Isekai : Dunia Impian

Isekai : Dunia Impian
Chapter 6 ~ kebenaran yang terungkap.


__ADS_3

Kami berdua sudah berjalan cukup lama hingga akhirnya sampai di perbatasan gua ice dengan gua bebatuan tapi ketika kami hendak pergi meninggalkan tempat gua ice, kami tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. seolah-olah ada dinding tak terlihat yang menghalangi agar kami tidak bisa keluar dari tempat gua ice ini.


Aku memastikannya sendiri dengan menyentuhnya menghubungkan tangan kanan ku, ternyata benar bahwa didepanku terdapat dinding tak terlihat.


"Apa-apaan ini?" Kataku lalu aku bertanya pada Mayumi. "Apa kamu tahu sesuatu?"


"Ya, aku sudah beberapa kali sampai sini tetapi selalu saja dinding tak terlihat ini menghalangi ku. Aku juga tidak tahu kenapa" jawab Mayumi.


"Apa kamu pernah mencoba untuk menghancurkannya?" Tanyaku.


"Ya, aku pernah melakukannya beberapa kali tetapi itu tidak pernah berhasil sama sekali. Kekuatan dinding tak terlihat ini sama seperti pelindung mu kuatnya, mungkin kekuatan dinding tak terlihat ini lebih kuat" jawab Mayumi.


"Yosh! Kalau begitu aku akan mencoba menghancurkan dinding tak terlihat sialan ini!" Aku menarik tangan kananku kebelakang dan memukulnya dengan sangat kuat. Sesaat dinding tak terlihat mulai terlihat retak-retak di beberapa bagian hingga akhirnya hancur. Aku mencoba melangkah, benar saja dinding tak terlihat hilang.


"Ayo!" Kataku.


"Y-ya" Mayumi pun mengikuti ku.


"Luar biasa kuat, aku sudah mencobanya banyak kali tetapi selalu gagal. Tapi Arata dengan sangat mudah menghancurkannya hanya satu kali percobaan" Gumam Mayumi dalam hati. Mayumi semakin mengagumi Arata, dia sangat yakin bahwa takdirnya sudah dekat.


Ketika kami sedang berjalan mencari pintu keluar tiba-tiba muncul seekor kadal coklat raksasa. Kadal raksasa itu benar-benar besar dengan tinggi sekitar 15 meter, kaki berotot tebal, dan ditutupi dengan sisik coklat kehitam-hitaman yang terlihat tajam.


"Mayumi, tunjukkan kekuatan mu padaku dengan menyingkirkan kadal raksasa ini" aku menyuruh Mayumi begitu karena aku penasaran kekuatan apa yang dimiliki Mayumi sehingga bisa bertahan di gua ini ice ini dalam waktu yang sangat lama.


"Baiklah" kata Mayumi. Dia berjalan perlahan mendekati kadal itu lalu mengangkat tangan kanannya setinggi dada lalu membukanya.


Kadal itu mengayunkan salah satu kaki depannya kearah Mayumi tetapi ketika hampir mengenainya. Mayumi memejamkan matanya dan berkata "Freeze" seketika kadal itu dan sekitarnya berubah menjadi ice biru yang indah tepat sebelum mengenai Mayumi. Ini membuktikan bahwa sihir ice yang dimiliki Mayumi sangat hebat, bahkan jika aku menggunakan sihir ice yang sama dengan Mayumi, aku sendiri tidak yakin apakah bisa aku membekukannya walaupun hanya 1 sisiknya saja.


Mayumi ambruk kebelakang tapi aku dengan sigap menangkapnya dan berkata "apa kamu baik-baik saja?"


"Y-ya, aku hanya lapar. Entah sudah berapa lama aku belum makan, mungkin sudah beberapa tahun" Mayumi pun pingsan.


"Hebat juga kamu, bisa tidak makan beberapa tahun. Aku yang beberapa hari aja sudah sekarat dan hampir mati kelaparan" kata Arata .


Beberapa jam kemudian.


Akhirnya Mayumi sadar, Mayumi perlahan bangun, dia heran mengapa tiba-tiba ada selimut yang dipakainya.


"Akhirnya bangun juga kamu, ayo makan!" Kataku disampingnya yang sedang membakar daging.

__ADS_1


"Arata!" Panggil Mayumi.


"Apa?" Jawabku dengan santai.


"Kulit binatang apa ini? kamu dapat darimana?" Tanya Mayumi.


"Dari kadal yang kamu kalahkan tadi, kupikir kulitnya cukup tebal untuk dijadikan selimut jadi aku mengambilnya untuk menghangatkan tubuhmu. Tenang saja, tidak usah khawatir. Aku sudah mencucinya dengan bersih menggunakan sihir ku" aku memberikan daging ditangan kananku yang sudah matang padanya sambil berkata "ini Makanlah!" Mayumi masih begong dan diam saja hingga akhirnya aku menyadari sesuatu. "Oh begitu ya, baiklah" aku mencuil sedikit daging yang kupegang lalu menyuapinya "Aaa!" Akhirnya Mayumi pun membuka mulutnya dan memakannya, wajahnya memerah dan dia memalingkan pandangannya dari ku lalu berkata "terimakasih, daging ini enak juga"


Aku berkata secara spontan apa yang ada didalam pikiran ku ketika melihat Mayumi yang malu-malu kucing. "Cantik sekali!" aku tersadar kembali dan berkata "ah, tidak. Bukan begitu maksud ku. ini!" Kataku sambil memberikan daging yang kupegang. Mayumi menerimanya dan melihat daging itu sebentar. Mayumi pun terpikirkan untuk melakukan hal yang sama padaku.


