Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 9 ~ Penyelamatan gadis kecil yang tersesat.


__ADS_3

Arata membuka matanya perlahan apa yang dia lihat adalah Arata melihat beberapa binatang melewati Arata didepannya seperti kelinci, belalang, sekoloni semut merah, burung-burung, capung, beberapa kupu-kupu warna-warni yang menghinggapi sekumpulan bunga-bunga warna-warni yang indah yang berada tak jauh dari Arata. padahal tadi sebelum Arata menekan Aura nya binatang-binatang kecil ataupun binatang lain tidak ada satupun yang terlihat dan hutan terlihat sangat sepi tanpa penghuni. Langit juga terlihat cerah seperti siang hari. Arata terkejut sekaligus terpana, hutan yang tadinya sangat sepi tanpa terlihat satupun makhluk hidup, sekarang perlahan sudah kembali seperti semula.


"Wah! Indah sekali!" Gumam ku dalam hati.


Arata menghampiri dan melihat dari dekat kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga.


"Ternyata benar begitu ya, aura yang terpancar dari ku membuat kalian semua takut. Maaf ya!" Kata Arata pada kupu-kupu yang memiliki sayap yang indah itu.


Di ibukota Gruinla, kerajaan Maritiv, tepatnya di aula guild.


Kakek tua pendek yang masih duduk diatas meja resepsionis itu tiba-tiba terbangun lagi. Dia terlihat sangat terkejut sekaligus heran.


"Apa-apaan ini? Aura yang sangat mengerikan tadi tiba-tiba menghilang? Mengapa? Apa maksudnya? Apa mereka berhasil mengalahkannya? Tidak, Sepertinya bukan begitu, jika mereka yang mengalahkan dia maka harusnya saat ini aku masih bisa merasakan energi kehidupan dari 3 orang yang mengambil quest special tadi. Tapi sekarang energi kehidupan mereka perlahan mengecil dan sekarang sudah padam. Jangan-jangan dia kembali tersegel? Ya, pasti karena itu. Meskipun ketiga petualang itu mati karena tidak sabar dan melawannya lebih dulu, kasihan sekali mereka. Yang paling penting untuk sekarang, monster itu tidak jadi keluar." Gumam kakek tua pendek dengan sangat yakin. Wajahnya sekarang terlihat sangat lega karena bencana tidak akan segera terjadi. Kakek tua tersenyum bahagia sambil bergumam "syukurlah ya! Ini semua berkat yuusha dan perlindungan dari dewi Avrius"


Energi kehidupan dengan Novra itu sangat berbeda. Energi kehidupan adalah energi yang pasti dimiliki oleh setiap makhluk hidup, sedangkan Novra adalah energi sihir yang tidak semua makhluk hidup tentu memilikinya.


Di istana kerajaan, tepatnya di ruang tahta sang raja. Raja ditemani oleh 1 penasehatnya.


Raja juga berekspresi sama seperti kakek tua pendek yang merupakan master guild itu, dia berpikir bahwa monster itu tertarik kembali kedalam gua dan tersegel kembali.


"Syukurlah! Bencana tidak akan terjadi." Gumam raja dalam hati lalu raja memerintahkan penasehatnya untuk mengumumkan pada rakyat bahwa bencana tidak akan terjadi. "Umumkan kepada seluruh warga bahwa situasi darurat sudah selesai! Ini semua berkat segel yuusha yang kuat dan dewi Avrius yang telah melindungi kita semua. Semuanya sudah boleh melakukan aktivitas seperti biasa"


"Baik" jawab penasehat raja sambil membungkuk sebentar lalu melaksanakan perintah yang diberikan oleh raja.


Sang raja dan kakek tua pendek bisa sangat yakin dan lega karena monster itu tidak jadi terlepas dari segelnya karena mereka sangat yakin dan percaya pada yuusha. Padahal dari awal dia juga tidak terlepas dan masih tetap sama ditempatnya seperti dulu.


Di hutan Frunaium.


Dibawah rindangnya pepohonan hutan, Arata sedang memegang 1 tusuk ikan diatas api unggun (membakar ikan) ada juga beberapa ikan yang ditusuk menggunakan kayu yang lancip di ujungnya untuk menusuk ikannya. Ikan yang ditusuk menggunakan kayu lancip itu dibuat mengelilingi di sekitar api unggun yang dibuat Arata. Total jumlahnya ada 10 tusukan ikan. Katana legendaris sudah dimasukkan kedalam penyimpanan dimensi oleh Arata tadi.

