Innocence Love

Innocence Love
Kejutan Yang Canggung


__ADS_3

Mobil berhenti tepat di pintu lobi restoran.


Pak Doni segera membukakan pintu mobil untuk Alan dan kembali menutup pintunya.


Kemudian membukakan pintu mobil untuk nona Ferry.


"Nona, anda boleh keluar, kita telah sampai direstoran." Risa tak bergeming dari duduknya, masih menundukkan kepala.


"Tuan, sepertinya nona Ferry tertidur lagi." Lapor pak Doni pada Alan.


Alan hanya menatap Risa tanpa ekspresi, terdiam sejenak, kemudian secara tak disadari langsung mengambil langkah mengangkat tubuh Risa yang tak bergeming keluar dari dalam mobil sedan mewah yang dinaikinya.


"Aaaa!!" Teriak Risa.


"Apa yang anda lakukan!!" Sambil memukul-mukul dada bidang Alan.


"Turunkan akuuu...!!". Risa memberontak.


Alan tak menggubris rontaan Risa pada dirinya.


Pak Doni hanya tersenyum menyaksikan bagaimana cara tuannya jatuh hati untuk pertama kali.


"TUAN ALAN RICAT, SAYA TEGASKAN ANDA!!" Risa kehabisan cara menghentikan tuannya.


Alan menghentikan langkahnya, lalu menatap langsung mata indah Risa dengan tajam seolah akan menelan gadis itu hidup-hidup.


Risa menciut dalam gendongan Alan karna tatapnya.


"Jadilah milikku!" Sambil berkata dengan tegas Alan melanjutkan langkahnya menuju ruangan yang telah disediakan.


Risa terdiam, tak mengerti apa yang sedang terjadi, apa maksud dari kata-kata Bosnya.


Takut untuk kembali meronta dan menjawab, Risa dengan terpaksa melanjutkan diamnya dan pasrah dalam gendongan yang familiar bagi tubuhnya.


Alan meletakkan tubuh Risa terduduk diatas kursi restauran. Tanpa melirik Risa, Alan melenggang duduk dikursi yang berhadapan langsung dengan Risa.


Hening.


Risa masih menatap Alan. Mencari jawaban dari kata-kata bosnya beberapa saat lalu.


Alan masih terlihat tanpa ekspresi, tak menatap bahkan sekedar melirik Risa.


Seorang pelayan datang menbawa minuman. Meletakkan gelas berkaki dihadapan mereka, membuka botol minuman yang telah didinginkan kemudian menuangkan minuman berwarna merah maroon itu seperempat dari volume gelas.


Alan memutar-mutar minumannya, menghirup aroma, kemudian sedikit meneguk minumannya.


Alas masih membiarkan bibir gelas menciumi bibirnya, kemudian menatap tepat pada bola mata Risa.


Sontak Risa terkejut, membuang tatapannya berpura-pura melihat sekitar.


"Kau melakukannya lagi." Alan memergoki Risa yang terus menatapnya.

__ADS_1


"Apa?" Respon Risa.


"Menatapku. Segila itukah nona Ferry ini padaku?" Alan berpura-pura bertanya pada dirinya sendiri. Masih dengan wajah tanpa ekspresi.


"Apa?! Anda sungguh menyebalkan!" Dengan berani Risa merasa kesal pada bosnya.


Seorang pelayan kembali datang, tapi tidak terlihat seperti membawa menu makan siang yang telah dipesannya melalui jaringan telepon tadi.


Pelayan itu meletakkan sesuatu yang terlihat seperti kotak kecil berwarna emas yang disajikan diatas sebuah piring putih besar yang tebal.


Risa terdiam menanti, mungkin ini bagian dari cara penyajian menu yang dipesannya.


Setelah pelayan itu pergi, tak terlihat pelayan lainnya yang membawa sajian selanjutnya. Risa menoleh berulang menatap sajian dihadapannya dan pelayan yang menghilang dibalik pintu.


Risa mulai khawatir. Merasa takut akan kemarahan Bosnya dengan kesalahan menu yang dipesannya.


Perlahan Risa kembali menatap wajah Alan, mencari garis-garis kemarahan disana, namun wajah itu masih sama tanpa ekspresi menatap sajian kecil dihadapan mereka.


"Bukalah." Tiba-tiba Alan mengeluarkan suaranya.


"Iya?" Tanya Risa terkaget.


"Baiklah." Dan buru-buru membuka kotak itu.


"Ini..."


"Sebuah kalung..." Risa mulai berkeringat, merasa ada yang salah dengan pelayanan restoran.


"Hey bodoh!" Alan mulai terlihat marah.


"Duduklah!" Perintahnya.


Risa kembali duduk, memasang hati dan telinga akan kemarahan bosnya.


"Kebodohan apa lagi yang akan kau lakukan."


Risa menunduk merasa ciut.


"Pakailah kalung itu, dan jadilah kekasihku." Alan menyampaikan maksud dari kalung yang dengan sangat kilat dicarikan oleh pak Doni supir pribadi kesayangannya.


