Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 19


__ADS_3

Di lorong sekolah, Arata sedang berjalan bersama seorang guru wanita tadi. Ternyata guru yang menguji Arata tadi adalah wali kelas nya Arata.


Ketika guru itu berbelok ke kiri, Arata masih berjalan lurus kedepan karena dia sedang melamun sambil mengagumi keindahan lorong sekolah ini.


Guru itu sudah sampai di depan kelas lalu dia masuk dan berdiri di tempat biasa guru mengajar lalu berkata "perhatian semuanya!" Lalu dia melanjutkan.


"Kalian akan bertemu kembali dengan seseorang teman lama kalian yang sudah lama menghilang."


Murid-murid pun penasaran dan berbisik-bisik satu sama lain.


"Apa kamu tahu siapa orangnya?" Tanya murid laki-laki ke murid laki-laki lainnya.


"Tidak tahu, aku berharap dia perempuan yang sangat cantik."


"Dasar bodoh! Sejak kapan kita memiliki teman perempuan yang sudah lama menghilang."


"Kira-kira siapa ya?"


"Entahlah, kita lihat saja."


Seseorang gadis yang sangat cantik dengan rambut hitam panjang dan mata berwarna coklat yang terlihat berbinar-binar tidak sabar melihatnya. Dia sudah menduga siapa orang yang dimaksud gurunya itu. Gadis ini bernama Nanami Irania.


"Apa kamu tahu siapa itu? Nanami," Tanya murid perempuan disamping Nanami.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. mari kita lihat saja siapa yang akan datang." Jawab Padahal sebenarnya dia sudah menduga siapa yang akan datang.


"Ternyata malam itu benar kamu ya, Arata san. Kamu benar-benar sudah kembali ke kota ini," batinnya. Ternyata yang diselamatkan Arata malam itu adalah gadis ini.


"Mari kita sambut kembali teman lama kita yang telah lama menghilang. Masuklah!" Kata guru itu dengan semangat. Tetapi tidak ada seseorang yang masuk ke kelas, semua orang yang berada di kelas bingung. Mereka berpikir gurunya hanya bercanda, tapi untuk apa gurunya melakukan hal tidak berguna seperti itu?


Guru itu pun malu dan dia pergi melihat keluar kelas, di depan kelas tidak ada siapa-siapa karena para murid juga sudah masuk kedalam kelas masing-masing.


Nanami tetap tenang, dia juga sudah menduga hal ini. Nanami pun berdiri dan menghampiri gurunya yang berada di depan pintu.


"Sensei, biar aku cari orangnya," ucap Nanami.


"Apa kamu tahu siapa orang itu?" Tanya guru itu.


Dia pun berhenti dan berbalik melihat gurunya kembali.


"Tentu saja, sudah jelaskan dia adalah Arata kan?" Jawabnya sembari tersenyum manis.


Gurunya hanya bisa menghela nafasnya dan berkata. "Oh begitu ya, jadi kamu sudah tahu ya. Baiklah, Nanami aku memperbolehkan mu untuk mencarinya tetapi jangan terlalu lama ya,"


"Baik, terimakasih Sensei," ucapnya lalu dia pergi untuk mencari Arata.

__ADS_1


Di suatu tempat yang masih di lingkungan sekolah, Arata sedang berdiri tepat di sebuah gedung yang terpisah dengan gedung utama tadi.


"Gedung apaan ini? Terlihat mencurigakan sekali," ucapku.


Tak lama kemudian, datanglah seorang gadis yang cantik, dia memiliki rambut biru pendek dan mata yang juga berwarna biru. Dia berlari terburu-buru dan masuk kedalam gedung tanpa melihat ku sedikitpun, baru beberapa saat dia masuk kedalam, dia keluar lagi dan langsung menarikku dan berkata. "Ayo segera masuk! Kita sudah terlambat nih! Bisa-bisa kita kena hukuman,"


"Eh?" Ucapku dengan heran dan bingung.


"Sudahlah, ayo segera masuk! Kalau tidak kita akan dimarahi lagi," Jawabnya yang masih memaksa menarik ku kedalam gedung.


Aku mau dibawa kemana ya?


Di dalam gedung itu, terdapat satu ruangan yang sangat luas dan besar. Terdapat sekumpulan orang-orang yang berseragam yang khas berwarna hitam seperti seragam bela diri khusus, dibagian belakang bajunya terdapat tulisan dalam aksara Jepang "轟" yang bisa diartikan menggelegar atau mengaum.


Aku masih ditarik gadis itu hingga sampai didepan seorang pria yang terlihat berusia sekitar 30 tahunan, tubuhnya yang cukup kekar, rambut coklat dan mata berwarna coklat dengan sorot mata yang tajam itu akan mengintimidasi seseorang yang dilihatnya, termasuk aku dan seorang gadis yang berada tepat didepannya.


