Innocence Love

Innocence Love
Hari Alan #Part 1


__ADS_3

Pak Doni menghentikan laju mobil sekitar dua puluh meter dari halte Bus.


Bus kota terlihat menghampiri halte, beberapa penumpang terlihat turun dan digantikan dengan penumpang baru, Risa terlihat ikut bersama Bus kota itu.


Pak Doni segera menjalankan mobil mengikuti kemana Bus itu membawa Risa hingga pemberhentiannya.


Risa terlihat turun dari Bus dan melangkahkan kaki menuju Mall yang terletak seratus meter dari halte.


"Aku akan turun." Alan berkata sambil melepas kancing jasnya


"Baik tuan." Jawab pak Doni.


Alan melangkahkan kakinya senada dengan Risa dalam jarak sekitar dua puluh meter.


Untuk pertama kalinya setelah sekian tahun Alan menginjakkan kakinya di Mall. Suasana ramai yang tidak begitu nyaman bagi hatinya yang terbiasa dengan kesunyian.


Matanya terfokus pada Risa yang terlihat masuk ke sebuah toko handphone. Entah berapa lama waktu yang dihabiskan Risa untuk memilih, membuat Alan terlihat seperti seorang pramuniaga toko tempat Alan berdiri dengan kaku di depan pintu. Beberapa Gadis tersenyum melihat lelaki tinggi dan tampan yang memiliki kharisma dan aura yang mencolok yang berdiri kaku di antara keramaian lalu lalang pelanggan toko.


Risa terlihat selesai dengan urusannya, Alan segera menyingkir dari posisinya menuju tempat yang tak terlihat oleh Risa.


Hati Risa terlihat bahagia dari gerak geriknya berjalan dengan riang.


Tiba-tiba Risa menghentikan langkahnya, Alan spontan menghentikan langkahnya.


Apa yang dilakukannya?


Perbincangan Alan pada dirinya sendiri dimulai.


Apa? Dia melakukan hal bodoh lagi.


Apa yang difikirkannya, ber-swa foto ditengah keramaian begini?


Saat Alan sibuk dengan perbincangan dengan dirinya sendiri dan matanya terus berfokus pada Risa, seorang ibu dan anak gadis remajanya menghampiri Alan.


"Tuan anda sangat tampan, berfotolah bersama kami."


Alan tidak sempat menghalau dua wanita itu melingkarkan lengan mereka pada lengan Alan dan mengambil beberapa gambar. Sedangkan dari kejauhan Risa terlihat melanjutkan langkahnya. Alan terdesak untuk segera mengikuti, akhirnya dengan sedikit mendorong para wanita itu Alan melepaskan diri.


"Maaf nona-nona aku harus segera pergi." Tak ada senyum bahkan sedikitpun ekspresi Alan berkata pada kedua wanita itu.


"Aaaa..." Teriak ibu dan anak itu karna terpesona dengan cara Alan melepaskan diri dari mereka. Wajah yang dingin namun penuh dengan kharismatik.


Tak disadari Alan, dirinya telah menjadi pusat perhatian para wanita di Mall.


Alan sedikit berlari mengejar langkahnya yang tertinggal dari Risa.


Terlihat Risa memasuki lorong yang mengarah ke toilet.

__ADS_1


Alan mengikuti hingga pintu yang memisahkan antara toilet wanita dan toilet pria.


Sepertinya Risa akan lama. Akupun membutuhkan waktuku.


Alan masuk ke dalam toilet menghampiri salah satu urinoir. Melepaskan hasratnya yang sedari tadi ditahannya demi mengikuti Risa.


Saat kegiatannya masih berlangsung, badan Alan sontak terkaget dengan sebuah sentuhan dari arah bokongnya yang dalam keadaan mengeras.


Sentuhan itu dibubuhi dengan remasan kecil yang diterimanya dari entah tangan siapa yang berada dibelakangnya.


"Bokong yang seksi." Suara sang pemilik tangan.


Laki-laki itu melepaskan cengkramannya pada bokong Alan dan berpindah ke sisi kanan Alan untuk melepas hasrat kecilnya.


Alan terdiama, hanya menatap dinding dihadapannya tanpa ekspresi, menyelesaikan hasratnya yang terganggu oleh tangan kotor yang menyentuhnya.


Tak cukup sekali, lelaki bercelana jins ketat dengan t-shirt berkerah V berwarna putih itu kembali mengganggu Alan.


"Waw, milikmu sungguh menawan." Lelaki itu memalingkan wajahnya menghadap ke bagian pribadi Alan.


Alan masih tak menunjukkan perasaan apapun.


