
Di tempat ruangan yang berisikan buku-buku seperti perpustakaan kecil. Rak-rak buku perlahan-lahan memudar dan menghilang seolah-olah rak-rak dan buku-buku itu tak benar-benar pernah ada, saat ini perpustakaan kecil terlihat seperti ruangan gua biasa yang kosong tanpa ada apapun didalamnya.
Arata nyungsep, dia perlahan berdiri dan melihat-lihat sekelilingnya. Apa yang dia lihat adalah gua tetapi gua kali sangat berbeda dengan yang sebelumnya. Sekarang Arata berada di gua ice, seluruh permukaan tertutup oleh biru ice yang sangat indah tetapi juga sangat dingin. Arata berjalan seperti biasa seolah-olah dia tidak merasa kedinginan sambil mengagumi keindahan lingkungan gua ice ini. Kenapa Arata tidak merasa kedinginan? Itu sudah jelas karena sekarang dia sudah sedikit bisa menggunakan sesuatu yang namanya sihir.
"Wow! Indah sekali!" Kata Arata.
Tak lama kemudian, Arata melihat seorang pria paruh baya yang sangat ketakutan berlari kearahnya dan bertanya kepada Arata dengan wajah yang sangat ketakutan seperti baru saja melihat kematian.
"Kau datangnya darimana? Anak muda" Tanya dia.
"Dari atas" jawab Arata dengan santai sambil menunjuk keatas.
"Tamatlah sudah riwayat mu, anak muda. Sayang sekali, padahal kamu masih sangat muda tetapi harus berakhir disini. Pasti kamu juga mengincar nya ya?" kata dia dengan wajah sedih dan pasrah. Dia berkata lagi "selamat tinggal, berhati-hatilah anak muda. Semoga dewi Avrius melindunginya mu" dia pun langsung pergi meninggalkan Arata sendirian lagi.
"i-iya" jawab Arata dengan heran.
"Ada apa dengannya? Apa yang baru saja dilihatnya? Apa maksudnya berakhir disini? Apa kepalanya baru saja terbentur sesuatu? Tidak mungkin kan ada raja iblis ataupun monster yang sangat mengerikan lainnya disini kan? Lalu siapa lagi dewi Avrius? Apakah dia semacam tanaman? Kalau tidak salah ingat, di dunia ku sebelumnya ada deh tumbuhan dengan nama Avrius" Gumam Arata. Arata bingung tetapi dia masih terus melanjutkan berjalan lagi dengan santai tanpa memperdulikan perkataan bapak tadi.
Tiba-tiba ada yang menarik Arata dari dalam tanah sehingga dia masuk kedalam dan hanya terlihat kepalanya saja. Sesaat terdengar suara misterius, suara itu terdengar seperti suara seorang wanita yang entah datang darimana.
"Sepertinya kamu sangat tenang ya? Ningen" kata suara itu yang menggema.
"Hah? Apa? Kamu siapa? Apak kau adalah Dewi Avrius yang dimaksud?" Kata Arata dengan santai seolah-olah dia sedang duduk santai sambil ngopi di teras rumah.
__ADS_1
"Tidak, aku bukanlah Dewi Avrius yang kau maksud"
"Oh begitu ya, kalau begitu siapa kamu?"
"Itu tidak penting siapa aku, terlebih lagi baru kali ini, saya mendengar seseorang pria yang sangat tenang meskipun keadaannya sangat tidak diuntungkan. Manusia memang sangat sombong ya, mereka tidak tahu kapan harus merasa takut" kata suara itu.
"Takut? Kenapa aku harus takut? Apa ada sesuatu yang menakutkan disini? Kalau ada, dimanakah itu?" Arata memprovokasi suara itu dengan santai.
Arata pun keluar dari jebakan itu dengan sangat mudah semudah menaiki tangga bambu.
"Lihat? Ini sangat mudah kan? Kenapa harus takut? Ketakutan hanya dimiliki oleh yang lemah" Ejek Arata.
"Ohhh, lemah ya" kata suara itu dengan tenang. Sesaat keluarlah makhluk merah sangat kecil seperti pasir dari bawah Arata dan membuat Arata terperangkap di sebuah ruangan yang berbentuk setengah lingkaran. Arata tidak menghindarinya bukan berarti tidak bisa tetapi dia menghargai lawannya yang sudah repot-repot menyiapkan jebakan untuk dirinya.
"Entahlah, mari kita lihat saja, ningen" jawab suara itu.
Makhluk merah sangat kecil seperti pasir itu perlahan mempersempit ruang terbuka Arata. Ketika makhluk merah kecil hampir menyentuh tubuh Arata, tiba-tiba makhluk merah kecil itu terpental seperti terkena angin yang sangat kencang hingga membuat makhluk merah kecil ini lenyap tak tersisa.