"Apa?" Risa menongak, masih bingung dengan apa yang didengarnya.


"Maksud anda aku? menjadi kekasih anda tuan malaikat?" Tanya Risa tak percaya.


Alan masih dengan wajah datar tanpa ekspresi. Namun dibalik wajahnya yang tenang, hatinya berdegup kencang, gelisah dengan jawaban yang akan diberikan Risa.


"Begini tuanku malaikat." Risa memulai kalimatnya, menatap wajan Alan dihadapannya yang kembali memerah setiap Risa memanggilnya tuan malaikat.


"Aku adalah sekertaris anda, dan baru saja bekerja bahkan belum satu hari." Jelas Risa.


"Dan.... kita bahkan baru saja bertemu." Sambungnya.

__ADS_1


"Kita pernah bertemu sebelumnya." Timpal Alan.


"Kau pikir siapa yang menyelamatkanmu saat kau hampir mati tenggelam!!" Suara Alan mulai tak terkontrol, untuk pertama kalinya kedewasaan dan aura dinginnya sirna karna jatuh cinta, menunjukkan betawa gelisah hatinya.


"Oh tuanku...." Sambung Risa sambil menepukkan telapak tangan di keningnya, merasa heran dengan bagaimana lelaki tampan nan dingin dihadapannya ini bersikap sungguh kekanakan, berbeda dengan yang ditemuinya dihari kecelakaan kapal Ferry dan dikantornya pagi ini.


"Aku tak bisa menerimanya, ini terlalu singkat bagiku." Risa memberi jawaban dengan wajah datar, tak menunjukkan kemarahan.


"Terlalu singkat?" Tanya Alan.


"Baiklah." Menjawab sendiri pertanyaannya.


Jika ini terlalu singkat bagimu, aku akan membuatnya sangat panjang. Kau akan menggilaiku nona Ferry-ku.


"Kau tau mengapa aku membawamu ke restoran ini." Alan menjentikkan jarinya pada pelayan mengisyaratkan untuk segera menyajikan menu makan siang mereka.


Dan mengambil kalung yang ada ditengah mereka, memasukkannya kembali ke kantong jasnya


"Anda sungguh tidak dapat ditebak. Sesaat anda mengajakku menjadi kekasih anda, kemudian sikap anda seolah tak terjadi apa-apa." Risa mengerutkan kening menatap bosnya, merasa bingung dengan situasi yang dihadapinya.


Lelaki yang aneh, sekarang aku tak tau harus bersikap seperti apa.


Risa merasa sangat canggung dengan situasi mengejutkan yang dihadapinya dihari pertamanya bekerja.


Baiklah. Mari kita lupakan ini, anggap saja ini tak pernah terjadi. fokus pada pekerjaan. fokus!!! fokus!!!


Kesibukan didalam benak Risa.


"Hei nona Ferry, tidakkah kau mendengarku." Alan membuyarkan lamunan Risa.


"Apa? ah... maaf tuan, aku tak mendengarkan anda. Bisa anda ulangi kata-kata anda?"


"Aku tak pernah mengulang kata-kataku." Jawab Alan ketus.


Risa cemberut kemudian acuh saat menatap menu makan siangnya.


Dihadapannya terhidang sepiring besar daging sapi yang siap dibakar langsung oleh koki khusus. Dengan segala jenis jamur yang siap dimasukkan kedalam sup mendidih dengan aroma bawang putih yang segar. Mulai dari jamur enoki, jamur kuping, jamur tiram, jamur shitake, jamur merang hingga jamur truffle yang sungguh langka dan mahal harganya.


Sang koki mulai memasukkan segala jenis jamur ke dalam sup, kemudian melanjutkan membakar daging dengan gurat-gurat lemak yang mengeluarkan aroma yang sunggung memanjakan indra penciuman Risa.


Perpaduan aroma jejamuran dengan aroma danging bakar yang menimbulkan efek adiktif pada indra penciuman.


Risa mengangkat sumpitnya tanpa memperdulikan Alan dihadapannya yang sedari tadi tanpa disadarinya terus menikmati tatapan terhadap ketertarikan Risa pada makanan.


Dia mulai mengambil beberapa jenis jamur, meletakkannya diatas piring, sedikit meniupnya kemudian memasukkan kedalam mulut.


Air matanya hampir mengucur keluar menikmati lembutnya jamur yang masuk kedalam mulutnya.


Sang koki meletakkan beberapa iris daging dipiringnya yang tanpa perintah pun dengan cepat Risa jepit dengan sumpitnya, sedikit meniup kemudian memasukkan kedalam mulutnya.


Masih sedikit panas membuatnya meniup-niup daging sambil mengunyah.

__ADS_1


Diseberang meja, Alan tersenyum melihat tingkah Risa melahap hidangan tanpa meperdulikan dirinya. Seperti menemukan sebuah harta berharga, terbersit sebuah cara untuk memiliki wanita cantik dihadapannya.


__ADS_2