"Selanjutnya giliranku" Mayumi memeluk lalu mendorong Arata hingga Arata terbaring. Mayumi perlahan bangun dan duduk ditubuh Arata, dia mencuil sedikit daging yang dipegang di tangan kirinya lalu menyuapinya Arata dengan tangan kanan dan berkata "Aaa!" Sambil tersenyum manis. Arata pun memakannya dengan malu-malu kucing juga.


"Sekarang kita impas" katanya masih sambil tersenyum manis.


Wajah Arata merah merona hingga Arata mengalihkan pandangannya dan berkata


"Y-ya, bisa tidak kamu menyingkir dari tubuhku?"


Mayumi pun ngeblush dan menyingkir dari tubuh Arata dengan perlahan lalu duduk didekat Arata.


"Ne!" Panggil Mayumi.


Arata masih berbaring dengan santai lalu menjawab "Apa?"


"Janji?"


"Ya, janji. Kamu kan sudah berjanji padaku bahwa tidak akan meninggalkan ku. Itu mungkin saja karena wujudku yang sempurna ini. Aku ingin kamu berjanji, bahwa kamu tidak akan meninggalkanku dan terus membawaku bersamamu kemanapun kamu pergi"


Janji? Sejak kapan aku mengatakan itu ya? Aku tidak ingat pernah mengatakannya deh. Untuk sekarang, mungkin aku jawab iya aja deh.


"Iya" jawab ku.


Mayumi pun memberitahukan kebenaran dirinya yang tiba-tiba hadir didalam ingatannya. Arata sontak terkejut, Arata duduk dan bertanya lagi untuk memastikan kebenarannya.


"Itu benar? Kamu tidak berbohong kan?"


"itulah kenyataannya, Arata" kata Mayumi.


"Ya, kamu akan terus bertarung bersamaku" kata Arata yang mencoba meyakinkan Mayumi.

__ADS_1


Mayumi terlihat senang lalu berkata "Terimakasih, maaf sudah berbohong padamu, Arata" sambil tersenyum lalu memelukku. Awalnya aku ragu untuk memeluk kembali Mayumi tapi akhirnya aku memeluk Mayumi juga.


"Ya, aku tidak mempermasalahkannya" kata Arata dengan santai.


"Pasti begitu ya, disetiap pertemuan pasti akan selalu ada perpisahan" Gumamku dalam hati.


Mayumi perlahan berubah menjadi partikel-partikel ice yang indah, memudar dan menghilang.


"Terimakasih telah menemani kehidupanku di gua yang sepi ini, meskipun sebentar tapi itu menyenangkan" kata terakhir ku padanya.


Aku pikir Mayumi adalah gadis cantik normal yang aku idam-idamkan sejak di dunia sebelumnya. Aku pikir pertemuanku dengannya adalah takdir untuk menjadi sepasang kekasih ataupun hanya sebatas teman hidup tetapi ternyata hubungan kami berdua hanya sebatas itu ya, sayang sekali. Kejadian ini hampir mirip seperti saat aku di dunia sebelumnya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, ingin kenal lebih jauh, pacaran, lalu menikah. Tetapi kenyataan tidak seindah ekspetasi. 2 gadis pertama yang kutemui di tempat dan lingkungan baru ternyata hanya mampir sebentar lalu pergi ya. Sedih amat hidup ini, tapi aku harus menerima kenyataannya. Mungkin jalan ini adalah takdir yang terbaik buatku, mungkin saja nanti akan ada Elf, half human, ataupun gadis cantik lainnya di dunia ini yang akan menemani sehidup semati.


1 bulan kemudian.


Seperti yang terlihat, saat ini aku sedang bertarung melawan sekawanan monyet bermata 8 menggunakan katana biru ice dengan tenang.


Saat kecil, Aku sering melihatnya berlatih menggunakan katana, seperti saat sedang menebas beberapa batang bambu dengan sangat mudah seperti memotong wortel menggunakan pisau saja, kupikir beberapa aksinya saat berlatih yang kulihat itu keren. Suatu hari, Aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya, apakah dia bisa mengajari ku beberapa teknik pedang yang dimilikinya. Dia langsung bilang iya dan menyetujuinya. Aku berlatih dengannya selama beberapa tahun setelah pulang sekolah, aku hanya menggunakan katana yang terbuat dari bambu saat berlatih karena kata dia terlalu berbahaya buat anak-anak usia 10 tahun.


