
Risa terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sedikit berat. Dia menyentuh keningnya dan menyadari ada sesuatu yang melekat di sana.
"Koyo penurun panas?". Dengan perlahan melepaskan koyo dari keningnya. Sekilas dia mengingat kembali segala yang terjadi pada dirinya.
"Ah betul, ternyata ini bukan mimpi". Gumamnya sambil mengelus kepalanya yang masih basah.
Risa menatap sekeliling. Ruangan bernuansa putih nan mewah. Tempat tidur yang nyaman dan empuk dan ....
"Pakaianku?!". Tiba-tiba tersadar akan sesuatu.
"Kemeja putih ini...!". Sambil mengulurkan kedua tangannya kedepan dan menatap dirinya sendiri.
"Oh tidaaaakkkkk!". Risa geram membayangkan bagaimana lelaki itu mengganti seluruh pakaiannya.
Bagaimana mungkin ini semua bisa terjadi pada dirinya. Harus mengalami kecelakaan kapal laut, kemudian rasa malu saat pakainnya tersingkap dan seorang lelaki asing dengan mudah menggantikan pakaiannya.
Risa menatap kembali kemeja yang dikenakannya dan menunduk lesu. Aroma dingin kemeja putih itu kembali menyeruak di permukaan penciumannya. Menimbulkan rasa nyaman.
Risa kembali memeriksa pakaiaannya, tak sehelaipun tersisa. Mulai dari pakaian dalamnya, kemeja berwarna merah muda dan calana jeans yang dikenakannya, semuanya tergantikan hanya dengan selembar kemeja putih yang dikenakannya sekarang.
Risa menatap berkeliling lantai speedboat dan mendapati pakaiannya yang basah tergeletak berceceran begitu saja di belakang pintu.
"Pakaian dalamku...oh tidaaaak!!" Raut wajahnya terlihat asam, membayangkan seorang lelaki asing telah menatap dan menyentuhnya pakaian dalamnya.
"Baiklah, paling tidak dia telah menyelamatkanku dan aku tidak akan bertemu lagi setelah ini dengannya". Risa berusaha menenangkan diri, dan berdoa ini akan menjadi pertama dan terakhir kali bertemu dengan lelaki itu.
Badannya terasa lebih baik. Dia melangkah turun dari tempat tidur, mengambil pakaiannya yang tergeletak, kemudian memeriksa isi kopernya yang tergeletak dibawah kaki dan memasukkan pakaiannya.
"yah.... koper pelampungku, tak mungkin kau tak basah".
Seluruh pakaiannya telah basah, bersyukur berkas pentingnya disimpan dalam map plastik dan telah dilaminating.
__ADS_1
Suara ketuk terdengar dari luar pintu. Risa terkejut dan dengan kaku menjawab.
"Ya!?".
"Nona, Tuan berkata nona boleh menggunakan pakaian apa saja yang cocok dengan anda di lemari".
"Ya". Masih menjawab dengan kaku.
"Dan... Kita telah bersandar di pelabuhan, Tuan telah melaporkan anda sebagai penumpang selamat pada petugas yang telah menanti di pelabuhan. Anda di harapkan segera melapor". Suara lelaki yang sepertinya adalah seorang pelayan lelaki malaikat itu.
"Baiklah". Jawab Risa.
"Dimana lelaki....maksudku Tuanmu?".
" Tuan telah kembali ke kediamannya setelah mengurus pendataan anda nona".
"Baiklah, terima kasih. Aku akan segera keluar".
Dia menatap berkeliling, menemukan sebuah pintu yang diduganya kamar mandi. Risa perlahan bangkit dari duduknya, badannya terasa pegal dan lengket.
Dia segera menuju kamar mandi, menemukan sebuah handuk bersih kemudian membasuh seluruh tubuhnya yang terasa asin dan lengket oleh air laut.
Dengan segera dibukanya lemari yang ada di pojok ruangan. Menemukan dan mengenakan kemeja putih persis seperti yang dikenakan pada dirinya oleh lelaki itu tergantung di lemarinya.
Kemudian mengambil celana pendek putih dan mengenakannya. Mengambil tali jubah handuk dan mengikatkan pada pinggangnya, sedikit memutar tubuhnya untuk melihat bagaimana penampilannya menggunakan baju yang tidak sesuai dengan ukuran tubuhnya pada cermin.
Sambil bercermin Risa melipat lengan baju yang terlampau panjang bagi lengannya.
"Tidak buruk." Bicaranya pada bayangannya sendiri.
Risa segera merapikan seluruh barang-barangnya dan barang-barang lelaki itu.
__ADS_1
Beranjak keluar dari dalam kamar dan turun dari speedboat yang telah terparkir rapi di pelabuhan.
Tak seorangpun dari kerumunan itu yang dikenal Risa. Dirinya sebatang kara dan baru disadarinya.
Seorang petugas menghampiri dan menanyakan identitas diri.
"Apakah ada keluarga yang bisa kami hubungi di kota ini?". Tanya sang petugas.
"Tidak ada".
"Ah...sebentar". Tiba-tiba Risa teringat sesuatu.
"Aku hampir melupakan tujuanku". Risa membuka kopernya, mencari selembar kartu nama milik Rega diantara tumpukan berkasnya dan menyerahkannya pada petugas.
"Paramedis akan memeriksa kesehatan ada. Kami akan menghubungi kerabat anda".
Petugas tersebut menggiring Risa menuju salah satu Ambulance yang tersedia.
Seorang perawat mulai mengecek suhu tubuh Risa, mengecek tekanan darah dan menanyakan adakah bagian tubuh yang terluka. Risa beruntung tak ada luka yang dialaminya.
"Anda baik-baik saja nona".
"Minumlah vitamin ini dan beristirahatlah di ranjang". Perawat itu tersenyum dan meninggalkan Risa sendiri.
"Sungguh luar biasa perjuangan para pekerja medis, mereka bekerja tanpa memikirkan kesehatan dan keselamatan diri sendiri, betapa mulianya". Puji Risa sambil tersenyum menatap perawat itu berlalu dan kembali sibuk merawat pasien lainnya.
Risa berbaring sambil termenung, haruskah dirinya mengabari orang tuanya saat ini perihal kejadian yang baru saja dialaminya.
Tentu saja mereka akan sangat khawatir dan akan menjemputnya pulang. Pikirnya.
"Toh aku baik-baik saja, sebaiknya aku tak mengabari ayah dan ibu". Putusnya, lalu memejamkan mata dan tertidur kembali.
__ADS_1