Saat lelaki itu telah lebih dulu selesai dengan urusannya, berbalik membelakangi Alan dan melangkah menuju westafel, Alan memanggilnya.


"Hey." Suara Alan dingin dan dalam.


Tubuhnya terhempas jauh menumbuk cermin westafel hingga retak membentuk lingkaran.


Tubuhnya jatuh tersungkur di lantai, kepalanya bersimbah darah, giginya rontok tercecer di lantai.


Alan menatapnya dingin, melangkah maju mendekati lelaki yang hancur oleh hantamannya.


Lelaki itu terlihat ketakutan, selangkah kaki Alan mendekat, lelaki itu menggeret tubuhnya menjauh.


Alan melangkahkan kakinya kearah westafel, mencuci tangannya seraya berkata pada lelaki dibawahnya.


"Sentuhlah aku, maka nyawamu tak akan bertemu jasadmu lagi." Ancam Alan dingin. Hatinya marah berapi-api oleh tangan kotor yang menyentuh bagian tubuhnya.


Beberapa orang yang berada dalam toilet pria yang menyaksikan bagaimana Alan menghantamkan tinjunya pada lelaki itu tak berani melakukan apapun, bahkan berlari tidak ingin terlibat.


Alan melangkah keluar dari toilet dengan hati yang membara. Melihat jam tangannya, dan memutuskan segera mengejar kemana Risa pergi.


Penampilannya tidak serapi saat dirinya memasuki mall. Rambut yang selalu tersisir rapi kebelakang kini jatuh menutupi matanya.


Alan tidak begitu perduli dengan penampilannya saat ini, dia hanya ingin menemukan Risa.


Langkahnya cepat menyusuri toko-toko yang sekiranya akan dilalui Risa. Sesaat terpikir olehnya area restoran.

__ADS_1


Alan segera melebarkan langkahnya, mencari disetiap restoran yang dilaluinya.


Tepat didepan sebuah restoran korea Alan menghentikan langkahnya, melihat sosok yang dicarinya sedang melahap menu dihadapannya.


Hatinya lega. Alanpun ikut memasuki restoran dan memesan menu apa saja yang dipesan Risa.


Tidak melihat Risa beberapa saat membuat hatinya gelisah dan khawatir.


Sambil menunggu hidangannya tiba, tak sedikitpun mata Alan terlepas dari wajah Risa yang dengan khusyuk melahap makanannya.


Saat hatinya kembali tenang dan degup jantungnya mulai normal, Alan kembali terganggu oleh sekerumunan wanita muda yang duduk tepat dihadapannya yang menutupinya dari pandangan Risa.


Sepertinya para wanita itu salah mengartikan tatapan Alan yang seolah tertuju pada mereka.


Salah seorang dari mereka memberanikan diri mendekat, duduk di hadapan Alan.


Alan tak menyadari keberadaan wanita itu hingga wanita itu melambaikan tangannya dihadapan wajah Alan.


"Hai tuan, apa anda mendengarku?"


Alan menoleh menatapnya.


"Anda terlihat sedang sendiri. Bolehkah aku duduk bersamamu disini?" Sapa wanita itu.


Alan tidak menjawab, hanya acuh dan kembali menatap Risa.


Wanita itu mengerutkan kening, namun tidak gentar mendekati Alan.


Wanita itu berpindah duduk tepat disamping Alan, menaikkan rok mininya lebih tinggi, menurunkan kerah gaun mininya hingga memperlihatkan sedikit dari bagian dadanya.


Alan masih tak menggubris wanita disampingnya.


Wanita itu mulai terlihat menyerah, namun masih berusaha untuk menggoda Alan.


Jemari dengan kuku-kuku bercat merah itu mulai mendaratkan sentuhannya pada paha bagian atas Alan. Mengelus lembut paha kekar itu.


Wanita itu takjub dengan bentuk tubuh Alan yang menawan, hingga tak sadar semakin liar menyentuh bagian-bagian sensitif Alan.


Tangan nakalnya mulai menguatkan elusannnya hingga tidak sadar Alan menatap wanita itu tajam.


"Nona." Suara dingin Alan kembali. Wanita itu sontak menatap Alan dengan wajah penuh harap.


"Jadilah murahan untuk dirimu sendiri, jangan membawaku bersamamu." Alan meremas kuat jemari wanita itu hingga rintihannya mulai terdengar.


"Jika kau tak ingin jemari kotormu ini hancur, enyahlah dari hadapanku!" Perintahnya, mata Alan tajam mengancam wanita yang jemarinya masih dalam genggamannya.


Wanita itu berusaha menarik tangannya dari genggaman Alan saat seorang pelayan membawakan menu pesanan Alan.

__ADS_1


__ADS_2