Aku belum pernah menggunakannya bahkan menyentuh katana asli dengan bilah tajam pun belum pernah, ini pertama kalinya buatku. Ternyata menggunakan katana asli lebih menyenangkan dan bisa dengan lebih bebas mengayunkannya dibandingkan hanya katana bambu saja ya. Ini benar-benar sangat menyenangkan tetapi Monyet ini sangat banyak, mungkin jumlahnya sekitar ribuan awalnya. Nyatanya aku sudah beberapa jam bertarung melawan monyet itu menggunakan katana baru ku tetapi tidak ada tanda-tanda bahwa mereka akan segera habis. Tubuhku juga terdapat beberapa luka karena serangan monyet ini, aku tidak bisa menghindari semuanya karena jumlah mereka sangat banyak sekali.


Aku terus bertarung melawan mereka karena aku tidak sengaja lewat wilayah mereka, saat ini aku sudah sangat kelelahan, terlebih lagi aku terluka cukup parah akibat serangan mereka yang tidak dapat aku tangkis karena mereka jumlahnya terlalu banyak. Ya begitulah, tubuh manusia sangat terbatas. Sekarang aku sudah hampir mencapai batasan ku. Aku harus berpikir bagaimana caranya agar bisa lepas dari situasi ini segera mungkin. Aku juga tidak memiliki celah untuk melarikan diri, mau tidak mau aku harus membunuh mereka semua sekaligus. Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan sihir kuno lagi, sebenarnya aku tidak ingin menggunakannya lagi tetapi aku tidak memiliki pilihan lain.


Aku memasukkan katana biru ice kedalam sarung/pelindung katananya kembali dan memegang nya menggunakan tangan kiri.


Monyet itu mengepung ku dari segala sisi, aku memejamkan mata lalu berkata dengan pelan.


"Angin hancurkan!" Seketika angin yang sangat luar biasa kuat keluar dari tubuhku lalu mengenai sekawanan monyet itu hingga membuat mereka hancur berkeping-keping dan hanya menyisakan hujan darah saja disekitarku.


Tiba-tiba aku memuntahkan darah sedikit dari mulutku. Aku memegang katana menggunakan tangan kiri lalu menjatuhkan diri dan duduk karena kelelahan. Di beberapa tempat di tubuhku terdapat luka cakaran monyet tadi dan di dahi ku juga terdapat luka yang berbentuk garis ( — ) hingga mengeluarkan darah segar kebawah dan mengenai wajahku.


Aku mengusap darah diwajahku lalu berkata dengan kesal. "Cih! Monyet sialan!" Aku mencoba berdiri tetapi aku terjatuh lagi dan tengkurap. Kepalaku sangat pusing, aku menyadari bahwa keadaan ku saat ini dikarenakan aku menggunakan sihir kuno saat energi ku sudah menipis atau bisa dibilang saat sedang kelelahan.


"Hei! Mayumi. Aku menggunakanmu seperti ini tidak apa-apa kan?" Kataku sambil melihat katana biru ice disampingku. Ternyata aku melupakan sesuatu yang sangat penting padahal aku sudah membaca dan mengingat nya.


"Di gua ini terdapat katana legendaris yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang membaca buku ini. Katana legendaris ini awalnya akan berwujud gadis manusia yang sangat cantik. Barang siapa yang bisa membuatnya (wujud katana legendaris) jatuh cinta denganmu. Maka katana legendaris ini akan menjadi milikmu. Tenang saja, Jika buku ini masih ada yang membacanya itu artinya katananya masih ada dan belum menemukan pemiliknya" Catatan yang tertulis di salah satu buku yang kubaca waktu itu.


Ketika aku sedang istirahat dan hendak memejamkan mata tiba-tiba aku merasakan angin dari selatan. Aku berfirasat bahwa angin ini akan menunjukkan jalan keluarnya padaku, aku langsung berdiri dan menaruh katana legendaris yang berwarna biru ice di pinggang kiri lalu berjalan menuju selatan tanpa peduli lagi tentang tubuhku yang terluka cukup parah karena serangan sekawanan monyet tadi. Kenapa katana ice bisa berada di pinggangku, padahal tidak ada apa-apa nya? Sudah jelas itu karena sihir.


Arata tidak sadar bahwa Aura miliknya saat ini bocor kemana-mana karena kekuatan Novra (energi sihir) nya tinggal sedikit untuk menahannya secara otomatis di alam bawah sadar Arata, Aura Arata meluap-luap dan terlihat seperti api yang sangat besar seperti membakar sebuah gedung. Aura Arata yang sangat luar biasa kuat ini pun terasa sampai 4 km jauhnya. bahkan sampai membuat 1 kota panik hingga melakukan penjagaan sangat ketat diberbagai sisi. Arata tidak sadar akan hal itu, dia tetap melakukan sesuatu yang harus dilakukannya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian.


Akhirnya setelah sekian lama aku bisa mendengar suara dedaunan pohon bergesekan dan nyanyian burung yang merdu. Aku yang mendengar itupun tidak ingin percaya jika ia sudah semakin dekat dengan dunia luar. Aku berhenti dan berkata "Hm? Apa aku sudah semakin dekat ya?" aku yang tidak percaya pun mencoba menuju sumber suara.


__ADS_2