"Sekarang apa?" Tanya Arata.
Makhluk misterius itu semakin marah, dia pun menembakkan beberapa panah kecil (panah bius di ch 2) dengan sangat cepat ke Arata dari berbagai arah tetapi 5 cm sebelum mengenai Arata, peluru itu terjatuh ke lantai seperti ada gravitasi yang menarik peluru-peluru itu dengan kuat. Tentu saja ini adalah ulah Arata.
Arata melihat peluru-peluru itu dibawahnya dan berkata "oh, jadi kau ya yang mengganggu duelku ya?" Arata jongkok lalu menyentuh salah satu peluru menggunakan telunjuk tangan kanan dan berkata "Magnetiva" Sesaat tubuh asli makhluk misterius yang menembakkan peluru itupun tertarik kearah Arata dengan cepat, 5 meter sebelum sampai di tempat Arata, Arata berkata dengan pelan lagi "Gravity ravu!" Makhluk misterius yang jaraknya 5 meter dari Arata pun langsung tertarik kebawah lantai gua karena gravitasi. Makhluk itu terlihat sangat tertekan dengan lantai gua.
__ADS_1
Magnetiva adalah sihir yang bisa menarik seseorang jika ada benda yang berisi mana orang yang ditarik terdapat di benda itu dan pemilik mana tidak jauh dari benda, sekitar 80 meter. Sedangkan Gravity ravu adalah sihir gravitasi yang bisa menarik sesuatu makhluk ataupun benda jika terdapat Novra, semakin banyak Novra yang dimiliki oleh makhluk atau benda yang menjadi target, maka akan semakin besar pula Novra yang harus digunakan oleh pengguna nya.
Novra sendiri adalah energi sihir yang tidak semua makhluk hidup tentu memilikinya.
Ternyata makhluk itu terlihat seperti wanita, rambut hitam panjangnya, tubuh dan lainnya sama seperti wanita yang memakai pakaian seperti daster berwarna putih. Tapi jelas, makhluk ini bukanlah manusia karena wajahnya datar, tidak ada hidung, mata, telinga, ataupun mulut. Terlebih lagi tangannya sepanjang kaki.
"Oh, jadi itu kau ya, setan aneh" kata Arata dengan santai, Arata tidak menaruh dendam pada makhluk itu tapi entah mengapa makhluk ini harus segera dia bunuh.
Arata mengangkat tangan kanannya dengan terbuka lalu membuat sihir api naraka yang berwarna hitam pekat dan sangat panas di atas telapak tangannya tanpa merapal atau komat-kamit.
Api itu dilemparkan ke makhluk itu lalu membakarnya bagaikan kertas yang terbakar, benar-benar sangat cepat hingga makhluk itu berubah menjadi butiran abu lalu berterbangan terkena angin.
Sihir api Naraka adalah sihir api yang dipelajari oleh Arata saat di perpustakaan kecil. seperti namanya api Naraka adalah api yang berwarna hitam pekat dan sangat panas, terlebih lagi api Naraka tidak akan bisa padam hanya dengan air biasa.
Ada 3 cara menurut salah satu buku di perpustakaan kecil yang dibaca Arata untuk memadamkan Api Neraka. 3 cara tersebut adalah 1. Air Heaven, 2. Holy water, 3. Dipadamkan oleh pengguna sihir api Naraka nya sendiri.
Arata tiba-tiba terjatuh dan tengkurap, itu sudah jelas karena Arata belum mampu menggunakan sihir Magnetiva dan Gravity ravu secara bersamaan yang salah dua dari sihir kuno yang dibaca di perpustakaan kecil sebelumnya, terlebih lagi Novra yang digunakan juga besar.
"Ah! Ternyata memang benar, Tubuhku belum mampu mengatasinya, untung saja efek sampingnya hanya membuatku tidak bisa bergerak meskipun aku tidak tahu harus sampai kapan begini. Sebaiknya aku tidak menggunakan kedua sihir ini dan mencoba sihir yang lain sajalah!" kata Arata.
Arata merasa sangat lelah dan dia memutuskan untuk tidur agar tubuhnya cepat kembali pulih seperti sedia kala. Karena sekarang Arata sudah bisa menggunakan sihir, Arata pun memutuskan untuk mengaktifkan sihir pelindung untuk melindungi dirinya dari serangan musuh saat dia sedang tidak sadarkan diri dan membuat sihir jebakan karena bisa saja pelindungnya dihancurkan.
"protector aktif" kata Arata dengan lemah lalu berkata lagi "sakakku aktif" sesaat pelindung dan jebakan pun telah terpasang di sekitar Arata. Arata pun tertidur tanpa khawatir lagi jika ada yang menyerangnya ketika sedang tidak sadarkan diri.
__ADS_1