__ADS_1


"Hidup yang menenangkan sambil menikmati keindahan alam yang indah seperti ini tidak buruk juga!" Gumam ku sambil merasakan keindahan alam di dunia fantasi ini. Ikan bakar yang sedang kupegang kurasa sudah matang, aku pun memakannya.


Ketika aku sedang duduk santai sambil makan ikan bakar, tiba-tiba ada suara teriakan yang sangat keras dari arah barat. Aku menoleh kearah sumber suara Itu.


"Hm? Sekarang apa?" Kataku dalam hati sambil mengunyah ikan bakar.


Tak lama kemudian, terlihatlah seseorang gadis kecil yang berlari kearah ku dari barat. Sebelum dia mencapai ku, tiba-tiba dia terjatuh karena akar pohon. Tak jauh dibelakangnya terlihat sekawanan goblin yang berjumlah 13 ekor. Aku masih duduk santai sambil mengunyah ikan bakar tadi.


Gadis kecil itu duduk dan mencabut sebuah anak panah yang mengenai kaki kirinya. Di tempat yang terkena anak panah itu berwarna ungu, aku menduga anak panah itu beracun. Aku yang merasa kasihan pun menolongnya. Aku langsung menembakkan bola api hitam menuju para goblin itu. Bola api hitam menuju dengan sangat cepat lalu mengenai para goblin. Semua goblin yang terkena bola api hitam ku tentunya akan langsung terbakar dan hangus menjadi debu yang beterbangan.


Aku berdiri dan berjalan menuju tempat dia lalu jongkok. Aku menggunakan sihir penyembuhan kuno karena yang kubisa hanya itu, jika biasanya sihir penyembuhan biasa akan berwarna hijau, sedangkan sihir penyembuhan kuno akan berwarna putih. Tentunya sihir penyembuhan kuno lebih efisiensi daripada sihir penyembuhan biasa. Sihir Penyembuhan kuno juga sudah menghilang dari seluruh penjuru dunia, jadi wajar jika pertama kali orang yang melihatnya akan heran karena kecepatan penyembuhannya yang sangat cepat sekali. Seketika racun di seluruh tubuhnya hilang tanpa sisa padahal jika menggunakan penyembuhan biasa itu akan memakan setidaknya 6 jam karena racun yang digunakan oleh goblin didapatkan dari tanaman beracun yang diolah mereka (goblin) sendiri sehingga menjadi racun yang lebih kuat lagi.


"Kakak hebat sekali ya. Apa jangan-jangan kakak adalah orang yang diutus Dewi Avrius untuk menjalankan misi rahasia dan untuk menyelamatkan ku juga. Pasti begitu kan?" Gadis itu terlihat sangat senang ketika mengetahui racun didalam tubuhnya sepenuhnya hilang dan lukanya juga sembuh. dia memejamkan matanya dan terlihat seperti sedang berdoa dengan merapatkan kedua tangan satu sama lain, setelah selesai berdoa. dia langsung hendak sujud padaku tetapi aku langsung menghalanginya dan berkata "tidak, tidak, tidak, aku bukanlah orang seperti itu. Aku hanya seorang manusia biasa sama seperti mu"


"Oh begitu ya, aku mengerti. Kakak pasti benar sedang menjalankan misi rahasia dan identitas asli mu tidak ingin diketahui oleh orang lain kan? Aku mengerti akan hal itu, kakak." Kata gadis itu lalu berdiri karena luka racun di kakinya sudah sembuh sepenuhnya.


Aku pun berdiri dan menegaskan sekali lagi bahwa aku hanyalah seorang manusia biasa sama sepertinya. Gadis itu malah berkata sambil tersenyum "baiklah, aku akan menjaga rahasiamu, kakak"


Gadis kecil itu terlihat bingung sambil melihat-lihat kanan-kiri dan berkata "ibuku dimana?"


"Ha?" Aku terkejut karena dia tidak tahu dimana ibunya sendiri dan bagaimana dia bisa tersesat di hutan sendirian? Karena aku baik hati, Aku pun menemani gadis kecil itu untuk mencari ibunya di hutan yang sangat luas ini.


