah, malu. Mengingat semua kejadian kecelakaan kapal Ferry yang dialaminya.


Tuan malaikan itu hanya menatapnya, tanpa ekspresi, berlalu begitu saja dihadapannya dan hilang dibelakang pintu ruang kerjanya.


Risa bergegas mengikuti, membuatkan secangkir teh yang tersedia di mini bar ruang kerja bosnya.

__ADS_1


"Silahkan tuan malai...maksudku tuan Alan."


Disodorkannya secangkir teh.


Dengan suara sedikit bergetar Risa mulai berbicara.


"Aku tidak menyangka, ternyata anda....adalah pemilik perusahaan ini". Dengan berani memulai pembicaraan.


"Kau terlihat segar hey nona Ferry, apa tidurmu nyenyak?" Tak ada senyum diwajah bosnya.


"Apa yang anda pikirkan?!" Tiba-tiba suara Risa meninggi.


"Anda sebaiknya melupakan semua yang anda lihat!!!"


"Hey, kau pikir aku senang melihat tubuh jelekmu itu?". Jawaban tuan malaikat itu membuat Risa geram.


"Hey!!! Berani-beraninya anda bilang jelek?!"


Dengan berani Risa melawan bos barunya.


"Kau berani membentak bosmu?!" Alan sedikit meninggikan suaranya.


Sontak Risa menjadi ciut dan menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku tuan malai...maksudku tuan Alan". Risa menundukkan pandangannya.


"Tidak." Alan berkata.


"Apa?!". Risa kembali menegang.


Alan menatapnya tajam. Risa kembali menundukkan pandangannya.


"Kembalilah keruanganmu. Siapkan jadwal makan siang untuk dua orang di restoran daging." Perintah Alan.


"Baik." Risa membalikkan badannya, keluar menuju ruangannya.


Risa menggerutu pada dirinya sendiri.


"Aarrrhhhggg... kenapa harus dia?!"


"Dan...apa maksudnya tubuh jelek?!" Sambil menatap tubuhnya sendiri dan mengelus bagian tertentu.


"Tubuhku yang indah ini!!" Gerutunya marah.


"Tapi....Bersyukurlah ini hari pertamaku, dan ruangan yang bagus ini tentu akan membuatku betah!!" Wajah Risa yang cemberut berubah menjadi senyuman kecil. Sambil kembali mengelus-elus meja kerja dan kursinya.


Dari ruangannya, Alan bisa melihat jelas apa saja yang dilakukan sekertaris barunya.


Lihatlah tingkah bodohnya itu, mengelus meja dan kursi?


Ujung bibirnya tertarik membentuk senyum tipis.


Ada apa dengan wajah cemberut itu? seketika bisa berubah menjadi senyuman?


Kesibukan baru Alan dimulai hari ini. Memperhatikan segala tingkah laku nona Ferry yang dirasanya bodoh namun entah mengapa menyejukkan hatinya yang selama ini gersang.

__ADS_1


__ADS_2