Aku masih belum mengerti tentang keadaan ku saat ini, ekspetasi ku dari rumah benar-benar berbanding terbalik dengan sekarang. Kupikir aku akan bersekolah biasa seperti layaknya sekolah ku dulu tapi kali ini dengan bumbu-bumbu sihir, bukan tentang sekolah bela diri khusus seperti sekarang ini.


"Kalian berdua!... Terlambat!" Katanya dengan nada marah.


Gadis disamping ku terlihat menunduk dan wajahnya menggambarkan ketakutan tetapi aku masih terlihat santai tanpa memperlihatkan ketakutan sedikitpun melainkan kebingungan.


"Maafkan kami!" Tiba-tiba gadis itu membungkukkan badannya seperti budaya Jepang ketika berbuat salah tapi aku masih berdiri tegak seolah-olah sedang menantangnya. Gadis itu mencoba mengisyaratkan untuk melakukan hal yang sama dengannya.


"Sttt! Sttt! Oy!" Panggilnya dengan pelan. Aku hanya melihatnya dan tidak memperdulikannya.


Aku melihat kanan-kiri lalu berkata seperti orang bodoh.


"Hmm?... Apa maksudmu aku?"


Pria itu semakin marah, itu terlihat jelas dikeningnya yang semakin mengkerut. Dia sangat kesal padaku dan sangat ingin memukul ku tetapi karena peraturan yang ada, dia tidak bisa melakukan itu.


"Bocah! Meskipun kamu adalah murid baru disini tetapi sopan santun mu, perlu diajari lagi! Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan, aku akan mengabulkannya," ucapnya.


Masih di gedung yang sama, orang-orang berseragam hitam khas seni bela diri sedang berkumpul membentuk sebuah lingkaran yang besar.


Ditengah-tengah lingkaran itu, terdapat seseorang pria muda yang memakai sabuk Biru dengan satu garis merah ditengahnya, pria ini bernama Mazeh dan Arata yang memakai seragam yang sama tapi Arata memakai sabuk putih polos yang merupakan tingkatan terendah. Arata mendapatkan seragam ini dari pinjaman guru tadi dan sabuknya diberikan warna putih karena Arata tidak memiliki data yang sah di kelas seni bela diri ini, guru itu menduga mungkin saja Arata adalah murid baru di kelasnya.


Tingkatan disini dibedakan dengan warna sabuk, Arata diberitahukan oleh gadis tadi bahwa seni bela diri ini dibedakan menjadi 10 tingkatan yang masing-masing memiliki sabuk yang memiliki warna yang berbeda-beda pula.


Berikut tingkatan dari yang terendah ke tertinggi.



Putih polos

__ADS_1


Kuning polos


Kuning dengan satu garis hijau ditengah


Hijau polos


Hijau dengan satu garis biru ditengahnya


Biru polos


Biru dengan satu garis merah ditengahnya.


Merah polos.


Hitam polos.


Hitam dengan satu garis emas ditengahnya.



Orang-orang berseragam yang menonton membentuk lingkaran besar berteriak dengan keras.


"Hajar dia, mazeh!"


"Benar-benar, hancurkan pemula yang sombong itu!"


"Permalukan dia!"


"Ayo! Majulah!"


"Sobat! aku mengandalkan mu. Hancurkan pemula yang tidak tahu sopan santun itu,"


Kenapa ya dengan orang-orang? Apa orang tadi adalah orang yang penting disini?... Sepertinya begitu deh, nanti setelah ini minta maaf ah. Aku merasa bersalah.


Seorang remaja laki-laki yang merupakan salah seorang anggota kumpulan bela diri ini yang menjadi wasit kami berdua.


Sebelumnya.


"Aku menantang mu, bocah. Jika kamu bisa mengalahkan seorang muridku yang ditingkat tujuh, maka kamu bebas dari hukuman dan kamu akan langsung dinaikkan 3 tingkat keatas secara instan, apa kamu setuju?" Ucap dia sambil memberikan tangan kanannya, jika Arata menjabat tangannya berarti Arata setuju dengan pertaruhan ini.


"Tiga tingkat ya? Sepertinya itu menarik. Untuk sekarang terima saja lah," kata ku dalam hati.


"Jika aku kalah?"


"Kamu akan menjalani pelatihan khusus atau biasa disebut hardto selama 2 bulan penuh," ucapnya dengan senyuman mengerikan.

__ADS_1


"Setuju," ucap Arata yang langsung menjabat tangannya tanpa pikir panjang lagi hingga membuat pria itu terkejut dengan jawaban Arata, sampai saat ini tidak ada seorangpun yang berani setuju dengan penawarannya itu karena dari kabar yang beredar hardto merupakan sebuah program hukuman dan pelatihan yang dijadikan satu, seseorang yang telah masuk kedalam program bernama hardto ini tidak diperbolehkan keluar kembali sebelum bisa mendapatkan nilai yang sudah ditentukan oleh pengawasnya, kecuali ketidaksetujuan dari orang tua. Maka seorang murid itu tidak akan dipaksa kembali untuk mengikuti Hardto ini.


__ADS_2