"Apa kamu mau ikan bakar?"


Dia mengangguk sembari menjawab "Mm"


Aku pun memberikan 1 tusuk ikan bakar padanya sembari berkata "ini"


"Terimakasih" katanya sambil tersenyum. Dia pun langsung memakannya tetapi karena baru saja matang ikannya dan masih mengeluarkan asap. Dia kesakitan karena makan ikan yang masih panas itu.

__ADS_1


"itai"


"Hati-hati, ikannya masih panas. Kamu harusnya meniupnya lebih dulu. Seperti ini" aku pun mempraktikkan bagaimana cara meniup makanan yang baik dan benar.


Hari sudah mulai gelap, matahari juga sudah berada di ufuk barat yang menandakan hari sudah sore. Aku dan gadis kecil itu sudah berjalan cukup lama, dia yang memimpin jalannya karena katanya dia cukup sering jalan di hutan ini bersama ibunya. Aku pun ikut saja karena kalau aku menentangnya, mungkin dia akan ngambek. Tadi saja saat kularang untuk tidak menyentuh hewan aneh mirip kelabang, dia menangis untungnya hanya sebentar saja menangisnya. jika itu tidak berbahaya aku membiarkannya saja. Biasalah anak kecil kalau tidak diturutin pasti begitu.


Tak lama kemudian, akhirnya ada seorang wanita yang berusia 30 tahunan. Gadis kecil itu langsung memeluknya, ternyata wanita itu adalah ibu dari gadis ini. Ibunya berkata sambil berpelukan dengan gadis kecil itu "kamu darimana saja? Nak. Ibu sangat khawatir padamu"


"Anone ibu, apa ibu tahu? Untunglah aku bertemu dengan seorang laki-laki yang diutus Dewi Avrius untuk menyelamatkan ku. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sekarang sudah mati karena dibunuh zoblin" laporan gadis kecil itu pada ibunya. Ibunya perlahan melihat ku dengan heran lalu berkata "apa itu serius?"


"Y-ya, sebagian besar yang dikatakannya benar" jawabku.


Ibu itu melihat anaknya lalu memeluknya lagi sambil menangis dan berkata "syukurlah! Kamu masih selamat, nak"


"Eh? zoblin itu apa? Apa jenis-jenis goblin disini lebih dari satu? Dan yang tadi adalah termasuk zoblin? Baru tahu aku" Kataku dalam hati. Aku penasaran dan ingin menanyakannya tetapi sepertinya waktunya salah, jadi aku memilih untuk diam saja.


"Semua ini berkat kakak itu! Dia adalah dewa!" Katanya dengan polos dan lugu.


Ibu nya semakin terkejut sekaligus heran, dia melihat ku dengan tatapan aneh. Aku pun menginstruksikan dengan menggelengkan kepalaku bahwa yang dikatakan putrinya hanyalah kebohongan belaka. Untung saja Ibu gadis kecil itu langsung mengerti. Dia berdiri dan berkata "ayo pulang!" Gadis kecil itu menjawab "baiklah" ibu gadis kecil itu melihat ku dan bertanya "kakak punya tujuan kemana?"


"Ke kota terdekat dari sini" kataku.


"Kebetulan sekali, kami adalah warga kota itu. Kalau mau, ayo ikut bersama kami" katanya dengan ramah sambil tersenyum seperti sedang menerima tamu dirumahnya.


Gadis kecil itu langsung menarik tangan kananku dan berkata "ayo! Kakak dewa"


"Seriusan? Padahal gadis kecil ini tadi bilang aku adalah utusan Dewi a...a.. aprius... Atau apalah tadi tapi kenapa sekarang malah jadi dewa aja. Kemana utusannya, gadis sialan!." Kataku dalam hati sambil tersenyum, tetapi jelas senyumku bukan menandakan kebahagiaan tetapi kekesalan.


"I-iya" kataku.

__ADS_1


"Sepertinya ibu ini orang baik, daripada aku hanya berputar-putar di hutan ini lebih baik aku ikut bersama mereka saja" kataku dalam hati. Aku pun mengikuti mereka hingga akhirnya sampailah di suatu tempat...


__ADS_2